Kampung Sungai Burung Kecamatan Dente Teladas Terancam Abrasi dan Tenggelam

TULANG BAWANG – Kampung Sungai Burung, Kecamatan Dente Teladas adalah kampung nelayan yang berbeda di pesisir pantai timur Kabupaten Tulang Bawang, saat ini mengalami abrasi besar-besaran akibat rusaknya hutan mangrove dan bakau disekitarnya.

Kerusakan alam dan lingkungan sekitar Kampung Sungai Burung, mengakubatkan terancam tenggelam, Pemerintah Kampung setempat telah berupaya semaksimal mungkin, dengan menanam pohon mangrove dan pohon bakau, namun sepertinya upaya tersebut masih jauh dari harapan, kerusakan semakin parah akibat pasang tinggal gelombang besar di sekitar pesisir pantai Kabupaten Tulang Bawang.

Bacaan Lainnya

Kampung penghasilan rajungan, kerang dara, udang dan ikan ini semakin memperlihatkan Pemerintah Kampung dan sejumlah tokoh masyarakat setempat, saat ini meminta kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang, Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Pusat agar dapat membantu mencari solusi upaya Penyelamatan Kampung Sungai Burung.

Dikatakan Mashuri Sekertaris Kampung Sungai Burung pihaknya berharap kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang, Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Pusat agar dapat membangun tanggul pemecah ombak (break water) mencegah terjangan ombak masuk ke perkampungan dan merusak rumah warga dimana saat ini pesisir pantai kondisinya rusak parah.

“Terkait harapan warga agar dibangunnya tanggul pemecah ombak (break water) Kampung Sungai Burung hal itu memiliki balasan penting dimana fungsinya untuk pelindung pemukiman warga di pesisir pantai,” terangnya.

Mashuri juga menambahkan jumlah penduduk dikampung Sungai Burung saat ini sebanyak 360 kepala keluarga, yang notabenenya 99% nelayan tangkap dan tambak budidaya.

“Untuk komoditi hasil laut di Kampung Sungai Burung cukup tinggi, dimana perharinya para nelayan di kampung tersebut dapat menghasilkan tangkapnya seperti udang 2 ton perharinya, ikan 2,5 ton/ hari, kerang dara 2,5 ton perharinya dan rajungan 1,5 ton perharinya dengan perputaran uang perharinya mencapai Rp. 240.000.000,- sd Rp 250.000.000,- tentunya hal itu nilai yang tidak kecil dalam persoalan pertumbuhan ekonomi di Kampung Sungai Burung, saya berharap ini menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk dapat membantu membangun apa yang menjadi persoalan masyarakat kami,” terang Mashuri.

Hal inilah lanjut Mashuri, mengapa pihaknya dan Pemerintah Kampung berharap adanya peran serta Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang, Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Pusat, segera menangani kerusakan Kampung Sungai Burung, mengingat Kampung ini sangat tinggi penghasil komoditi lautnya.

“Dengan dibangunnya tanggul pemecah ombak (break water) Kampung Sungai Burung secara otomatis penerimaan manfaat bukan hanya Kampung Sungai Burung saja, namun ada dua Kampung juga yang merasakan manfaat dari pembangunan tersebut, yakni Kampung Bratasena Adiwarman dan Kampung Bratasena Mandiri, dimana kedua kampung tersebut tepat di belakang Kampung Sungai Burung, dimana kedua kampung tersebut penghasil udang terbesar di Provinsi Lampung,” jelas Mashuri. (Ris)

Pos terkait