Bongkar Post – “Spending” Turis MICE 3-4 Kali Diatas Turis Pelesir, Bisnis MICE 2024 Dikirka Rp52 Triliun

Pebadut Doraemon ini, aktor pendukung even MICE juga, entertainer penghibur pengunjung even tahunan pameran pembangunan daerah dan serbaneka hiburan rakyat, Pekan Raya Lampung (PRL) 2024, taja ke-14 sejak 2010. Foto dibidik di depan GOR Sumpah Pemuda PKOR Wayhalim Bandarlampung, 22 Mei 2024. | Muzzamil

Bongkar Post

Bacaan Lainnya

BANDARLAMPUNG – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menyebut, industri jasa kepariwisataan yang bergerak di bidang Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi, dan Pameran (Meeting, Incentives, Conference, Exhibition, disingkat MICE) memiliki kontribusi pendapatan tinggi terhadap perekonomian masyarakat RI.

Ini karena tiga: turis MICE ditengarai memiliki “spending” tiga hingga empat kali lebih besar dari turis untuk berlibur (leisure tourism), lama tinggal lebih panjang, dan even MICE skala internasional jadi ajang promosi efektif bagi Indonesia di kancah global.

Hingga akhir Juli, kementerian ini mencatat, Jakarta masih menempati urutan pertama lima provinsi teratas bisnis MICE tertinggi, disusul Bali, Bandung (Jawa Barat), Makassar (Sulawesi Selatan), Batam (Kepulauan Riau).

Jakarta memang kota bisnis, tahun ke tahun share-nya dari pelancong bisnis selalu lebih dari 50 persen, demikian ujar Direktur MICE Kemenparekraf (saat itu) Iyung Masruroh, webinar Kompas 10 Desember 2020 tajuk “The Comeback Plan of MICE For 2021”, mengutip data ForwardKeys, jumlah visitasi wisatawan mancanegara (wisman) tujuan bisnis pada 2015-2019 ke Jakarta 57,8 persen, Bali 33,4 persen, Surabaya 3 persen, Medan 2,2 persen, Bandung 1,7 persen, Yogyakarta 1,4 persen, dan Makassar 0,6 persen.

“Jakarta kuatnya di pameran. Bali kuat di konvensi, jadi konferensi internasional dan sebagainya bisa dilaksanakan sebagian besar di Bali,” jelas Iyung, data dari International Congress and Convention Association (ICCA), industri MICE Indonesia di peringkat ke-41 dunia, peringkat ke-10 di Asia Pasifik, dan peringkat ke-4 ASEAN, pada 2019 itu.

Pascapandemi COVID-19 pada 2020 dimana rerata sektor ekonomi kelimpungan ambruk terpuruk, pemerintah mendorong digelarnya berbagai pertemuan internasional pada 2021, tahun kedua pagebluk, sehingga perlahan industri jasa pertemuan bisnis, perjalanan insentif, konvensi, dan pameran atau Meeting, Incentives, Conference, Exhibition (MICE) kembali bangkit dibanding 2020.

Alhasil, bisnis MICE tumbuh sekitar 20 persen pada 2021 senilai 1,95 miliar dolar AS. Lalu, kembali mencatatkan peningkatan angka belanja MICE pada 2022 sebesar 14 persen dibanding 2021 senilai 2,23 miliar dolar AS. Pada 2023, nilai belanja MICE secara nasional mencapai Rp45 triliun setara 3 miliar dolar AS.

“Di 2024 ini diprediksi bisa mencapai Rp52-54 triliun setara 3,2-3,4 miliar dolar AS. Stabilitas politik berpengaruh terhadap belanja MICE 2024, diperkirakan bisa naik 12-17 persen. Perhelatan pemilihan presiden, pemilihan legislatif, kini pemilihan kepala daerah yang berjalan lancar menambah kepercayaan pelaku MICE untuk lakukan berbagai kegiatan di tahun 2024,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Kongres dan Konvensi Indonesia (AKKINDO), Iqbal Alan Abdullah.

Pascapandemi pertumbuhan terus terjadi hingga 2023, bahkan akan terus bertumbuh pada masa mendatang, ujar Iqbal optimistis, selain digerakkan oleh kegiatan-kegiatan pemerintah, bisnis MICE di Indonesia juga dipengaruhi oleh trafik padat aktivitas organisasi-organisasi profesi internasional.

“Misal organisasi profesi kedokteran yang memiliki banyak spesialis dari dokter jantung, THT hingga bedah. Nah, organisasi profesi internasional rutin melakukan pertemuan dan berpindah dari satu negara ke negara lain,” beber Komisaris Royalindo Expoduta ini, eks Ketum Dewan Pariwisata Indonesia (Depari).

Tiga dasawarsa jatuh bangun geluti bisnis padat karya padat modal padat inovasi ini, Iqbal optimistis bisnis MICE di Indonesia kini kedepan masih sangat besar. “Pasar MICE yang ada masih belum digarap maksimal. Potensinya masih besar,” lugas Iqbal.

Optimisme Iqbal, optimisme khas pengusaha. Notabene lima periode Ketua DPP AKKINDO atau Indonesia Congress and Convention Association (INCCA), asosiasi profesi nirlaba penghimpun pemangku kepentingan industri MICE di Indonesia, antara lain pelaku usaha jasa MICE, balai sidang, hotel dan resor, biro perjalanan wisata, transportasi, ekspedisi, kehumasan, media, periklanan, dan korporat penunjang (penyewaan peralatan, asuransi, perbankan, impresariat, penerjemah, dan lainnya dirian 28 Agustus 1998 di Jakarta ini.

Iqbal dkk teruji badai. Sebagai informasi, pendirian INCCA tak lepas dari situasi masa itu saat Indonesia ditikam krisis multidimensi, sehingga pengusaha terkait MICE terpanggil demi memajukan kepariwisataan Indonesia, dengan cita-cita menempatkan Indonesia di dalam peta pariwisata dunia dan salah satu tujuan wisata konvensi, diwujudkan dalam “Kebulatan Tekad INCCA” 10 September 1998.

Perjalanannya, INCCA mendapat bermacam hal sangat luas dari kalangan dunia usaha, pemerintah pun masyarakat daerah, nasional juga internasional. Asosiasi ini berdiri di 10 provinsi di Indonesia, sejalan upaya INCCA promosikan 10 Destinasi Konvensi Utama RI (Bali, Bandung, Batam, Jakarta, Makassar, Manado, Medan, Padang, Surabaya, Yogya).

Lazimnya organisasi, harus bermanfaat paling utama paling pertama bagi anggotanya, INCCA juga terus berkibar kiprah dalam pengembangan wisata konvensi, wisata umum, wisata tematik/minat khusus, pariwisata dan kepariwisataan di Indonesia.

INCCA berhasil: memajukan pentingnya peran MICE dalam pembangunan umumnya dan pariwisata Indonesia khususnya di seluruh sektor mau pun daerah sehingga mendapat apresiasi dari semua pihak; melangkah maju dengan langkah visioner pengembangan SDM; pengembangan kerja sama global demi memperkuat industri MICE Indonesia. Tiga perkembangan tonggak penting sejarah dinamika industri MICE Indonesia.

INCCA juga berhasil mengembangkan etika bisnis dengan terciptanya kebersamaan antar anggota, beri perlindungan dari perlakuan tidak bijaksana, dan memelihara kemitraan dan rasa saling percaya antar anggota.

Di Lampung, bisnis MICE sempat alami grafik tertingginya era kepemimpinan Gubernur M. Ridho Ficardo. Bermaha puncak 2016-2018.

Menteri Pariwisata Kabinet Kerja Arief Yahya sampai memuji kinerja gubernur termuda republik (34 tahun saat dilantik 2014) itu atas prestasinya upayakan Lampung go nasional: tiga besar provinsi dengan perkembangan pariwisata terbaik di Indonesia, ditandai pemberian penghargaan di Jakarta Marketing Week 2019 di Now Stage-Atrium Mall Kota Casablanca, Jakarta Selatan, 25 April 2019.

Gubernur Ridho konsen kembangkan industri pariwisata daerahnya, puji menteri berkumis lebat ini, berikan penghargaan Calender of Event Wonderful 2018 untuk Lampung, dinilai berprestasi memajukan dan mengembangkan multieven pariwisata di Lampung.

Arief bilang, pemberian penghargaan harus sudah memenuhi kriteria creative value, commercial value, dan communication value.

“Untuk kategori creative value sesuai arahan Presiden Jokowi agar semua koreografernya, aransemen musik, desain bajunya harus taraf internasional, jadi saya mohon pertahankan akan hal itu,” Arief menginjeksi hal terpenting: komitmen pemimpin dalam menjalankannya.

Dipancing founder/Chairman MarkPlus, Hermawan Kartajaya, memaparkan langkah strategis dan tips untuk dapat dicontoh dijadikan praktik baik senada daerah lain, saat itu Ridho merendah.

Seluruh langkah kebijakan diambil ujar dia, berasal dari tiap paparan Menpar Arief Yahya. “Sebetulnya saya tidak ada background pariwisata, tetapi saya belajar dari setiap pidato-pidato bapak Menteri, semuanya saya jalankan, yang terpenting akses infrastruktur menuju destinasi pariwisata saya benahi perbaiki kemudian saya jadikan priority, ternyata dengan hal tersebut pariwisata di Lampung berkembang pesat,” jelas Ridho, menyebut satu dari tiga komponen utama pengembangan pariwisata: aksesibilitas.

Di era kepemimpinan gubernur penerusnya, Arinal Djunaidi, meski dijabarkan secara verbal sebagai “Lampung kaya festival”, apes landa pagebluk COVID-19 berimbas parah termasuk salah satunya industri pariwisata luluh lantak, menjadikannya kurang maksimal.

Sadar penting, dan pariwisata salah satu sokoguru pemantik, Gubernur Arinal tampak tancap gas naikkan trafik visitasi seiring masa kembali ke situasi normal, hingga klimaks pencabutan status darurat bencana non alam dan puncaknya pada capaian luar biasa sektor pariwisata Lampung pada 2023 lalu.

Merujuk data Wali Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kemenparekraf, jumlah pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) di Lampung Januari-September 2023, 10.260.000 orang.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kadisparekraf) Lampung, Bobby Irawan, mengafirmasi capaian itu melampaui target tetapan Pemerintah Provinsi Lampung 2023, 5.490.000 orang. Hampir dua kali lipat.

Capaian itu menempatkan Lampung urutan ke-3 capaian tertinggi pergerakan wisnus di Sumatera setelah Sumatera Utara di urutan pertama dengan 20,53 juta wisnus, diikuti Sumatera Barat dengan 11,31 juta wisnus.

Hasil kerja keras dan kolaborasi multipihak, Pemprov Lampung berterima kasih atas dukungan dan kolaborasi pemkab/pemkot, industri, akademisi, asosiasi, komunitas, penggiat, pemerhati, dan pelaku parekraf.

Jumlah pergerakan wisnus periode Januari hingga September 2023 meningkat 12,81 persen dibanding periode yang sama 2022, dan 18,67 persen lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi.

Rapat Koordinasi Hasil Capaian Target Wisnus 2023 taja daring Kemenparekraf, 13 November 2023 mengungkap, dengan target pemerintah sebesar 1,2 – 1,4 miliar perjalanan di 2023, naik drastis dari 629,09 perjalanan di tahun 2022, pertumbuhan pergerakan wisnus ditarget naik jadi sebesar 63,30 – 90,51 persen.

Secara eksponensial, penduduk Pulau Jawa masih jadi penyumbang perjalanan wisnus di Indonesia. Tujuan perjalanan wisnus periode itu masih terkonsentrasi di Jawa 74,01 persen.

Pergerakan wisnus sebagian besar destinasi utama juga adalah pergerakan dalam wilayah provinsi (intra-provinsi) mencapai 60,3 persen sisanya pergerakan antarprovinsi 39,7 persen.

Demi uber target 1,2 – 1,4 miliar perjalanan di 2023, Kemenparekraf ingatkan perlunya penyesuaian target di masing-masing daerah.

Pemda saat itu diminta mengembangkan atraksi wisata, menyusun pola perjalanan wisata atau struktur, kerangka, dan alur perjalanan wisata dari suatu destinasi ke titik destinasi lain yang saling terkait, berisi informasi fasilitas, aktifitas, dan layanan yang beri ragam pilihan perjalanan bagi pelancong bisa berkunjung ke lebih dari satu destinasi wisata seputar sekitar dalam satu paket wisata, yang jamak disebut ‘travel pattern’ sesuai pakem seiring pelonggaran mobilitas orang pasca era new normal pascapandemi, dan intensif promosi pariwisata daerahnya.

Bicara travel pattern, maka bisnis MICE bisnis menggiurkan, bagus tidak bagus iklim, harus bilang bagus. Semirip pramuniaga yang mesti “dicongcong” pewiraniaga dengan doktrin “palugada” alias “apa lu mau gua ada”.

Ahmad Sapreza, dalam SCRIBD, menyebut 10 even MICE terakbar di Indonesia. Yakni, 11th International Congress of Tropical Pediatrics di Alana Yogya diikuti 539 delegasi separo dari luar negeri (Australia, Belanda, China, Jerman, Kenya, Malaysia, Pakistan, Swiss, Thailand, Turki).

Lalu, Miss World 2011, Asian Youth Day di Jogja Expo Center diikuti 22 negara, MICE Business Event ASEAN, World Conference on Creative Economy, Asian Games 2018 Jakarta – Palembang, Rapat Tahunan IMF World Bank Group dan Bank Dunia, World Conference on Creative Economy, Indonesia International MICE Expo, dan Bali ASEAN Beach Games.

Menggiurkannya itu, saat angin sepoi-sepoi sekali pun. Syarat ketentuan berlaku, harus nekat dengan ketercukupan manajer risiko plus intelijen pasar berkinerja terukur, handal.

Bisnis MICE bisnis membosankan, saat para industrialisnya kehabisan stok ide kreatif dan tim kerja produsen hal kebaruan clue MICE.

Di Lampung misal, meski kedengarannya lucu, tetapi per kini ada semacam tren atau lebih tepatnya latah, semua bentuk kegiatan bisnis pertemuan diidentikkan dengan sebutan FGD. Sesuai namanya, Focus Group Discussion, atau per transliterasi telah diindonesiakan menjadi diskusi kelompok terpumpun.

Padahal misalnya momen pertemuan atau meeting yang diselenggarakan tersebut ialah dan atau lebih merupakan lokakarya, santiaji atau penataran, seminar, simposium, temu wicara atau talkshow, workshop, dan lainnya.

Pewarta misal, pernah mendengar langsung celetukan seorang peserta even diskusi publik asal luar Lampung yang komplain dengan nama forum acara yang diikutinya. “Kok FGD,” supersingkatnya sepele tapi ‘duileh’. Ia cantik!

Lanjut, bisnis MICE juga bisnis menjanjikan para industrialisnya, saat selain turut bekali diri dengan sekaligus mengeksekusinya: ‘catatan kaki’ perluasan jejaring aktor lintas sektor hulu hingga hilir didukung fasilitas terbaik penyelenggara tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan, disertai dengan penajaman fokus strategi pencapaian target, tujuan, travel pattern seperti dimaksud dan keluaran pasca serta purna even.

Gubernur Lampung mendatang punya PR. Bukan sekadar unjuk visualisasi dramatis ala iklan layanan masyarakat di layar kaca. Lebih berkedalaman, lebih ‘duileh’, bongkar habis praktik birokrat parekraf monoton, miskin ide kreatif membumi kaya belanja rutin habis pakai, kurang menoleh -barang sedikit- aras digitalisasi pemerintahan sektor parekraf dengan mengkapitalisasi seluruh potensi dan serapan sumber daya.

Baik itu, sumber daya manusia, sumber dana anggaran berbasis money follow programme dan sumber daya teknologi basis Revolusi Industri 4.0 yang bikin pemajuan wisata, pariwisata, dan kepariwisataan daerah ini bak garing. Itu-itu saja. Kebaruan destinasi, ulah masih dimaknai fisik semata (artifisial), dan buahnya panen sesaat. Dilancongi sejenak membeludak lalu tak lama ditinggal pergi, bikin ngenyut kepala bak mau meledak: “duh, rugi lagi. Amsyiong. Jangan gitu (pakai) geh.

Semoga saja, ujaran baik optimisme pelaku sejarah tiga dasawarsa jatuh bangun geluti bisnis MICE, bisnis padat karya padat modal padat inovasi ini, Ketua DPP AKKINDO/INCCA, Iqbal Alan Abdullah di atas; “bisnis MICE di Indonesia kini kedepan masih sangat besar, pasar MICE yang ada masih belum digarap maksimal, potensinya masih besar kedepan”, adalah sebaik-baiknya optimisme seluruh industrialis hulu hilir industri MICE ini di Tanah Air umumnya, di Lampung pada khususnya.

Pembaca, aminkan sama-sama yuk. Aamiin! (Muzzamil)

Pos terkait