Rotasi Pejabat di Polresta Bandar Lampung: Penyegaran Rutin di Tengah Isu Lalu Lintas dan Keamanan Urban
Bongkar Post, Bandar Lampung
Polresta Bandar Lampung kembali melakukan serah terima jabatan (sertijab) untuk tiga posisi strategis: Kasat Intelkam, Kasat Lantas, dan Kapolsek Tanjung Senang. Selasa (4/10/2025).
Upacara yang dipimpin Kapolresta Kombes Pol Alfret Jacob Tilukay di Lapangan Apel Mapolres pagi ini merujuk pada dua surat telegram Kapolda Lampung (ST/657/X/KEP/2025 tertanggal 8 Oktober 2025 dan ST/698/X/KEP/2025 tertanggal 22 Oktober 2025). Pergantian ini menandai transisi dari Kompol Ricky Neygersan Lado ke AKP Andy Yunara di Intelkam, Kompol Ridho Rafika ke Kompol G.M. Angga Satrya Wibawa di Lantas, serta Iptu Chaidir Jamin ke Ipda Andri Saputra di Tanjung Senang. Kombes Pol Tilukay menekankan mutasi ini sebagai “hal wajar” untuk promosi, pembelajaran, dan penyegaran organisasi Polri, dengan harapan membawa “perubahan dan peningkatan dalam menjalankan tugas.”
Mutasi pejabat di Polri merupakan mekanisme standar untuk pembinaan karier dan adaptasi organisasi, terutama di Polda Lampung yang mengalami gelombang besar pada 2025. Di tingkat polres, ini melanjutkan pola rotasi sejak Januari, termasuk sertijab lima pejabat utama Polresta Bandar Lampung yang melibatkan Kompol Ricky Neygersan Lado naik dari posisi sebelumnya. Kapolresta Tilukay menambahkan bahwa “mutasi adalah hal wajar dalam organisasi. Di Polri, ini menjadi momen untuk penyegaran dan pembelajaran agar organisasi tetap dinamis.”
Potensi Dampak pada Operasional dan Tantangan Spesifik
Kota Bandar Lampung menghadapi lonjakan kasus lalu lintas (894 kecelakaan Januari-Juni 2025) dan isu keamanan urban seperti kejahatan jalanan di Tanjung Senang. Rotasi ini datang pasca-Operasi Patuh Krakatau 2025 yang menindak ribuan pelanggar, menunjukkan upaya Polresta untuk menyelaraskan kepemimpinan dengan prioritas keamanan regional.
Pergantian di tiga jabatan ini berpotensi mengoptimalkan respons Polresta terhadap isu krusial, meski bergantung pada kontinuitas program pejabat lama. Kapolresta Tilukay menegaskan, “Saya berterima kasih atas pengabdian rekan-rekan yang selama ini telah bekerja keras. Untuk pejabat baru, saya berharap bisa membawa semangat baru dan meningkatkan kinerja satuan masing-masing.”Kasat Lantas (Kompol Ridho Rafika digantikan Kompol G.M. Angga Satrya Wibawa): Wilayah Bandar Lampung mencatat 1.314 pelanggaran dalam empat hari Ops Patuh Krakatau Juli 2025, dengan 87 tilang elektronik dan 726 teguran. Kinerja Ridho Rafika sebelumnya solid, termasuk penghargaan Rakernis Lalu Lintas 2024 dan koordinasi operasi tanpa insiden signifikan. Penggantian ke Angga Satrya Wibawa—yang sudah disebut dalam mutasi Oktober—bisa membawa pendekatan lebih teknokratis, seperti perluasan ETLE untuk mengatasi kemacetan kronis di sejumlah titik rawan seperti di Jalan Ratu Dibalau. Menurut pengamat, analisis menunjukkan potensi peningkatan efisiensi hingga 15-20% jika integrasi dengan data kecelakaan (naik 10% YoY) dimanfaatkan, selaras dengan target keselamatan nasional Polri.
Kasat Intelkam (Kompol Ricky Neygersan Lado digantikan AKP Andy Yunara): Lado, yang menjabat sejak Januari 2025, aktif dalam sosialisasi moderasi beragama, seperti acara LDII September 2025. Jabatan ini krusial di Kota Bandar Lampung sebagai pintu gerbang Sumatera, di mana ancaman radikalisme urban tetap tinggi. Yunara, sebagai pengganti, berpotensi membawa perspektif segar dari pengalaman intelijen sebelumnya, terutama untuk pengawasan kelompok ekstrem. Implikasinya strategis: rotasi ini bisa memperkuat sinergi dengan Polda untuk monitoring digital, mengingat peningkatan kasus hoaks ditengah banjir informasi pada ruang pubik di era digital. Tilukay menambahkan, “Pengalaman itu penting. Saya harap pejabat lama bisa berbagi agar transisi berjalan mulus dan pelayanan publik tetap optimal.”
Kapolsek Tanjung Senang (Iptu Chaidir Jamin digantikan Ipda Andri Saputra): Wilayah Tanjung Senang rawan kejahatan jalanan, seperti patroli gabungan Oktober 2025 untuk cegah kenakalan remaja dan kasus rampas uang di SPBU (Oktober 2025). Jamin dikenal proaktif, termasuk pembagian takjil Ramadhan Maret 2025. Saputra, sebelumnya Kapolsek Mesuji Timur, membawa pengalaman pedesaan yang bisa diadaptasi untuk patroli malam di kawasan padat ini. Pergantian ini tepat waktu untuk mengurangi insiden seperti pencurian (naik 5% di Kecamatan Kedaton), dengan potensi kolaborasi antar-polsek untuk penurunan 10-15% kasus.
Secara keseluruhan, rotasi ini selaras dengan kebijakan Polri, di mana performa data-driven mendominasi. Hadirnya Waka Polresta AKBP Erwin Irawan dan Bhayangkari menandakan dukungan internal kuat, berpotensi meningkatkan moral personel di tengah anggaran Polda yang terealisasi 60% hingga Q3 2025. Seperti yang ditekankan Tilukay, rotasi ini “bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari pembinaan dan penyegaran di tubuh Polri untuk menjaga profesionalisme dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.”
Kurangnya Transparansi dan Risiko Kontinuitas
Meski narasi “penyegaran” dominan, kritik muncul pada transparansi proses. Mengapa detail kinerja pejabat lama tidak dirilis? Ridho Rafika, misalnya, punya rekam jejak positif, tapi mutasi ini bisa terlihat sebagai “parkir” sementara, mirip pola 2023 di mana AKP Ricky Neygersan Lado sempat di-Polda sebelum naik jabatan. Di era digital, akun resmi Polresta kurang aktif update struktural, lebih fokus pada kegiatan harian—berisiko menimbulkan spekulasi, terutama di Lampung yang masih bergulat dengan kasus suap infrastruktur. Selain itu, dampak jangka pendek tak terhindarkan: Transisi di Lantas bisa mengganggu momentum Ops Patuh, sementara di Tanjung Senang, penggantian ke perwira junior seperti Ipda Saputra berisiko kurang pengalaman urban. Tanpa evaluasi independen (seperti audit KPK), mutasi ini berpotensi hanya formalitas, bukan solusi atas keluhan masyarakat via Hotline 110 yang naik 20% tahun ini. Mutasi Polri 2025 sering dikaitkan dengan politik internal, bukan murni meritokrasi.
Harapan untuk Adaptasi yang Lebih Baik Sertijab hari ini di Polresta Bandar Lampung mencerminkan komitmen Polri untuk dinamis, tapi keberhasilan bergantung pada implementasi pejabat baru. Dengan konteks isu lalu lintas dan keamanan yang mendesak, rotasi ini bisa jadi katalisator perubahan positif—jika disertai transparansi dan monitoring. Kapolresta Tilukay berpesan agar pejabat lama beri masukan; ini langkah bijak, sebagaimana ia katakan: “Serah terima jabatan merupakan hal yang wajar dalam organisasi, termasuk Polri. Tujuannya agar ada pembelajaran dan penyegaran bagi anggota maupun organisasi.”
Pada akhirnya, ukuran sukses adalah kepercayaan masyarakat: Apakah Kota Bandar Lampung lebih aman di 2026? Hanya waktu yang akan jawab, tapi awal yang menjanjikan.(*/)







