Jelang Kunjungan Prabowo ke Lampung, LMND Gelar Aksi Jahit Mulut di Tugu Adipura

Jelang Kunjungan Prabowo ke Lampung, LMND Gelar Aksi Jahit Mulut di Tugu Adipura

 

Bacaan Lainnya

Bongkar Post, BANDAR LAMPUNG – Kunjungan Presiden Republik Indonesia, , ke Provinsi Lampung pada Rabu (10/6) disambut aksi simbolik yang digelar Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW LMND) Lampung di kawasan Bundaran Tugu Adipura, Bandar Lampung.

Aksi yang berlangsung menjelang agenda peresmian sejumlah fasilitas publik dan pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) itu ditandai dengan aksi jahit mulut oleh tiga peserta, yakni Dzaki Oktarian, Mba Bondol, dan Akbar Sumanteri. Ketiganya menjahit mulut sebagai simbol protes terhadap kondisi demokrasi yang dinilai semakin membatasi ruang kritik masyarakat.

Selain aksi jahit mulut, massa juga membentangkan spanduk bertuliskan “Rakyat Menjerit, Nilai Tukar Melejit” serta “Wujudkan Pendidikan Gratis, Ilmiah, dan Demokratis”. Pesan tersebut menjadi bagian dari tuntutan terkait persoalan ekonomi masyarakat dan akses pendidikan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat.

Koordinator aksi, Joshua, mengatakan aksi jahit mulut bukan sekadar teatrikal, melainkan bentuk penyampaian keresahan terhadap kondisi demokrasi saat ini.

“Jahit mulut ini sebenarnya simbolis. Kami melihat bagaimana suara-suara sipil dibungkam. Padahal masyarakat sipil hanya memiliki suara dan pikiran kritis untuk menyampaikan aspirasi,” kata Joshua di lokasi aksi.

Menurut EW LMND Lampung, kritik yang disampaikan kelompok masyarakat sipil kerap dipandang sebagai ancaman terhadap stabilitas. Padahal, kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi dan menjadi sarana kontrol terhadap kebijakan publik.

Mereka menilai demokrasi tidak hanya diukur dari penyelenggaraan pemilihan umum, tetapi juga dari sejauh mana negara menjamin kebebasan warga negara untuk menyampaikan pendapat tanpa intimidasi maupun kriminalisasi.

Ketua EW LMND Lampung, Dinda Boru Napitu, menyatakan aksi tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral mahasiswa untuk menyuarakan kepentingan rakyat.

“Mahasiswa memiliki tanggung jawab historis untuk terus menyuarakan kepentingan rakyat. Aksi jahit mulut ini merupakan kritik simbolik terhadap berbagai upaya pembungkaman yang terjadi di ruang demokrasi. Kami ingin menegaskan bahwa rakyat membutuhkan ruang partisipasi yang luas, pendidikan yang gratis, ilmiah, dan demokratis, serta kebijakan ekonomi yang benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat luas, bukan hanya kelompok tertentu,” ujarnya.

Dinda menambahkan, LMND akan terus mengonsolidasikan gerakan mahasiswa dan rakyat dalam memperjuangkan demokrasi yang substantif serta keadilan sosial. Menurutnya, mahasiswa harus tetap berperan aktif mengawasi jalannya pemerintahan dan menyampaikan aspirasi masyarakat.

Melalui aksi tersebut, EW LMND Lampung berharap pemerintah dapat memandang kritik sebagai bagian dari tradisi demokrasi yang sehat serta menjadikannya masukan dalam perumusan kebijakan publik yang lebih berpihak kepada kepentingan rakyat.

Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat pernyataan resmi dari pihak Istana Kepresidenan maupun pemerintah terkait tuntutan yang disampaikan dalam aksi tersebut. Sementara itu, kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Lampung diketahui bertujuan meresmikan sejumlah fasilitas publik dan menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) HIPMI sebagai bagian dari agenda pemerintahan dan pembangunan nasional.

Di sisi lain, pemerintah selama ini menyatakan bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak konstitusional warga negara yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945. Pemerintah juga menegaskan keterbukaan terhadap berbagai masukan dan kritik masyarakat sebagai bagian dari proses demokrasi dan evaluasi kebijakan publik (*)

Pos terkait