DPRD Bandar Lampung Sentil Pemkot: Banjir Jangan Cuma Diobati dengan Bansos
Bongkar Post, Bandar Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung Bersama Pemerintah Kota, menggelar Pembahasan Badang Anggaran, yang digelar di Ruang Rapat DPRD Kota Bandar Lampung, Kamis (30/07/2026).
Anggota Badan Anggaran DPRD Kota Bandar Lampung, Indra Feriza, melontarkan kritik keras ke Pemerintah Kota. Ia menyentil pola penanganan banjir yang dinilai hanya menghabiskan anggaran untuk bantuan sesaat.
Menurut Indra, penggunaan Belanja Tidak Terduga atau BTT untuk bansos korban banjir ibarat “mengobati luka, bukan menyembuhkan penyakit”. Ia menilai sudah saatnya Pemkot mengubah paradigma. Anggaran untuk beras, sembako, hingga santunan korban dinilai akan lebih efektif jika dialihkan ke proyek jangka panjang.
“Kalau misalnya ada korban meninggal lalu diberikan santunan Rp1 juta per orang, tentu itu bentuk kepedulian. Tapi yang ingin saya pertanyakan, bagaimana roadmap ke depan supaya banjir itu tidak terus terjadi?,” ujarnya.
Ia menegaskan banjir di Bandar Lampung, khususnya kawasan Kalibaru, bukan lagi persoalan musiman yang bisa disalahkan pada alam. Penyempitan sungai, sedimentasi, buruknya drainase, hingga lemahnya pengendalian tata ruang disebutnya sebagai faktor utama yang memperparah banjir.
“Jangan sampai kita setiap tahun hanya mendirikan posko bencana, membagikan sembako, lalu selesai. Yang dibutuhkan masyarakat adalah solusi supaya banjirnya tidak datang lagi,” tegasnya.
Ia menyebut bahkan pola ini sebagai “pembodohan tahunan” jika tidak segera diubah. Pemkot segera menyusun peta jalan penanganan banjir untuk 5 hingga 10 tahun ke depan.Ia mendorong percepatan program pengerukan sungai, pembangunan drainase, embung, kolam retensi, hingga penataan kawasan permukiman di bantaran sungai.
“Pembangunan infrastruktur pengendali banjir jauh lebih efektif dibandingkan terus mengeluarkan dana bantuan setiap kali terjadi bencana,” katanya.
Sementara itu, Perwakilan Pemerintah Kota Bandar Lampung, Desti Mega Putri, menjelaskan dana BTT memang khusus untuk kondisi darurat.
“Penanggulangan teknis terkait bantuan yang diberikan kepada masyarakat dilakukan menggunakan dana BTT. Untuk rencana jangka panjangnya sudah kami siapkan, termasuk kontingensi dan sebagainya,” jelasnya.
Senada, Asisten I Pemkot Bandar Lampung, Wilson Faisol, menyebut penanganan banjir tidak hanya lewat bansos. Pemkot juga mengalokasikan anggaran untuk pra-bencana, tanggap darurat, hingga rehabilitasi pasca bencana.
“Pemerintah juga menjalankan program pengerukan sungai, penanganan drainase, rehabilitasi serta rekonstruksi sarana prasarana. Jadi bukan hanya bantuan kepada korban,”
Ia juga menyebut Bandar Lampung memiliki tantangan berat karena dilintasi sekitar 33 aliran sungai. Karena itu penanganannya butuh koordinasi lintas sektor.Kritik Banggar ini menjadi sinyal keras.
DPRD menilai jika penyebab banjir tidak diselesaikan, anggaran BTT akan terus terkuras setiap musim hujan datang. Bagi Banggar, bantuan sosial memang penting sebagai bentuk kehadiran negara. Namun tanpa langkah konkret mengatasi penyebab banjir, pola ini dikhawatirkan hanya jadi rutinitas tahunan yang menghabiskan anggaran.(WB)







