Kabid Bina Marga Dinas PU-PR Lamsel Terkesan Bungkam Terkait Perkerjaan Lingkungan Desa Way Galih

LAMPUNG SELATAN – Menyoal pekerjaan peningkatan Jalan Lingkungan Desa Way Galih Kecamatan Tanjung Bintang yang diduga dikerjakan asal asalan oleh CV. Mulya Gama Mandiri. Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU-PR) Kabupaten Lampung Selatan, Hasanudin, terkesan bungkam tak bisa menjawab ketika media meminta tanggapannya terkait pemberitaan pada pekerjaan itu.

Hal itu terlihat ketika awak media konfirmasi kepada Hasanudin melalui pesan singkat WhatsApp pada Rabu (1/12/2021).

Bacaan Lainnya

Hasanudin memilih bungkam tak merespon konfirmasi Wartawan. Padahal, semua pekerjaan fisik yang kegiatannya dari Dinas PU-PR Kabupaten Lampung Selatan, merupakan tanggung jawab Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga.

Hasanudin sebagai Kabid Bina Marga tidak menanggapi konfirmasi media bahkan terkesan tidak menggubris dengan adanya pemberitaan terkait dugaan pekerjaan yang tidak sesuai Spesifikasi.

Diberitakan sebelumnya, Pekerjaan peningkatan jalan lingkungan Desa Way Galih Kecamatan Tanjung Bintang diduga dikerjakan secara asal-asalan.

Pekerjaan yang baru dikerjakan tahap awal berupa lapisan penetrasi (Lapen) yang seharusnya sesuai standar pekerjaan Dinas PU ketebalan Lapen 5 cm. Sementara, tebal Lapen yang dikerjakan bervariasi, ada yang 1,5 cm, 2 cm, 2,5 cm dan 3,5 cm.

Proyek yang bernilai pagu sebesar Rp. 2.180.000.000,00 dan dengan nilai kontrak sebesar Rp. 2.147.364.915,52 yang dikerjakan oleh Rekanan CV. Mulya Gama Mandiri sebagai kontraktor tersebut, diduga tidak dikerjakan sesuai dengan spesifikasi.

Mengacu kepada teknis pembangunan berstandar Pekerjaan Umum (PU) Lapisan penetrasi (lapen) harus memiliki ketebalan 5 cm dari atas batu Underlag, sementara di lapangan pekerjaan tersebut rata-rata hanya 3 cm bahkan ada yang ketebalannya cuma 1,5 cm.

Teknis pekerjaan lapen yang seharusnya di atas batu 3,5 disiram aspal (Coting) setelah itu dipasang lagi batu 2,3 dan disiram aspal (Coting) kembali, setelah itu baru dipasang batu 1,2 dan disiram aspal (Coting) kembali setelah itu baru digelar abu batu atau screening. Setelah semua itu terpasang secara merata barulah di adakan pemadatan menggunakan alat berat. Namun, menurut keterangan warga setempat, pekerjaan tersebut tidak dikerjakan seperti apa yang di seharusnya sesuai Spesifikasi.

Menurut warga Dusun 5A Desa setempat yang bernama Andi, saat pekerjaan lapen tersebut dikerjakan, pekerja hanya memasang/ menggelar batu dari ukuran 3/5 serta batu 2/3 sampai batu 1/2 itu di gelar secara bertahap tanpa ada penyiraman aspal dan penyiraman Aspal (Coting) hanya dua kali siram saja.

“Iya, seperti ini pak hasilnya, Aspalnya cuma dua kali siram,” tegasnya kepada Media Rabu (1/12/2021).

(Red)

Pos terkait