Foto. Istimewa
Bongkar Post, BANDAR LAMPUNG — Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Bandar Lampung kembali mendapat sorotan tajam publik.
Berdasarkan pantauan di lapangan, ternyata dugaan penjara lebih berpihak bagi penjahat berduit benar. Hukum bisa diperjualbelikan.
Kasus pengendalian jaringan narkoba dari dalam sel yang viral lewat bukti video call ‘Jawa’ dan ‘Bramsyah’ bukan sekadar kelalaian. Ini adalah sistem bisnis kejahatan yang berjalan rapi dan dilindungi. Ribuan suara netizen dan kesaksian mantan narapidana membuktikan, Lapas Rajabasa sudah lama berubah fungsi menjadi kerajaan para bandar, bukan tempat perbaikan perilaku.
Beberapa Narsum dari medsos beredar.
“Lapas Rajabasa itu istana bagi koruptor dan napi besar. Kalau punya uang, hidup mewah di dalam, lebih enak dari di luar!” — warganet inisial MF.
“Saya dengar langsung dari mantan penghuni: Semuanya ada harganya. Mau pakai HP? Bayar. Mau makan enak? Bayar. Mau berobat? Bayar. Kalau miskin? Diperlakukan seperti sampah, bukan manusia. Ini bukan dugaan, ini fakta yang sudah berjalan bertahun-tahun!” — warganet inisial TS
“HP bebas dipakai, saya sendiri pernah mengalaminya. Yang paling keparat justru aparatnya, merekalah yang jadi bandar pelindung!” — Warga inisial F.
“Ini bukan kelalaian! Ini terorganisir! Bagaimana mungkin barang selundupan, uang, dan alat komunikasi masuk tanpa izin petugas? Bagaimana mereka bisa mengatur jaringan sampai ke luar provinsi? Pasti ada yang menjaga dan membiarkan!” serunya.
Miris, sebelumnya Kalapas Ike Rahmawati perah berpidato soal kewaspadaan tinggi dan integritas.

Penelusuran awak media menemukan, bahwa ada orang kepercayaan inisial O diduga bebas masuk membawa uang setoran dan paket sabu dalam jumlah besar. Dua bandar itu leluasa menelepon, video call, bahkan memamerkan tumpukan barang haram seolah tidak ada yang mengawasi.
Ketika awak media mengkonfirmasi ke pihak Lapas, justru mereka meminta bukti kemudian terkesan menghindar alias tak memberi jawaban atau klarifikasi.
(Redaksi)







