RS Mutiara Bunda Langgar SOP Pengolahan Limbah Medis B3

  • Whatsapp
foto: riswan

Tulangbawang, BP
Rumah Sakit Mutiara Bunda melanggar Standard Operating Procedure (SOP), dalam mengolah limbah medis. Hal itu berdasarkan hasil monitoring Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Tulangbawang saat melakukan cek lapangan.

BLHD memastikan adanya kesalahan fatal yang dilakukan pihak rumah sakit dalam mengolah limbah medis yang tidak sesuai dengan Permen LHK No. 56 tahun 2015 tentang Tatacara dan Persyaratan Tehnis Pengolahan Limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Bacaan Lainnya

Dikatakan Kepala BLHD Kabupaten Tulangbawang, Indra Bangsawan, didampingi Kasi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Ertha, bahwa dokumen UKL UPL yang dimiliki Rumah Sakit Mutiara Bunda sudah tidak sesuai dengan kondisi yang ada. Meski sudah mempunyai tempat penyimpanan limbah B3, tetapi pihak rumah sakit belum mengantongi izin.

“Artinya, perlu dikaji baik dari Dinas Kesehatan dan BLHD atas ditemukannya tempat pembakaran sampah Rumah Sakit Mutiara Bunda yang membuang sampah medis tidak pada tempatnya yang berada di Kampung Dwi Warga Tunggal Jaya, Kecamatan Banjar Margo,” jelasnya.

“Sudah dipastikan, positif ada temuan kami tentang kesalahan fatal yang dilakukan pihak rumah sakit, dalam mengolah limbah medis yang tidak sesuai. Sementara Permen LHK No 56 tahun 2015 tentang Tatacara dan Persyaratan Tehnis Pengolahan Limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan, jelas mengatur pengelolaan limbah medis,” paparnya.

Diberitakan sebelumnya, pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit (RS) Mutiara Bunda diduga mengabaikan Standard Operating Procedure (SOP).

Sumber yang enggan disebut namanya mengatakan, limbah medis harusnya dikelola oleh pihak ketiga yang punya izin dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Cara lainnya, adalah menggunakan incinerator (alat yang digunakan untuk proses pembakaran limbah) yang berizin dari KLH.

“Diduga kuat, Rumah Sakit Mutiara Bunda yang berada di Kecamatan Banjar Agung, Tulangbawang ini, sejak berdiri tidak memiliki incinerator (alat yang digunakan untuk proses pembakaran limbah),” ungkap sumber ini.
Jika melihat tempat pembakaran yang digunakan Rumah Sakit Mutiara Bunda, sudah jelas tidak menggunakan incinerator dan melanggar.

“Pihak BLHD dan Dinas Kesehatan harus menindak tegas Rumah Sakit Mutiara Bunda yang melanggar aturan dalam pembakaran limbah rumah sakit. Apalagi pembakaran ini diduga sudah lama,” ujarnya.

Pasalnya, tanpa menggunakan incinerator (alat pembakar sampah bertemperatur tinggi), limbah dan sampah berbahaya dibakar dalam areal perkebunan karet dekat pemakaman Kampung Dwi Warga Tunggal Jaya.

Berdasarkan penelusuran media, pada Sabtu (11/8) menemukan 1 titik bekas yang digunakan untuk memusnahkan limbah non medis, maupun limbah medis dari Rumah Sakit Mutiara Bunda

Titik tersebut berada di perkebunan karet berdekatan dengan lingkungan warga sekitar, tepatnya di Kampung Dwi Warga Tunggal Jaya, Kecamatan Banjar Agung, dengan menggunakan sebuah bak penampung sampah.

Di lokasi, ditemukan sejumlah sisa pembakaran, spuit, botol ampul obat bekas, botol vial bekas, botol, masker bekas, plastik bungkusan obat, serta berbagai limbah lainnya yang berserakan dan sudah dibakar.

Warga sekitar juga membenarkan adanya aktivitas pembakaran limbah di kebun karet tersebut. Dikatakan warga ini, bahwa lahan tempat pembuangan sampah medis dan non medis itu juga milik rumah sakit yang sudah berdiri kurang lebih 2 sampai 3 tahun.

“Tindakan membuang dan membakar limbah pada tempat tersebut hampir setiap hari, kadang menggunakan bentor, kadang mobil,” ungkapnya.

Ditanya soal kondisi kesehatan, warga mengaku takut adanya virus yang menyebar melalui udara akibat aktivitas pembuangan limbah medis B3 rumah sakit tersebut.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor 1204 tahun 2004, menjelaskan bahwa persyaratan pengelolahan limbah medis seperti Limbah Medis Padat yang terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi harus dilakukan melalui proses mengurangi bahan (reduce), menggunakan kembali limbah (reuse), daur ulang limbah (recycle), serta pemusnahan limbah dengan menggunakan insinerator.

Lebih lanjut, Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, menegaskan bahwa limbah medis merupakan salah satu limbah yang dikategorikan berbahaya dan beracun. Atas sifatnya tersebut, keberadaan limbah medis harus dikelola secara tepat dan benar demi keselamatan kesehatan manusia. (riswan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *