Diteriaki “Pengkhianat”, Budiman Sudjatmiko Dievakuasi dari Diskusi Kabinet Prabowo di UGM

Diteriaki “Pengkhianat”, Budiman Sudjatmiko Dievakuasi dari Diskusi Kabinet Prabowo di UGM

 

Bacaan Lainnya

Bongkar Post | SLEMAN — Forum diskusi publik bertajuk Kopdar yang menghadirkan sejumlah pejabat Kabinet Prabowo-Gibran di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM berakhir ricuh pada Senin malam, 15 Juni 2026. Mantan aktivis reformasi yang kini menjabat Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, menjadi sasaran amuk verbal mahasiswa hingga harus dievakuasi keluar gedung melalui pintu belakang.

Kericuhan bermula ketika Budiman tengah memaparkan materi mengenai sikap politik Presiden Prabowo Subianto yang disebut menghormati perbedaan pendapat. Dalam paparannya, ia menyinggung nama mantan Ketua BEM UGM periode 2025–2026, Tiyo Ardianto, yang dikenal vokal mengkritik pemerintah.

Budiman menyatakan bahwa Presiden telah menginstruksikan agar tidak ada pihak yang melakukan manuver ataupun mencelakai Tiyo. Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari ratusan mahasiswa yang memadati ruang diskusi.

Suasana semakin memanas ketika suara sirine terdengar di dalam ruangan dan puluhan mahasiswa merangsek naik ke atas panggung. Massa membentangkan sejumlah spanduk bertuliskan “UGM Menolak Pengkhianat Reformasi” dan “UGM Menolak Penjilat Rezim”, sembari meneriakkan kata “pengkhianat” secara berulang yang ditujukan kepada Budiman.

Aksi saling dorong dan pelemparan gelas air mineral sempat terjadi di area panggung. Situasi yang semakin tidak kondusif membuat aparat keamanan segera mengevakuasi Budiman dari lokasi acara. Setelah dievakuasi, keberadaan Budiman sempat dipertanyakan oleh massa yang menuntut dialog terbuka secara langsung.

Mahasiswa menilai kehadiran para pejabat kabinet untuk membahas Pancasila bertolak belakang dengan kondisi yang mereka rasakan di lapangan. Salah satu perwakilan mahasiswa, Mesa, menyebut aksi tersebut merupakan akumulasi kekecewaan terhadap pemerintah yang dinilai anti-kritik. Ia juga menyoroti penggunaan anggaran negara untuk program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang dinilai semakin berat.

Sementara Budiman memilih meninggalkan lokasi, dua pejabat kabinet lainnya, yakni Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, tetap bertahan. Keduanya sempat menemui mahasiswa dan duduk bersila di atas aspal di kawasan timur Bundaran UGM untuk melanjutkan diskusi secara spontan.

Namun, dialog di luar ruangan itu tetap berlangsung tegang. Situasi bahkan berujung pada aksi kejar-kejaran sebelum kedua pejabat tersebut akhirnya dievakuasi menggunakan mobil patroli kepolisian.

Secara historis, penolakan sebagian mahasiswa terhadap Budiman Sudjatmiko berangkat dari rekam jejak politiknya. Budiman dikenal sebagai tokoh sentral sekaligus mantan Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang pernah dipenjara pada era Orde Baru karena konsistensinya menentang pemerintahan Soeharto.

Langkah politik Budiman yang kemudian bergabung ke dalam lingkaran kekuasaan Presiden Prabowo Subianto dinilai oleh sebagian elemen mahasiswa UGM sebagai bentuk kompromi politik. Mereka menilai langkah tersebut bertentangan dengan nilai-nilai perjuangan reformasi 1998 yang selama ini melekat pada sosok Budiman.(*)

Pos terkait