Pulau Daging, Situs Bersejarah di Tulang Bawang Resmi Diresmikan  

Pulau Daging, Situs Bersejarah di Tulang Bawang Resmi Diresmikan

 

Bacaan Lainnya

Bongkar Post, TULANG BAWANG

Di tengah aliran Sungai Way Tulang Bawang, Kabupaten Tulang Bawang, terdapat sebuah daratan yang menyimpan kisah masa lalu yang mendalam. Dikenal sebagai Pulau Daging, tempat ini kini kembali disapa dan dilestarikan, setelah Herlinawati Qudrotul, S.H., meresmikannya sebagai situs bersejarah, pada Jumat (30/10/2026)

 

Asal-Usul Nama dan Jejak Sejarah

Mengapa disebut Pulau Daging? Cerita turun-temurun yang diwariskan masyarakat setempat mengaitkannya dengan Perang Bajau yang diyakini terjadi pada abad ke-16. Pada masa itu, Menggala merupakan salah satu pusat perdagangan penting di Lampung. Kawasan Tangga Raja menjadi bandar yang menghubungkan Tulang Bawang hingga Pulau Jawa dan Singapura, bahkan menjalin hubungan dengan Kesultanan Banten di masa Sultan Maulana Hasanuddin.

Sungai Way Tulang Bawang menjadi jalur utama pengangkutan hasil bumi, seperti damar dan lada. Ramainya aktivitas perdagangan memicu persaingan yang akhirnya memicu terjadinya Perang Bajau. Peperangan yang dipimpin oleh Menak Sengaji dengan bantuan Menak Ngegulung Sakti dan Menak Rio Tangkari, berlangsung sengit dan menimbulkan banyak korban. Jenazah para korban dikumpulkan di daratan tersebut, yang kemudian dikenal sebagai Pulau Daging. Tak jauh dari lokasi itu, terdapat pula bukit menyerupai kapal yang disebut masyarakat sebagai Kapal Cina Karam atau Kapal Cina Kandas.

Uniknya, meskipun Sungai Way Tulang Bawang meluap saat musim hujan, Pulau Daging dipercaya tetap tidak terendam—sebuah keajaiban yang terus dijaga dalam ingatan warga Menggala.

 

Peresmian Situs dan Prosesi Adat

Peresmian Situs Sejarah Pulau Daging berlangsung di kawasan Jalan 3 Bengkel Ujung Gunung Udik, Kelurahan Ujung Gunung, Kecamatan Menggala. Kegiatan ini bukan sekadar pembukaan, melainkan upaya masyarakat menghidupkan kembali warisan leluhur.

Sebelum memasuki kawasan situs, warga melaksanakan tradisi ruah bumi—prosesi adat permohonan izin—dengan menaburkan beras kuning, kembang setaman, dan uang koin. Prosesi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi yang masih dijaga turun-temurun.

Sesampainya di Bawang Allah, titik di mana aliran sungai memisahkan Pulau Daging dari kawasan Tebing Suluh, Herlinawati Qudrotul disambut oleh para Perwatin Sebai atau ibu-ibu adat. Sebuah prosesi khas berlangsung: kain hitam selempang dipakaikan kepadanya. Dalam pemaknaan adat setempat, kain hitam itu melambangkan permohonan perlindungan kepada Allah SWT bagi ruh dan jasad, sekaligus doa agar terhindar dari bala dan pengaruh buruk.

“Pulang ke Masa Jaya, Pulang dengan Tenang dan Menang.” — pesan yang dibawa dalam peresmian ini.

 

Harapan Masyarakat dan Pentingnya Penelitian

Warga menunjukkan antusiasme yang tinggi. Bagi mereka, menjaga Pulau Daging bukan sekadar soal pelestarian tempat, melainkan menjaga identitas dan akar sejarah yang telah ada jauh sebelum program transmigrasi dimulai. Keberadaan situs ini juga diharapkan dapat dikaji lebih mendalam melalui penelitian sejarah yang lebih lengkap, agar kisah Perang Bajau dan kejayaan masa lalu Menggala dapat dipahami dengan lebih utuh.

Peresmian ini menjadi awal langkah bersama: menjaga, menghormati, dan mewariskan kisah Pulau Daging agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.(can/ris)

Pos terkait