Beginilah petikan aksi panggung ekspresif Coconut Treez ber-jamming ria bareng pengunjung panggung utama Pekan Raya Lampung PRL 2024, di Lapangan PKOR Wayhalim Bandarlampung, Sabtu (25/5/2024). Foto dibidik pukul 22.03 WIB. | Muzzamil
Bongkarpost.co.id
BANDARLAMPUNG – “Welcome to my paradise. Where this sky so blue. Where the sunshine so bright. Welcome to my paradise.
Where you can be free. Where the party never ending..,” refrain hits reggae luar kepala remaja 2000-an ini menggema, tepat pukul 21.55 Waktu Indonesia Barat, di pekan raya.
Grup band reggae asal Indonesia legendaris dua dasawarsa, dirian mendiang eks vokalis Steven Nugraha Kaligis tahun 2005, bersama personil awal gitaris A. Ray Daulay dan Teguh Wicaksono, bassist Rival Himran, keyboardist Iwan, perkusi “Opa” Tedy Wardhana, dan drummer Aci, Coconut Treez (sebelumnya Steven & Coconut Treez) hadir di Lampung, di panggung Pekan Raya Lampung (PRL) 2024.
Coconut Treez, nama berpaten sepeninggal Steven Nugraha Kaligis yang telah nyeletuk sarankan penggantian nama grup ini dengan menghilangkan kata nama dirinya: Steven pada 2017 silam tersebut, tampil sebagai bintang tamu panggung utama PRL 2024, hari keempat, di Lapangan PKOR Wayhalim Bandarlampung, Sabtu (25/5/2024) malam.
Pengunjung penonton konser, ribuan. Ada, yang larut hentak joget ska reggae, ber-pogo dance, busananya fesyenabel ala gaya hidup ska mania; rambut kelimis, berpakaian rapi; ada pula yang fokus ber-jamming ria bareng sejumlah rekan satu gengnya.
Seorang penonton wanita bahkan kedapatan histeris tiap kali Coconut Treez sesaat hendak mengusaikan lagu demi lagu. Histeria si gadis, seperti hendak mengatakan, dirinya tak ingin kebersamaan nikmati alun lagu, hentak drum dan performansi idola, begitu saja berlalu.
Entahlah, gadis manis itu tidak atau tahu. Syahdan, vokalis grup reggae legendaris Toots and the Maytals, Toots Hibbert yang wafat 11 September 2020 di usia 77, notabene dikenal dikenang sebagai salah satu orang yang pertama kali mempopulerkan reggae era 60-an, antara lain lewat lagu seperti”Pressure Drop”, “Monkey Man”, dan”Funky Kingston”. Dan, lewat lagu Do the Reggay rilisan 1968, Toots Hibbert bahkan mengklaim diri sebagai penemu istilah reggae, aliran asal Jamaika ini.
Dan, yang mengejutkannya tetapi kemudian segera termaklumi, lantaran saat grup yang tengah manggung di hadapannya Sabtu malam mulai dikenal publik reggae Tanah Air, mereka para penonton zilenial diketahui baru beberapa tahun lahir, tak sedikit dari mereka yang tak mengetahui penyebab pasti Tepeng, sapaan karib Steven Nugraha Kaligis, tak lagi membersamai grup ini.
“Inna Lillahi. Sumpah, suer, saya tahunya masih ada [masih hidup, red],” sahut spontan Ari, pengunjung, demi mengetahui Tepeng telah tiada, wafat karena gagal ginjal yang empat tahun diidapnya, hingga akhirnya doi menyerah, berpulang 22 Juni 2021 pagi di RS Medika, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten usai sempat pula terserang COVID-19 dan telah dinyatakan negatif, serta dimakamkan di TPU Utan Kayu, Jakarta Timur.
Mendengar utuh hingga bait paling akhir tembang hits “Welcome To My Paradise”, mengingatkan pula pada beramai-ramainya pengamat musik Tanah Air memuji album pertama Steven & Coconut Treez di 2005 itu: The Other Side.
Dimana, hits “Welcome To My Paradise” jadi sedemikian populer kemudian, dan dianggap mampu bangkitkan lagi ghirah genre reggae di Indonesia usai terakhir lewat “Anak Pantai” debutan mendiang Imanez, medio 1994 silam.
Steven & Coconut Treez, lalu menvakumkan diri dari blantika musik Indonesia, 2009: beberapa personil ingin solo karir; usai menelurkan album The Other Side (2005), Easy Going (2006), Good Atmosphere (2008), pun sempat hadir lagi dengan nama Steven Jam mainkan konsep solo merilis album Feel The Vibration (2010), dan kembali dari vakum dengan mendaur ulang singel lama album The Other Side dan aransemen ulang “Kembali” versi akustik pada 2019.
Biar tak lupa, Steven & Coconut Treez, band peraih tiga kali penghargaan AMI Awards 2008 kategori karya produksi Reggae/SKA/Rocksteady Terbaik lewat hits Lagu Santai ini, mengeluarkan singel baru “Fallin”, akhir 2019.
Kini, dengan empat personil tersisa, gitaris cum vokalis Teguh Wicaksono, bassist Rival Himran, keyboardist Iwan, dan drummer Aci, Coconut Treez sukses menghentak Lampung.
Sesaat Coconut Treez undur diri dari atas panggung usai mengajak penonton berfoto bersama seselesainya lagu penutup: Lagu Santai dinyanyikan, sejumlah penonton yang membawa serta satu buah syal rajut wol, dan satu buah bendera Palestina, bahkan sempat diapresiasi Coconut Treez dengan teriakkan “Free Palestine!”, menjawab keroyokan.
“[Apa perasaan kamu dengan Coconut Treez] mantap, mantap!” sahut seorang dari mereka, disahuti setengah memekik Free Palestine! oleh beberapa rekannya. “[Pengen Coconut Treez tampil lagi gak Pekan Raya Lampung tahun depan?] pengen…!” koor mereka.
Beda geng, kali ini juga masih remaja, bertiga, salah satunya, berambut kribo, menyahuti berondong tanya hanya dengan satu kata geng sebelumnya, “mantap, mantap,” dan sembari pewarta fokus pada rambutnya, rekan sebelahnya nyeletuk request. Pekan Raya Lampung harus ada reggae-nya,” timpal dia.
Beda lagi, Nando, jubir, bareng tiga rekan, senada, mengaku puas dengan suguhan performansi Coconut Treez. Ujar dia ditanya pesan buat penyelenggara PRL 2024, “bagus, acaranya bagus, mantap, [dan selain undang Coconut Treez lagi tahun depan], undang Dewa,” gelaknya diacungi jempol dua rekan pria, satu rekan wanita mereka pun tersipu.
Sebelum menuju area konser, sekira sejam lamanya, pewarta coba menelisik dampak positif dari dipindahkannya tenda sarnavil tempat loket Ticket Box PRL 2024 dari area gerbang utama PKOR Wayhalim ini, ke tepi area bundaran.
Paling terasa, relatif terurainya penumbukan antrian pengunjung di area loket. Juga, lalu lalang pengunjung berjalan kaki dari gerbang hingga area enam koridor pendek Scanning Gate namanya, filter terakhir bagi pengunjung agar bisa melenggang masuk kawasan PKOR Wayhalim ini, dengan semakin tertib, semakin aman dan nyaman. Dan ini terbukti. Grand Modern Indonesia, penyelenggara, tanggap.
Seputaran layanan reservasi tiket on the spot, sejumlah keluhan masihlah ada. “[Kakak, masih punya kesulitan tersendiri saat pesan tiket?] Masih ya, iya, sulit. [Sulitnya gimana?] Ya kayak dioper-oper gitu, yang situ abis, pindah sana, gitu,” sahut satu pengunjung pria, rupanya usai dia dan rekan wanitanya harus pindah loket Ticket Box. Dipancing, ada tidak keinginan borong tiket sekaligus sampai hari terakhir, sejoli mengaku kehadirannya ke arena PRL Sabtu malam, kunjungan pertama.
Diketahui, penyelenggara menyediakan sedikitnya lima loket Ticket Box, dua di Gate Selatan area Bundaran PKOR Wayhalim, dua di Gate Utara area gerbang keluar masuk PKOR Wayhalim ke Jl Soekarno-Hatta, dan satu depan Anjungan Kota Bandarlampung.
Penasaran tanya yang lain, “[Ada kesulitan tersendiri Kakak, saat pesan tiketnya?] “Gak ada, aman,” sahut pengunjung pria lainnya, berkaos hitam ditemani rekan wanitanya. “[Pesan tiket untuk hari ini aja atau sampai dengan 10 Juni nanti?] Kayaknya yang tanggal 9 Juni. Iya,” si kakak tersenyum lebar, serasa ketahuan konser Tipe-X yang dia incar.
Mereka secara acak, pewarta cegati sesaat usai menerima lembar tiket lantas berlalu menuju Scanning Gate. “Iya gratis, oh, gitu. Baru tahu tadi, langsung [saat pesan tiket di loket],” sahut ibu muda hijabers gandeng putra kecilnya sekitar 4-5 tahun bertinggi badan dibawah 1 meter yang berdasarkan kebijakan penyelenggara digratiskan tiket masuk, selain pula para lanjut usia (lansia), berlaku satu tiket satu kali masuk.
Biar adil, panteng mata di area enam koridor pendek area akses keluar pengunjung, di lajur kanan area Scanning Gate depan Bundaran PKOR Wayhalim ini, mendapati sejumlah pengunjung yang mengaku juga bertandang ke anjungan pemerintah daerah.
“[Ada stan kabupaten/kota yang bapak kunjungi?] Ada. Stan [Anjungan] Kabupaten Lampung Selatan, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian [Provinsi Lampung], [yang paling bagus paling berkesan menurut bapak?] Yang paling berkesan itu, Dinas Perkebunan, ya. [apa itu, ada yang spesifik paling berkesan di sana?] Ada, yang spesifik, dia menampilkan hasil-hasil perkebunan [daerah Lampung],” kesan seorang bapak berbaju merah, sang istri di sebelah setia menggamit lengannya.
“Zahwa pak. [Ke stan anjungan mana aja?] Krui [Anjungan Kabupaten Pesisir Barat]. Krui, bagus-bagus. [Kenapa, asal dari sana, orang tua kerja di sana?] Mmm, nggak sih, kayak tertarik aja soalnya kayak banyak gitu kan Tapis-Tapisnya. [Kalau spot-spot wisata, di sana kan ada Tanjung Setia, ada…] Saya pernah ke Tanjung Setia. Iya,” sahut Zahwa, mahasiswi Institut Teknologi Sumatera (Itera) berparas manis, seputar kesan kunjungannya.
Terakhir, seorang ibu hijabers marun bareng putrinyi, mengaku juga mengunjungi stan Anjungan Kabupaten Lampung Selatan. Ia asal sana. Ditanya hal menarik yang buatnyi berkesan di anjungan tersebut, “Apa ya, mm, banyak lah,” sahut sang ibu malu-malu, usai menolak menyebutkan nama pun berlalu.
Bagi pengunjung tetap pengunjung setia apa pun perhelatan publik di PKOR Wayhalim, sepertinya sudah barang tentu mengenali sesosok pria paruh baya pemetik biola dan berbekal sebuah biola, speaker aktif stand beroda, headset bermikrofon ala Blackpink bila tengah konser, dan sebulat wadah plastik penampung koin pemberian sesiapa pun warga pengunjung baik hati seikhlasnya, demi mendengar petik syahdu dawai biola si bapak tua, yang kadang sembilu tersayat dengarnya.
Seperti pada Sabtu malam itu, sebelum kaki gontai menuju area konser Coconut Treez. Disimak barang sejumlah menit, “si bapak pengamen biola PKOR” ini mengalunkan instrumentalia lagu religi Salawat Jibril.
“Shallallahu ala Muhammad. Sallallahu alaihi Wasallam…,” merinding demi mendengarnya. Petikan biola si bapak, mengangguk tatkala pewarta pamit berlalu. Salawat Jibril, salah satu yang amat dianjurkan, diyakini sebagai penarik rezeki bagi yang mengamalkannya.
Jutaan cerita, di pekan raya. Wajar orang banyak merindukannya. (Muzzamil)







