Surah Al-Qashash dan Kisah Nabi Musa as 

Artikel

 

Bacaan Lainnya

Kisah Nabi Musa as 

Oleh: Arsiya Heni Puspita

(Jurnalis dan Penulis)

 

Surah Al-Qashash artinya Cerita. Dinamakan surah Al-Qashash diambil dari kata Al-Qashash terdapat pada ayat 25. Ditemukan uraian Nabi Musa as tentang pengalamannya di Mesir sebelum pergi ke Madyan yang tinggal dirumah Nabi Syu’aib as yang menjadi mertuanya.

Surah ini merupakan surah kedua puluh delapan dalam Al Qur’an terdiri dari 88 ayat, termasuk golongan surah Makkiyyah, artinya diturunkan saat Rosulullah masih di Mekah. Kata lainnya, Rosulullah belum hijrah ke Madinah.

Surah ini adalah surah yang keempat puluh sembilan jika ditinjau dari bilangan turunnya surah-surah dalam Al-Qur’an. Dia turun sesudah surah An-Naml dan sebelum surah Al-lsra’. Ketiga surah ini dimulai dengan huruf-huruf Tha’ dan Sin, turun secara berturut-turut yaitu Asy-Syu’ara’, An-Naml, dan Al-Qashash, juga penempatannya. Masing-masing pada awalnya menguraikan kisah Nabi Musa as.

Tema utama surah ini adalah hanya ada satu kekuatan yaitu kekuatan Allah SWT dan hanya ada satu nilai, yaitu nilai keimanan.

Kemudian tema utama lainnya, janji Allah swt pada kaum muslimin melimpahkan anugerah, menjadikan mereka pemimpin, dan pewaris serta penguasa.

Lalu, pemaparan tentang tawadhu, kerendahan hati, mengembalikan segala urusan pada Allah swt. Lainnya, menekankan keistimewan Al-Qur’an dan kelemahan sastrawan musyrikin. Demikian tafsir Al-Misbah.

Adapun tafsir secara singkat berdasarkan Tafsir Al-Misbah “Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an” karya M. Quraish Shihab yang diterbitkan oleh Lentera Hati.

Terjemahan QS. Al-Qashash (Kisah) 28: 25.

“Maka datanglah kepada Musa salah seorang dari keduanya berjalan dengan sangat malu, ia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu agar ia memberi balasan terhadapmu memberi minum kami.” Maka takkala dia mendatanginya dan menceritakan kepadanya kisah-kisah, dia berkata, “Janganlah takut! Engkau telah selamat dari kaum yang zalim.”

Tafsir ayat 25, kedua wanita yang dibantu oleh Musa kembali kerumahnya dan menceritakan kepada ayah mereka sebab kepulangan mereka kali ini lebih cepat dari biasanya.

Maka Nabi Syu’aib as ayah kedua wanita itu memerintahkan salah seotrang anaknya mengundang Musa. Ia datang dalam keadaan berjalan sangat malu karena ditugaskan bertemu muka dan mengundang pemuda yang penuh wibawa yang telah membantunya.

Dengan segera Musa memenuhi undangan itu dan menceritajkan mengenai dirinya, Fir’aun dan masyarakat Mesir. Nabi Syu’aib as mengatakan, tidak usah takut karena kekuasaan Fir’aun tidak sampai ke wilayah ini dan Allah swt tidak akan mencelakakan orang yang selalu dekat kepada-Nya.

Kata istihya’ dari kata haya’ artinya malu. Penambahn huruf sin dan ta’ menunjukkan besarnya rasa malu.

Yaa Allah, jadikanlah kami termasuk golongan hamba-Mu yang memiliki rasa malu. Kabulkanlah permohonan kami. Maha benar Allah dalam segala Firman-Nya dan Maha Benar Nabi Muhammad Saw. Wallahu a’lam bishowab.

Pos terkait