Mic Bocor di Paripurna DPR RI “Asal Jangan Teriak Hidup Jokowi” Jadi Skandal Politik Baru

Mic Bocor di Paripurna DPR RI “Asal Jangan Teriak Hidup Jokowi” Jadi Skandal Politik Baru

 

Bacaan Lainnya

Bongkar Post | JAKARTA – Sebuah insiden kebocoran audio yang fatal kembali mengguncang Kompleks Parlemen, Senayan. Gedung DPR RI diguncang skandal audio setelah mikrofon pimpinan sidang diduga lupa dimatikan dan menangkap bisikan sinis bernada politis: “Asal jangan teriak hidup Jokowi.”

Momen ini terjadi tepat setelah Presiden Prabowo Subianto selesai membacakan pidato penting mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 dalam Rapat Paripurna ke-19, Rabu (20/5/2026).

 

Detik-Detik Kebocoran Audio Pimpinan

Berdasarkan rekaman resmi siaran langsung kanal YouTube TVR Parlemen yang kini viral di media sosial, insiden terjadi saat Presiden Prabowo berjalan kembali menuju kursi pimpinan untuk menyalami Ketua DPR RI Puan Maharani.

Saat suasana riuh oleh tepuk tangan, mikrofon milik Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad diduga masih dalam posisi aktif. Terdengar jelas suara yang identik dengan Ketua Harian DPP Partai Gerindra tersebut berbisik kepada Puan Maharani:

Asal jangan teriak hidup Jokowi...”

Sesaat setelah kalimat tersebut terucap, rekaman audio juga menangkap suara tawa kecil seorang wanita yang diduga kuat merupakan respons dari Puan Maharani yang duduk tepat di sebelah Dasco.

 

Sudut Pandang Kritis: Lelucon Elit atau Keretakan Nyata?

Insiden ini bukan sekadar masalah kelalaian teknis operasional audio Senayan. Secara kritis, kebocoran ini menelanjangi apa yang sebenarnya dipikirkan dan diperbincangkan oleh para elit politik di balik podium kekuasaan saat kamera media mengira suara mereka teredam.

Ada dua implikasi kritis dari celetukan spontan ini:

1. Sikap Berjarak terhadap Rezim Masa Lalu: Kalimat “asal jangan teriak hidup Jokowi” mengindikasikan adanya upaya psikologis maupun politis dari lingkaran utama Prabowo (Gerindra) untuk mulai menyapih diri dan menjaga jarak dari bayang-bayang Joko Widodo, meskipun posisi Wakil Presiden saat ini dijabat oleh Gibran Rakabuming Raka yang juga hadir di ruang sidang.

2. Ironi di Hari Kebangkitan Nasional: Peristiwa ini terjadi pada tanggal 20 Mei, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Sungguh ironis ketika kepala negara menyampaikan pidato kenegaraan sejarah baru—di mana KEM-PPKF disampaikan langsung oleh Presiden, bukan Menteri Keuangan—namun panggung suci tersebut justru dicoreng oleh bahan candaan politik internal pimpinan dewan.

 

Respons Bungkam dari Puan Maharani

Hingga Kamis (21/5/2026), atmosfer di Kompleks Parlemen memanas menyusul berondongan pertanyaan dari awak media. Saat dicegat wartawan untuk dimintai klarifikasi mengenai keaslian audio bisik-bisik tersebut, Ketua DPR RI Puan Maharani memilih bungkam dan menolak memberikan komentar substantif. Puan justru mengalihkan pembicaraan dengan mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga etika dan kesantunan saat melontarkan kritik.

Sementara itu, pihak Sufmi Dasco Ahmad maupun fraksi Partai Gerindra belum mengeluarkan rilis ataupun pembelaan resmi terkait konteks utuh dari kalimat kontroversial yang terekam tersebut. Publik kini berspekulasi apakah peristiwa ini akan mengganggu stabilitas kemitraan politik di koalisi pemerintahan, mengingat pendukung setia Jokowi di akar rumput mulai menyuarakan kekecewaan mereka di platform digital.

(***)

Pos terkait