Hidup Anak Singkong! Prabowo: Stop Impor Tapioka, Rakor Singkong di Kementan, Andi Amran: Rp1.350/Kilogram
BANDARLAMPUNG, BONGKARPOST.CO.ID – Di luar dugaan turut hadir daring via Zoom, dan turut pula memberikan arahan ditektif, Kepala Negara, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman untuk segera menghentikan impor tepung tapioka hingga batas waktu yang belum ditentukan, pada rapat koordinasi membahas carut marut tata niaga ubikayu (singkong) di Lampung yang dipimpin langsung oleh Mentan Andi Amran di kantornya di Jakarta, Jum’at (31/1/2025).
Presiden Prabowo, bersongkok hitam berbatik kecokelatan, menaruh perhatian besar atas karut marut tata niaga singkong di Lampung, provinsi sentra produksi singkong terbesar di Tanah Air ini.
Selain Presiden, Rapat Koordinasi Ubikayu yang sesuai undangan dilayangkan melalui Dirjen Tanaman Pangan Kementan Dr Yudi Sastro pada 24 Januari lalu, digelar di Ruang Pola Gedung A kantor Kementan, Jl Harsono RM Dalam Nomor 3, Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dengan agenda tunggal pembahasan harga singkong ini, dihadiri puluhan pemangku kepentingan.

Yakni, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Ketua Panitia Khusus (Pansus) Tata Niaga Ubikayu DPRD Provinsi Lampung Mikdar Ilyas, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DKPTPH) Provinsi Lampung, Bani Ispriyanto; dan Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (KPTPHP) Kabupaten Lampung Timur, Tri Wibowo.
Lalu, Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), petani ubikayu Gunung Balak Lampung Timur, dan masing-masing dua perwakilan kelompok tani (Poktan) Ubikayu Kabupaten Pesawaran, Poktan Ubikayu Kabupaten Lampung Tengah, Poktan Ubikayu Kabupaten Lampung Timur, Poktan Ubikayu Kabupaten Lampung Utara, Poktan Ubikayu Kabupaten Tulang Bawang, Poktan Ubikayu Kabupaten Tulang Bawang Barat, dan Poktan Ubikayu Kabupaten Mesuji.
Juga, Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI) Provinsi Lampung, petugas penyuluh pertanian Kabupaten Lampung Tengah Dan, pimpinan perusahaan tapioka Lampung yakni PT Budi Starch & Sweetener anak usaha Sungai Budi Group, PT Kapal Api Group, PT Sinar Laut Group, PT Sinar Pematang Mulia, PT Umas Jaya Agrotama (UAJ), dan PT Tedco.
Dalam jumpa pers, Mentan Andi Amran lugas menyatakan, “perusahaan harus untung, petani harus tersenyum,” ujar dia, rakor ini memutuskan koreksi harga keekonomian singkong menjadi Rp1.350 per kilogram. Plus, Satgas Kementan akan turun lapangan.
Terdahulu, Amran mengafirmasi pihaknya akan menindak tegas pengusaha yang lebih memilih produk tapioka impor ketimbang menyerap hasil panen petani harga pantas. “Jangan zalimi petani,” wanti Amran, yang geram sampai dirinya meragukan patriotisme pengusaha tapioka yang lebih sayang petani luar ketimbang produk petani sendiri.
“Kami akan undang industri, petaninya, importir agar jangan zalimi petani,” janji dia, Jumat pekan lalu itu, meminta pengusaha serap singkong dalam negeri, mengingatkan pula Presiden Prabowo menekankan agar stakeholder melindungi dan menyejahterakan petani yang lelagi kecewa sebab pengusaha menebus murah singkong hasil kebunnya.
Pengingat sebelumnya, rakor pembahasan harga singkong inisiasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung dipimpin Pj Gubernur Lampung Dr Samsudin didampingi oleh Pj Sekdaprov Fredy, anggota Komisi IV DPRD Lampung dari Fraksi Gerindra Wahrul Fauzi Silalahi, pimpinan 29 perusahaan dan badan usaha produsen tapioka di Lampung, serta PPUKI Lampung menyepakati 8 keputusan bersama 23 Desember 2024 antara lain poin stop impor tapioka, dan penetapan harga keekonomian ubikayu Rp1.400 per kg usia panen 9 bulan rafaksi maksimal 15 persen.
Sudah saatnya. Petani berdaulat di negeri sendiri. Keberpihakan penuh pemerintah, penanda negara hadir, adalah amanat konstitusi. Amanat poin pertama dan kedua tujuan nasional pemerintah Negara Republik Indonesia, sebagaimana dibunyikan dalam Alenia IV Pembukaan UUD 1945.
“Melindungi seluruh bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia, dan memajukan kesejahteraan umum.” Bukan kesejahteraan kapitalis. Hidup Anak Singkong! (Muzzamil)







