Poster film ‘Djenderal Kantjil” diperankan Achmad Albar (1958) //dok
Artikel
Siap Jenderal, ‘Darah itu Merah’ Jenderal! ‘
Oleh : Isbedy Stiawan ZS
Tetiba aku teringat Iyek masa kecil. Vokalis God Bless itu, Achmad Albar, memerankan jenderal dalam film “Djenderal Kantjil” dirilis pada 1958. “Djenderal Kantjil” adalah film Indonesia yang disutradarai oleh Nya Abbas Akup. Film ini dibintangi antara lain oleh Achmad Albar, Rendra Karno dan Menzano.
Sejak anak-anak Iyek memang ganteng, gagah, dan pas sekali menyandang “jenderal”.
Keamanan di masa Djenderal Kantjil diceritakan memang sedang terancam oleh aksi Bang Hamid (Menzano). Usaha pencurian Bang Hamid dapat digagalkan oleh Arman (Achmad Albar) dan kawan-kawan. Penduduk bangga mempunyai anak-anak yang berani.
Saking baiknya film ini untuk edukasi bagi anak-anak, kemudian film ini kembali diproduksi ulang pada 2012 bertajuk “Jenderal Kancil The Movie. Lain “Jendral Kancil”, lain pula jenderal dalam film “Pengkhianatan G 30 S PKI” yang ditulis dan disutradarai Arifin C Noer (1984).
Film yang semasa rezim Soeharto menjadi “film wajib” ditayangkan di TVRI. Kalimat yang terkenal dan trending dari film ini adalah “Darah itu merah Jenderal!” (?).
Pengkhianatan 30 September PKI, memang dikenal karena peristiwa percobaan kudeta pada tahun 1965. Pada malam 30 September-1 Oktober 1965 sekelompok personel TNI yang menyebut diri “Gerakan 30 September” menangkap dan membunuh enam jenderal Angkatan Darat yang diduga anggota gerakan anti-revolusioner “Dewan Jenderal”.
Sebutan jenderal acap menjadi “julukan” perkawanan, untuk orang yang dianggap senior dan disegani dalam sebuah kelompok/komunitas misalnya. Misalmya, karena disegani dalam suatu gank ia dipanggil Jenderal.
Ini pernah kudengar untuk seseorang yang disegani dalam kelompok “pemuda nakal” di kampungku. Tetapi, panggilan seperti ini tidaklah mengangkat “marwah” bagi yang dijuluki; hanya sebatas keakraban berkawan.
Berbeda dalam TNI/Kepolisian, sebab Jenderal di sini adalah tingkat kepangkatan. Ungkapan “darah itu merah jenderal” mulai redup setelah kejatuhan rezim Orde Baru. Tetapi “aroma anyir darah” kembali mencuat semasa 1998.
Betapa banyak korban dari mahasiswa dan masyarakat sipil, terutama pada tragedi Jembatan Semanggi, UBL Berdarah, dan tempat-tempat lain. Termasuk “hilangnya tanpa jejak” Wiji Thukul, atau penculikan aktivis semacam Budiman Sudjatmiko, Andi Arief, dan rekan-rekan aktivis reformasi!
Jenderal kini begitu dekat sebagai ingatan. Kembali “mewarnai” khasanah perbincangan. Dari Sambo hingga yang lainnya. Tetapi, tak ada lagi embel-embel “darah itu merah Jenderal”, meski negeri saat ini “sedang tidak baik-baik saja”. Begitulah, aku masih merindukan “Djenderal Kantjil” Iyek pada 66 tahun kemudian.
Saat ini, ketika usia Iyek dan usiaku sudah tua. Kenangan tidak akan mengelabui. Tabik.***







