Opini
Kemerdekaan bukan titik akhir, melainkan awal dari perjuangan mempertahankan kedaulatan dari klaim para pembuat sejarah baru
Oleh: Hengki (Pengusaha dan Pengamat Sosial Budaya yang Tinggal di Lampung)
Sebelum tgl 17 Agustus 1945, bendera Merah Putih telah berkibar di beberapa tempat, diantaranya :
1- Kamis, 16 Agustus 1945, di halaman kantor Kawedananan Rengasdengklok, Karawang, bersama para anggota Pasukan PETA, & sebagian warga setempat, nurunin bendera Hinomaru bendera Kekaisaran Nippon, lalu genti ngibarin bendera Merah Putih.
2- Kantor Polisi Cianjur, Kamis 16 Agt 1945. Adalah 67 Anggota Polisi stlh dengerin “bocoran berita” dari radio (saat itu radio disegel) bahwa Jepang udah nyerah sama Sekutu 14 Agt 45,, mereka inisiatif nurunin bendera Hinomaru & ngibarin Bendera Merah Putih.
Mohammad Hatta bukan hanya seorang Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Ia adalah seorang pemikir, pejuang kemerdekaan, negarawan, & salah satu tokoh yang meletakkan dasar penting bagi lahirnya Indonesia. Ia lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902, Hatta tumbuh sebagai sosok yang dikenal cerdas, disiplin, dan memiliki kepedulian besar terhadap nasib bangsanya.
Di tengah perjuangan melawan kolonialisme, Hatta tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik. Ia berjuang melalui “pemikiran, tulisan, organisasi, dan diplomasi”. Bersama tokoh-tokoh pergerakan lainnya, ia memperjuangkan gagasan bahwa Indonesia harus berdiri sebagai bangsa yg merdeka & menentukan nasibnya sendiri.
Perjuangannya membuat Hatta harus menghadapi pengasingan & tekanan dari pemerintah kolonial Belanda. Namun, penjara dan pengasingan tidak membuatnya menyerah. Justru di tengah keterbatasan, pemikirannya mengenai demokrasi, ekonomi kerakyatan, koperasi, dan kemerdekaan semakin berkembang.
Pada 17 Agustus 1945, sejarah Indonesia mencapai titik penting. Bersama Soekarno, Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dua nama itu kemudian dikenang sebagai “Proklamator Kemerdekaan Indonesia”.
Sehari setelah proklamasi, Hatta dipercaya menjadi “Wakil Presiden pertama Republik Indonesia”. Dalam masa-masa awal republik, ia menghadapi situasi yang sangat sulit: perang mempertahankan kemerdekaan, tekanan politik, persoalan ekonomi, hingga perjuangan diplomasi menghadapi Belanda.
Namun, Hatta tetap dikenal sebagai sosok yang sederhana & berpegang teguh pada prinsip. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai jalan untuk memperkaya diri. Bahkan setelah tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden, ia tetap menjalani kehidupan sederhana & aktif menulis serta memberikan pemikiran bagi bangsa.
Pada 14 Maret 1980, Mohammad Hatta wafat di Jakarta dalam usia 77 tahun.
Warisan terbesar Hatta bukan hanya sebuah jabatan atau gelar sebagai Proklamator. Ia meninggalkan gagasan tentang “demokrasi, pendidikan, ekonomi kerakyatan, koperasi, integritas, dan pengabdian kepada bangsa”.
Mohammad Hatta mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak harus hidup mewah & banyaknya gelar, apalagi gelar-gekar klaim untuk dihormati. Kadang, justru “kesederhanaan, kejujuran, & keteguhan prinsiplah yang membuat namanya dikenang sepanjang zaman”.
Mohammad Hatta proklamator, negarawan, dan putra bangsa yang mengabdikan hidupnya untuk Indonesia.
Ketika ada ujaran secara tegas menyingkap kenyataan yang selama di sembunyikan, reaksi spontan yang muncul kerap kali berupa rasa tersinggung, sebuah mekanisme pertahanan batin saat kejujuran itu merobek kenyamanan ego.
Rasa tersinggung kerap menjadi cermin yang memantulkan bagian-bagian diri yang belum selesai kita akui. Dibanding terburu-buru menyalahkan kata-kata yang terucap, ada baiknya kita mengheningkan diri dan bertanya: apakah kita marah karena kebohongan yang disampaikan, atau justru karena kejujuran itu terlalu telanjang menelanjangi kemunafikan yang diam-dian dirawat serta dininabobokkan terus selama ini ?
Salam sehat selalu untuk semuanya.







