Iran Ajukan 5 Syarat Ketat untuk Akhiri Perang dengan AS dan Israel, Tolak Proposal Gencatan Senjata Trump
Bongkar Post | Teheran – Iran secara resmi menolak proposal gencatan senjata 15 poin yang diajukan pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan membalas dengan lima syarat sendiri untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026. Menurut pejabat senior politik-keamanan Iran yang dikutip media pemerintah Press TV, perang hanya akan berakhir jika kelima syarat tersebut dipenuhi sepenuhnya.

Kelima syarat tersebut, seperti yang dirinci dalam laporan Press TV dan dikonfirmasi berbagai media internasional, adalah: Penghentian total agresi dan pembunuhan (assassinations) – Semua serangan militer, operasi rahasia, serta pembunuhan targeted terhadap pejabat atau warga Iran oleh AS dan Israel harus dihentikan sepenuhnya.
Jaminan konkret agar perang tidak terulang – Dibutuhkan mekanisme yang jelas, dapat diverifikasi, dan objektif untuk mencegah agresi serupa di masa depan terhadap Republik Islam Iran.
Pembayaran ganti rugi perang yang jelas dan dijamin – AS dan Israel wajib membayar kompensasi finansial yang terdefinisi secara tegas atas kerusakan yang dialami Iran akibat konflik.

Penghentian perang di semua front dan melibatkan seluruh kelompok perlawanan – Konflik harus diakhiri secara menyeluruh di seluruh kawasan, termasuk gencatan senjata dengan kelompok sekutu Iran seperti Hezbollah dan pihak-pihak lain yang terlibat.
Pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz – Iran menuntut pengakuan internasional atas hak kedaulatannya yang sah dan alami untuk mengendalikan Selat Hormuz, yang menjadi jaminan pelaksanaan komitmen pihak lain. Selat ini merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia.
Laporan media Ibrani (Channel 12) dan sumber-sumber Barat seperti The Hill, NPR, dan Anadolu Agency menyebut syarat-syarat ini sebagai “ketat” dan “berat”. Beberapa variasi kecil muncul dalam laporan awal (seperti penutupan pangkalan militer AS di kawasan), tetapi inti lima poin di atas konsisten di laporan terbaru per 25-26 Maret 2026.
Latar Belakang Konflik
Konflik terbuka antara Iran di satu pihak dengan AS dan Israel di pihak lain meletus pada akhir Februari 2026. Perang ini telah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur di kedua belah pihak. Presiden Trump sebelumnya mengumumkan upaya negosiasi tidak langsung dan menyodorkan proposal 15 poin yang, menurut sumber Iran, dianggap “berlebihan” dan tidak dapat diterima. Iran menegaskan bahwa pihaknya akan melanjutkan “pukulan berat” hingga syaratnya dipenuhi.
Reaksi Pihak Lain
Israel dilaporkan skeptis terhadap prospek kesepakatan dan tetap waspada, bahkan memanggil puluhan ribu cadangan. Pemerintahan Trump belum memberikan tanggapan resmi terbaru terhadap lima syarat Iran, meski sebelumnya menyatakan ingin perang segera berakhir. Sementara itu, media Iran menekankan bahwa keputusan akhir kapan perang berhenti sepenuhnya berada di tangan Teheran.
Analisis Kritis Konteks Secara Objektif
Secara faktual, lima syarat Iran mencerminkan posisi bargaining yang kuat dari pihak yang sedang bertahan. Syarat nomor 5 tentang Selat Hormuz memiliki bobot strategis tinggi karena jalur tersebut mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak global; pengakuan kedaulatan di sana berpotensi memengaruhi harga energi dunia dan keamanan maritim internasional.
Demikian pula tuntutan ganti rugi dan jaminan non-rekuren menunjukkan upaya Iran untuk memperoleh kompensasi material sekaligus jaminan keamanan jangka panjang, bukan sekadar gencatan senjata sementara.
Dari sisi keseimbangan kekuatan, proposal AS (15 poin) tampak lebih menekankan pembatasan program nuklir Iran dan komitmen jangka panjang, sementara respons Iran bersifat reaktif-defensif dengan fokus pada penghentian agresi langsung dan reparasi.
Hal ini menciptakan jurang yang lebar antara kedua tawaran, sehingga peluang kesepakatan cepat dinilai rendah oleh pengamat. Israel yang skeptis menambah kompleksitas, karena Tel Aviv cenderung mengutamakan opsi militer daripada kompromi yang dianggap menguntungkan Teheran.
Dalam konteks regional yang lebih luas, konflik ini telah melibatkan aktor non-negara (kelompok perlawanan) dan berisiko memicu eskalasi lebih lanjut di Lebanon, Yaman, atau Teluk. Secara ekonomi, ketidakpastian di Selat Hormuz sudah berdampak pada pasar minyak global. Secara geopolitik, posisi Iran yang menolak proposal AS menunjukkan ketahanan diplomatik meski berada di bawah tekanan militer, namun juga membawa risiko isolasi lebih lanjut jika negosiasi macet total.
Semua pihak kini menghadapi dilema: AS dan Israel harus mempertimbangkan biaya politik dan ekonomi lanjutan perang, sementara Iran harus menjaga kredibilitas domestik dengan tidak tampak “menyerah”. Situasi masih sangat dinamis; perkembangan selanjutnya sangat bergantung pada saluran tidak langsung yang masih terbuka dan reaksi pasar energi global.
Artikel ini disusun berdasarkan laporan langsung dari: Press TV, Tribunnews, The Hill, NPR, DW, Anadolu Agency, dan Middle East Monitor per 25-26 Maret 2026.
Situasi dapat berubah cepat.
(Red)







