Panorama pemikat cekrek, pemikat melek, pemikat kocek ini, pemandangan alami kebun tebu terhampar kala musim berbunga tiap April, destinasi wisata kebun tebu rakyat Pabrik Gula Madukismo milik warga Dusun Kendu Desa Jatimulyo Kecamatan Giri Mulyo, Kulon Progo, DI Yogyakarta. | Instagram/sabrinaazizaah/Muzzamil
Bongkar Post
BANDARLAMPUNG – Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat, Lampung merupakan provinsi pemilik perkebunan tebu terluas kedua di Indonesia di bawah Jawa Timur, dari 12 provinsi pemilik perkebunan tebu se-Indonesia dengan total luasan 504,8 ribu hektare (ha) pada 2023, alias bertambah 14,8 ribu ha dari 490 ribu ha tahun 2022.
Nyaris 50 persen Jawa Timur, provinsi dengan kebun tebu terluas ini memiliki 227 ribu ha, disusul Lampung seluas 141,2 ribu ha, Jawa Tengah 48,8 ribu ha, Sumatera Selatan 31,6 ribu ha, Jawa Barat 13,9 ribu ha, Sulawesi Selatan 12,9 ribu ha, Gorontalo 9,8 ribu ha, Sumatera Utara 7,6 ribu ha, NTB 3,8 ribu ha, Sulawesi Tenggara 3,1 ribu ha, NTT 2,6 ribu ha, dan DI Yogyakarta 2,3 ribu ha.
April lalu, orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo menunjuk Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, satu-satunya komandan kementerian Kabinet Indonesia Maju asal Papua, sebagai Ketua Satgas Percepatan Swasembada Gula dan Bioetanol, untuk mengembangkan 2 juta ha lahan baru kebun tebu di Kabupaten Merauke, dengan bibit gula tebu khusus dipesan dari Australia, dan nantinya tata kelola pengembangannya diguyub oleh BUMN-swasta. Bahlil bilang, pemerintah buka kran seluasnya, pengusaha dan investor kebun tebu plus industrinya.
Andai kelak 2 juta ha kebun tebu Merauke ini “jadi barang”, wow luasan areal pertanaman kebun tebu kita bakal menjadi 2,5 juta ha.
Lama dong? Tergantung, ikhtiar. Yang pasti, tanaman tebu, asalnya kemungkinan dari New Guinea, dan gula yang dikenal orang-orang di Polinesia ribuan tahun lalu dari tanaman itu, dimana di 510 Sebelum Masehi tanaman ini tersebar ke pesisir India dibawa Raja Darius dari Persia, lalu diolah menjadi kristal kini disebut gula, pada era Dinasti Gupta.
Syahdan masa itu, batang tebu dijadikan rakit melintasi samudera, menyebar ke Kepulauan Pasifik lalu ke Nusantara. Hingga, ke India, dimana batang tebu diolah jadi kristal-kristal yang disebut ‘saccharum’ oleh orang Arab —lantas diserap bahasa Inggris jadi ‘sugar’.
Masuk Indonesia? Ya itu tadi disebut, sempat menyebar pula di Nusantara, diperkenalkan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda circa abad 17 lewat sistem Culture Stelsel (tanam paksa), dan secara industri pergulaan mulai dikembangkan kolonialisme Belanda ditandai dengan didirikannya beberapa pabrik gula di Jawa seperti pabrik gula Cepiring tahun 1835.
Dan sejarah tebu sejarah gula mencatat, era penjajahan Belanda ini, Indonesia menjadi eksportir gula terbesar nomor dua di dunia circa tahun 1930, tak lepas dari peran petani tebu Indonesia, tak lepas dari 185 pabrik gula yang berproduksi dari areal tanaman tebu.
Jadi, andai ada yang bertanya, zaman Nabi Muhammad SAW, belum ada gula olahan seperti kita kenal sekarang? Belum, bestie. Lebih ke: madu. Ya, madu sang pemanis alami ini disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah lantaran berkhasiat menyembuhkan.
Terkait, ekspos rencana pembangunan 2 juta ha kebun tebu Merauke di atas, agar dapat tereksekusi meski rezim berganti, perlu pula jadi alarm pengingat; masa itu semata ulah beda penguasa beda selera, disaripatikan dari tanggapan legislator PKS dapil Sulsel II, anggota Komisi IV cum Badan Anggaran DPR 2014-2019 Andi Akmal Pasluddin, merespons rencana pemerintah via Kementerian Pertanian membangun pabrik gula yang saat itu menurut Menteri Pertanian Kabinet Kerja (saat itu) Andi Amran Sulaiman diklaim bakal jadi terbesar di Indonesia: akan dibangun di Bombana, Sulawesi Tenggara.
Apresiatif, Akmal saat itu sekaligus berharap rencana bukan isapan jempol semata, belajar dari tradisi buruk pemerintah selama ini yang hanya memiliki rencana membangun pabrik gula terbesar di Indonesia, kala itu dia belajar dari mangkraknya pembangunan Pabrik Gula ‘Glenmore’ di Kabupaten Banyuwangi mulai dibangun Desember 2012 target selesai Juni 2015, nun hingga Oktober 2017 “namanya ada, namun hasil produksi gulanya selalu angka nol,” terang Akmal, 3 Oktober 2017.
Ingatkan pemerintah: pembangunan pabrik gula skala besar, biasanya perlu waktu dua periode pemerintahan, dari itu dia minta matangkan perencanaan, dari infrastruktur pembangunan pabrik hingga lahan tebu penyuplai bahan baku hadapi masa giling.
Akmal saat itu bilang, Indonesia sangat butuh pabrik gula berkapasitas produksi 8 ribu ton per hari. Dimana, dengan kapasitas segitu, bila masa giling 150 hari per tahun diperlukan 900 ribu ton – 1,2 juta ton tebu, sebanding luas tanam 9-10 ribu ha.
“Pembangunan pabrik baru saat ini memang sangat mendesak. Akhir-akhir ini gula petani buruk kemungkinan besar sangat dipengaruhi kualitas pabrik zaman Belanda. Selain itu, kapasitas pabrik gula kebanyakan tidak besar. Yang terlihat sangat efisien pabrik gula saat ini ada pada pabrik gula Kebon Agung di Jawa Timur,” beber Akmal saat itu, berharap pembangunan pabrik gula baru yang di-plan itu harus berkapasitas besar, agar masalah efisiensi dari persoalan rendemen sampai mempengaruhi biaya produksi gula dapat diatasi. Saat itu, info Akmal, rendemen terbaik berkisar 8 persen bahkan di Jawa Barat rendemen tebu jadi gula kurang dari 7 persen.
“Kebutuhan bangun pabrik gula yang baik akan habiskan dana Rp1,5 triliun sampai Rp1,9 triliun. Bila Mentan dapat meyakinkan investor berinvestasi ke pabrik gula hingga Rp4 triliun, akan sangat baik pada kelancaran eksekusi rencana pembangunan pabrik terbesar di Indonesia Timur. Saya harap ucapan Mentan benar, dapat merealisasikan pembangunan pabrik gula terbesar di Indonesia. Karena tak mudah menjaga kesinambungan program pemerintah satu periode dengan periode selanjutnya. Salah satu penyebab kegagalan pabrik gula Glenmore, ketika pergantian kepemimpinan nasional, pembangunan pabrik gula belum selesai,” refleksinya panjang lebar.
Lantas jika ada yang gembar-gembor sebut Indonesia hebat, macan Asia di industri tebu olahan plus industri gula dunia, beritahu untuk diralat, sebab jika merujuk data Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS), United States Department of Agriculture (USDA), dari total 175,3 juta metrik ton (MT) volume produksi gula mentah global musim panen 2022/2023, Indonesia tak masuk top ten negara produsen gula mentah terbesar dunia berdasar musim panen masing-masing negara kurun itu.
Ya kebetulan mirip banget kalau dilafalkan bareng, Brasil berhasil mempertahankan status sebagai negara penghasil gula mentah terbesar dunia dengan produksi 38,05 juta MT setara 21,7 persen total produksi global.
Disusul berturut-turut, India di posisi kedua dengan 32 juta MT, Uni Eropa dengan 14,71 juta MT, Thailand 11,06 juta MT, balapan China 8,96 juta MT dan AS 8,39 juta MT, disusul Pakistan 6,86 juta MT, Rusia 6,1 juta MT, Meksiko 5,54 juta MT, Australia 4,2 juta MT.
Indonesia? Di peringkat 13 dunia, dengan total volume produksi 2,4 juta MT kurun itu. Tetapi, Indonesia peringkat keenam dunia, negara dengan konsumsi gula mentah terbanyak pada 2022/2023, dengan volume 7,8 juta MT, alias sekitar 3 kali lipat dari hasil produksinya.
Data USDA itu merujuk musim panen gula mentah 2022/2023 secara global dengan mengacu ke periode 12 bulan sekurun Mei 2022-April 2023, termasuk Indonesia. Namun, lantaran ada pola panen berbeda, ada variasi di beberapa negara.
Brasil, musim panen kurun itu mengacu periode 12 bulan April 2022-Maret 2023. India, Uni Eropa, China, AS, mengacu ke periode 12 bulan (Oktober 2022-September 2023). Thailand, Desember 2022-November 2023.
Data berbeda, pengkinian 2024, produsen sekaligus konsumen terbesar dunia kini: India.
Bicara kapasitas produksi nasional, kulik keterangan Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Aris Toharisman, bos BUMN pergulaan ini soal aksi korporasinya usai resmi spin-off 10 Oktober 2022, guna memenuhi target produksi gula penugasan pemerintah, sebesar 1 juta ton pada 2023, naik dibanding produksi dari 36 Pabrik Gula (PG) kelolaan tahun 2022 sebanyak 850 ribu ton gula.
17 April 2023, Aris menyebut dari produksi itu dibutuhkan produksi tebu 17,3 juta ton atau naik dari produksi 2022: 13,7 juta ton. Pasca spin off, SGN berperan sangat besar dan jadi salah satu program strategis nasional baik sisi pangan, juga energi dalam hal ini bioetanol.
SGN dipatok target nasional swasembada gula langsung (konsumsi) 2028, swasembada gula total (konsumsi+industri) pada 2030.
Pada 2030, target SGN pada produktivitas tebu 92 ton per ha, dengan rendemen 8,5 persen, produksi gula 2,2-2,4 juta ton plus produksi swasta 1,5-2 juta ton (total 4,9 juta ton), “dan itu sudah melebihi kebutuhan gula nasional,” kirka Aris, beber strategi SGN capai target dengan fokus pengembangan lahan HGU berproyeksi luasan terkelola 670 ribu ha dan jumlah tebu giling 62 juta ton pada 2030.
Dan, fokus penambahan lahan ragam sumber, dari lahan HGU PTPN Group, lahan non tebu misal eks lahan kakao, lahan BUMN Perhutani (program agroforestri, perhutanan sosial akan dimanfaatkan petani tebu rakyat). 2022, total lahan terkelola SGN 154 ribu-160 ribu ha, dan naik jadi 175 ribu ha per April 2023.
Lantas, antara masih tergolong rendahnya tingkat volume produksi gula mentah kita, Indonesia (13 dunia), dengan lumayannya tingkat volume konsumsi nasional gula warga RI (ke-6 dunia), meski rujuk data notabene menurun bahkan 2023 jadi rekor terendah lima tahun terakhir.
Adakah korelasi, dalam kaitannya dengan tingginya kegemaran masyarakat Indonesia mengonsumsi makanan dan minuman manis? Sweet food sweet drink, suit-suit, aloha?
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat, rata-rata konsumsi gula pasir orang Indonesia pada 2023 sebanyak 5,8 kilogram (Kg) per kapita per tahun. Ini, alias turun 8,2 persen dibanding 2022 (year-on-year/yoy), menjadi rekor terendah dalam lima tahun terakhir.
Kemudian, total kebutuhan gula pasir untuk konsumsi rumah tangga nasional pada 2023 mencapai 1,61 juta ton per tahun, turun 7,3 persen (yoy). Bapanas mencatat, rerata rakyat Indonesia dapat asupan kalori dari konsumsi gula sekitar 67 kilokalori (kkal) perkapita perhari pada 2023 atau 3,2 persen dari total asupan kalori harian masyarakat yang rerata 2.088 kkal per kapita per hari.
Seterusnya, merujuk data laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, naga-naganya sebagian besar masyarakat Indonesia gemar mengonsumsi makanan dan minuman manis.
Makanan manis dimaksud oleh laporan ini, makanan dengan kandungan gula yang tinggi dan lengket. Lalu, minuman manis dimaksud, yang memiliki kandungan gula tinggi.
Dilaporkan, dari 56,2 persen responden survei mengonsumsi makanan manis sebanyak 1-6 kali dalam satu minggu. Ada 33,7 persen lainnya mengonsumsi makanan manis lebih dari satu kali per hari. 10,1 persen responden mengonsumsi kurang dari 3 kali per bulan.
Beda dengan kebiasaan konsumsi makanan manis, frekuensi konsumsi minuman manis orang Indonesia lebih tinggi. Ada 47,7 persen responden mengonsumsi minuman manis lebih dari 1 kali sehari, 43,3 persen responden mengonsumsi 1-6 kali per minggu, 9,2 persen mengonsumsi kurang dari 3 kali per bulan.
Petuah bijak Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Dr Eva Susanti menyebut, konsumsi makanan dan minuman manis akan merusak kesehatan tubuh perlahan-lahan. Konsumsi gula yang terus menerus akan menyebabkan resistensi insulin, dimana saat tubuh kita tidak bisa gunakan insulin secara efektif maka berkemungkinan berpotensi terkena risiko penyakit kencing manis (diabetes melitus), bila tak diimbangi aktivitas fisik.
Konsumsi gula berlebih juga jadi salah satu faktor risiko seseorang terjangkit tekanan darah tinggi (hipertensi). “Karena itu, kami menyarankan masyarakat mengonsumsi gula harian sesuai anjuran WHO (World Health Organization, Badan Kesehatan Dunia PBB), yakni 10 persen dari total energi setara 50 gram per hari,” pesan Eva di situs Kemenkes.
Wah Bu Eva, padahal infonya segelas sari tebu dengan ukuran 300 mililiter memiliki setidaknya 111 kalori, lho ya. Rendah kalori.
Data Kemenkes, pada 2023 terdapat 47,5 persen penduduk Indonesia berusia 3 tahun ke atas yang biasa mengonsumsi minuman manis ≥1 kali per hari.
Dipecah per provinsi, proporsi penduduk acap mengonsumsi minuman manis ini 1 kali per hari atau lebih di 38 provinsi pada 2023, terbanyak 60,3 persen di Jawa Tengah.
Disusul, Kalimantan Selatan 60 persen, DIY 57,9 persen, Maluku Utara 54,0 persen, Sumatera Selatan 53,3 persen, Papua Barat 52,4 persen, Kalimantan Tengah 52,2 persen, Kalimantan Utara 51,0 persen, Maluku 50,6 persen, Papua Barat Daya 49,8 persen, dan Lampung 49,6 persen. Lampung urutan 11.
Berikut, Sulawesi Barat 49,0 persen, Jawa Barat 48,9 persen, Aceh 48,4 persen, Sumatera Barat 48,4 persen, Papua 47,0 persen, Papua Pegunungan 46,8 persen, Riau 46,5 persen, Sulawesi Selatan 46,5 persen, DKI Jakarta 45,3 persen, Kalimantan Barat 45,0 persen, NTT 44,8 persen, Banten 44,3 persen, dan Sulawesi Utara 44,1 persen.
Berikut, Sumatera Utara 43,7 persen, Sulawesi Tenggara 43,0 persen, Sulawesi Tengah 42,9 persen, Kalimantan Timur 42,5 persen, Bengkulu 42,2 persen, Jambi 42,1 persen, Jawa Timur 41,4 persen, Gorontalo 40,7 persen, Papua Selatan 40,2 persen, NTB 38,9 persen, Kepulauan Riau 37,3 persen, Bangka Belitung 33,8 persen, Papua Tengah 33,0 persen, Bali 19,2 persen.
Ada pun, seputar tebu, salah satu komoditi perkebunan tanaman semusim penghasil dan bahan baku utama gula yang dalam sejarah perkebunan tebunya berkembang pesat di Tanah Air semasa pemerintahan Orde Baru Soeharto setelah adanya Inpres tahun 1975 tentang TRI: pemerintah bebaskan petani olah tanahnya sendiri dengan ditanami tebu, ini.
Dalam studi kasus Lampung, luasan lahan kebun tebu sini saat ini masih direkori oleh kabupaten dengan areal kebun terluas: Way Kanan. Jumlahnya merujuk data BPS 2022, mencapai 104.031 ha. Baru disusul Lampung Tengah luasan 69.109 ha, Lampung Utara seluas 9.428 ha, Tulang Bawang 1.438 ha.
Berbicara tebu, gula, dan Way Kanan, tak manis rasanya jika kita tak ‘mencolek’ PSMI. Ini bukan nama klub sepak bola ya, bestie.
PT. Pemukasakti Manisindah disingkat PSMI, ini dimaksud, perusahaan agroindustri perkebunan tebu dan pabrik gula terpadu status penanaman modal asing berbasis di Kecamatan Pakuan Ratu, Way Kanan; dirian 1990, tebang perdana 2010, produsen gula pasir/gula kristal jenama PSM per 2018.
Ada yang bilang PSMI ini perusahaan pemilik/pengelola sebagian besar perkebunan tebu di Bumi Ramik Ragom, julukan lain Way Kanan. Meski merujuk data 2019, lahan inti kelolaan perusahaan ini hanya 9 ribu ha saja.
Sebagai ilustrasi kapitalisasi usaha korporat ini, musim giling 2018 lalu, PSMI menarget produksi gula 129.400 MT, estimasi luasan panen tebu kelolaan perusahaan 18.650 ha, meliputi lahan inti, lahan plasma, lahan sewa.
Target ini telah jauh lebih baik dibanding hasil tahun sebelumnya dimana perusahaan hanya membukukan 112.100 MT.
Peningkatan jumlah hasil itu, disitat ulang dari penjelasan Service Manager PSMI, Meizikri, saat Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan) sowan pabrik 7 Mei 2018 silam, dipengaruhi pertambahan luasan panen dari 15.750 ha di 2017.
Meski lahan inti kelolaan PSMI cuma 7.500 ha (2018), jumlah mitra petani/pekebun tebu lewat program kerja sama operasional (KSO) atau pun mandiri, tiap tahun meningkat (2019: 10 ribu). Pasalnya, rendemen dihasilkan berkisar 8.1 – 9.0 masih untungkan petani mitra.
Tak ayal ujar Meizikri, dengan kondisi itu tentu warga sekitar lokasi perkebunan jua terimbas peningkatan kesejahteraan ekonomi.
“Banyak uang berputar di empat kecamatan sini dan sekitar. Pakuan Ratu, Negara Batin, Negeri Besar, Bahuga. Hitungan kami, bisa mencapai Rp5 miliar per bulan,” ujar Meirizki, selain penaikan kesejahteraan petani melalui kemitraan penanaman, PSMI selalu memenuhi kewajiban program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (dulu CSR), bansos kampung, bantuan hewan kurban sapi, proyek khusus desa. 2017 saja, kucuran PSMI empat program ini Rp6 miliar.
Teranyar, guyub sosial PSMI dengan warga sekitar perusahaan beguyur dari taja Gerebek Kampung Negara Batin, antara lain diisi helat Gowes Sepeda bersama 700an peserta dari ragam penjuru Lampung, cek kesehatan dan pengobatan gratis, lomba mewarnai dan senam sehat bersama, berpusat di Lapangan Manunggal Jagat Kampung Negara Batin, Kecamatan Negara Batin, Minggu (28/7/2024).
General Affair Manager PT PSMI Andre Husen mewakili direktur, menerangkan taja gowes disemarakkan pembagian doorprize total Rp50 juta, hadiah gawai, kulkas, mesin cuci, TV LED, dan lainnya bagi peserta dan rakyat Kampung Negara Batin dan sekitar ini adalah program PSMI, salah satu program TJSL guna merangkul rakyat sekitar Kecamatan Negara Batin khususnya, kecamatan lain umumnya.
“Memang itu tujuan PSMI adakan even ini, tak hanya di Negara Batin, di kecamatan lain bila ada kesempatan kita akan adakan, ini sudah berjalan sejak beberapa waktu lalu juga ada Gerebek Kampung sebelumny, tetapi memang tak semeriah hari ini kegiatannya,” ujar Andre, acara dihadiri pula Sekda Way Kanan Saipul mewakili Bupati Raden Adipati Surya, Direktur Operasional PSMI Jack Chong bersama Site Manager Rahardian Tutuko, dan dua manajer; Amirudin dan Cahyo S Widodo.
Sebagai disclaimer ini bukan warta pariwara, contoh lain praktik baik realisasi TJSL PSMI tahun ini yakni turut berpartisipasi dalam program pembangunan infrastruktur jalan bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung di wilayah setempat.
Terkait dialokasikannya Rp50 miliar dari total Rp80 miliar bantuan Dana Insentif Daerah (DID) Tahun 2024 dari pemerintah kepada Pemprov Lampung, untuk proyek perbaikan atau rehabilitasi jalan Way Kanan, meliputi pengaspalan dua lapis pada beberapa ruas jalan; penerapan konstruksi rigid beton pada beberapa ruas jalan; serta, pembuatan dan perbaikan drainase aliran air.
PT PSMI turut membukyikan komitmennya untuk bersama-sama meningkatkan kualitas infrastruktur jalan di kabupaten ini, dengan ambil peran bangun pondasi jalan, Pemprov Lampung yang mengaspalnya.
Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Lampung, Muhammad Taufiqullah, berterima kasih atas partisipasi PSMI dalam perbaikan jalan di Way Kanan, menyebut kolaborasi tersebut menunjukkan PSMI tak hanya memiliki pabrik di situ tapi jua turut andil pembangunan infrastruktur jalan.
“Dalam kolaborasi ini PSMI bangun pondasi jalan, sedang Pemprov Lampung akan lakukan pengaspalan. Dengan skema ini, penanganan jalan bisa lebih panjang karena pondasi sudah ditangani PSMI, target kami, seluruh ruas jalan ditinjau hari ini selesai diaspal tahun ini,” ujar Taufiq disela peninjauan bersama ruas-ruas jalan bakal lokasi proyek tersebut 2 Maret lalu.
“Pemprov Lampung akan terus jalin kerja sama berbagai pihak, termasuk dunia usaha, untuk meningkatkan infrastruktur jalan di seluruh Lampung,” tandas dia, diamini Staf General Affair Division PT PSMI, Samudi, dan Staf Civil General Facility, Baginda Harahap.
“Kami dukung penuh kolaborasi ini. Jalan ini merupakan akses utama bagi masyarakat dan perusahaan, sehingga perbaikannya sangat penting untuk kelancaran mobilitas warga dan kegiatan usaha,” ujar Samudi.
Imbuhan informasi, sebagai bagian dari total 55 paket pekerjaan infrastruktur pagu APBD Provinsi Lampung TA 2024 terdiri 43 paket pekerjaan jalan, 22 paket pekerjaan jembatan, total nilai Rp475.493.305.200,00 (Rp475,4 M) untuk pengerjaan sepanjang 174,24 Km jalan, terbagi Rp415,4 miliar untuk pembangunan, Rp59,9 miliar untuk pemeliharaan rutin.
Perinci, di Way Kanan dijatah perbaikan 2024, meliputi rehabilitasi ruas jalan Simpang Empat – Blambangan Umpu, Bumi Raharjo – Simpang Way Tuba; preservasi ruas Serupa Indah – Tajab, Simpang Sopoyono – Serupa Indah; dan rekonstruksi ruas jalan Kasui – Air Ringkih, Tegal Mukti – Tajab, Tajab – Adi Jaya.
Taksasi produksi, prediksi besaran jumlah perolehan produksi target capaian pada luasan dan satuan waktu tertentu, boleh jadi kian tahun kian naik demi target swasembada gula 2028 dan 2030. Muara kesejahteraan rakyat melulu masih digerogoti korupsi laknat.
Lampung, please, jangan. (Muzzamil)







