Suherwin, Hijrahnya Mantan Napi Pedagang Dugan Bakar

Bang Erwin (Kaos Putih) Bersama Mulyadi Ketua LMP Bandar Lampung dan beberapa pelanggan

BANDAR LAMPUNG – Hidup tak selamanya berjalan mulus, bahkan untuk bertahan hidup pun, segala cara dilakukan. Apalagi bagi mereka yang bertaruh hidup di lapangan. Terjerumus dalam perbuatan yang salah dan keji terkadang menjadi pilihan, lantaran himpitan ekonomi.

Suherwin, pria kelahiran 16 Maret 1979 ini, kini bukan lagi pria yang sama seperti 4 tahun yang lalu. Hidupnya yang liar dan beringasan di lapangan serta bergelut dengan narkoba dan senjata, hilang dari “kamus” kehidupannya. Bapak 6 orang anak ini Hijrah ke jalan Tuhan tatkala harus kehilangan orangtuanya saat ia berada di balik jeruji besi dengan sejumlah pasal yang menjeratnya.

Bacaan Lainnya

“Pasal 351, pasal 170, dan Undang Undang Darurat terkait penggunaan sajam dan softgun, serta 3x penangguhan, saya keluar April 2021 mbak,” ungkap Bang Erwin, sapaan akrab pria yang murah senyum ini.

Ketika ditemui di lapak Dugan Bakar Pesatnya di daerah Sinar Laut, Telukbetung Barat, Bandar Lampung, ia tampak gesit melayani beberapa pembeli, didampingi Elyana, sang istri tercinta dan setia.

“Pergaulan dan pekerjaan serta faktor ekonomi yang memaksa saya masuk ke lingkaran mafia narkoba, jadi pecandu narkoba, juga nge back up penagihan,” begitu tutur dia.

Diakuinya, ia sempat mengalami kesulitan setelah keluar dari penjara. Bingung harus kemana dan berbuat apa untuk bisa menghidupi keluarganya tanpa harus menyentuh barang haram lagi.

“Ya mbak, sebelumnya sulit…tapi tidak setelah kita rutin mengikuti majelis taubatan dan beribadah…meski belum sempurna,” ucap pria berkulit putih ini.

“Saya bertemu seorang guru taubatan dan terus mengikuti pengajian rutin dan belajar berdagang,” ujar Erwin yang kini kerap mengikuti kegiatan religi di Majelis Al Fatih, serta aktif berorganisasi di Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) dan Laskar Merah Putih (LMP) Kota Bandar Lampung.

“Ya mbak, saya ikut majelis majelis taklim untuk bertaubat dan melembutkan hati, dan kegiatan lainnya guna membantu sesama,” terangnya.

Matanya pun sempat berkaca kaca saat ia menceritakan betapa sedih dan hancur dirinya saat harus kehilangan orangtua, sementara ia masih berada di dalam penjara. Disinilah moment ia bertekad dan membulatkan hatinya untuk menjauhi semua perbuatan dari lembah hitamnya.

“Saat saya masih di penjara orangtua saya meninggal, dan semasa mereka hidup saya selalu membuat resah orangtua saya, saya belum pernah membahagiakannya. Lalu saya minta cuti kepada pihak penjara untuk bisa melihat orangtua saya terakhir kalinya. Disitulah saya menangis sejadi jadinya sambil memeluk jenazah orangtua saya, dan saya merasa benar-benar sangat berdosa kepada orangtua saya mbak,” ucapnya lirih.

Memang, kehilangan orangtua, istri, anak, kakak, adik, atau kerabat, kerap menjadi titik balik seseorang untuk Hijrah. Sebuah perubahan hidup pun harus dilakukan Bang Erwin.

Kini, meski terkadang persoalan ekonomi masih menderanya, Bang Erwin tak menyerah. Bahkan, ia masih bisa membantu sesama yang membutuhkan, terutama mereka yang telah bebas tapi tidak memiliki pekerjaan. Bang Erwin mempekerjakan di lapak dugan bakar miliknya.

“Semoga bisa bermanfaat untuk diri sendiri, orang banyak, dan adik adik di masa lalu saya yang masih menjalankan hukuman maupun yang sudah bebas,” harapnya.

Menjelang sore pembeli mulai berdatangan. Sesekali ia izin untuk melayani pembeli. “Sebentar mbak saya layani dulu,” kata dia dengan senyum.

Saya pun sambil menyeruput hangatnya dugan bakar yang beraroma rempah rempah sore itu. Nikmat dan hangat terasa di badan. Dan tentunya untuk kesehatan.

Di akhir obrolan Bang Erwin pun berpesan “Tetaplah hidup walau terhalang teralis, keluargamu masih menunggu dengan sejuta harapan,” tutupnya.

(Tika)

Pos terkait