Disdikbud Metro Minta Mitra Program MBG Lebih Tertib dan Terencana

Bongkarpost.co.id

Metro,

Bacaan Lainnya

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Metro mencatat hingga pertengahan tahun 2025 baru dua dapur pada Program makan bergizi gratis (MBG) yang aktif melayani peserta didik dari total 227 satuan pendidikan yang ditargetkan menerima layanan tersebut.

Program (MBG) yang diinisiasi oleh pemerintah pusat dan digaungkan sebagai tonggak pemenuhan gizi anak sekolah, masih berjalan lambat di Kota Metro.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Disdikbud Kota Metro, Suwandi melalui Sekretaris, Dedy Hasmara saat di konfirmasi awak media mengenai hal tersebut, Senin (23/6/2025).

Menurutnya bahwa dua dapur yang saat ini aktif masing-masing berada di Kecamatan Metro Pusat dan Metro Barat.

“Dapur di Metro Pusat melayani 24 sekolah, sementara di Metro Barat melayani 12 sekolah. Itu berarti baru menyentuh sebagian kecil dari target keseluruhan,” ujarnya.

Dedy merinci, Kota Metro memiliki 65 SD, 30 SMP, 55 kelompok bermain (Kober), 63 TK, 8 PKBM, 1 SKB dan 5 TPA yang menjadi sasaran program MBG. “Total ada 227 sekolah. Artinya baru sekitar 15 persen yang terlayani,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa program MBG tidak dijalankan selama libur semester, dan pengawasan terhadap pelaksanaannya dilakukan melalui dua tahap, yaitu validasi data siswa di awal perencanaan, dan koordinasi intensif dengan sekolah selama pelaksanaan.

“Sampai saat ini, secara resmi belum ada kendala atau keluhan yang signifikan. Untuk masalah alergi makanan pada siswa sudah diantisipasi sejak awal oleh mitra dapur,” ungkapnya.

Program MBG sejatinya bukan sekadar proyek distribusi makanan, tetapi sebuah intervensi kesehatan jangka panjang yang membutuhkan sinergi lintas sektor. Oleh karena itu, Dinas Pendidikan meminta agar mitra dapur tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Kami berharap mitra MBG ke depan melakukan sosialisasi kepada kepala sekolah penerima manfaat sebelum distribusi dilakukan. Itu penting agar sekolah bisa mempersiapkan dengan baik, termasuk data kebutuhan anak dan ruang penyajian,” tegas Dedy.

Ia juga menekankan pentingnya pemetaan lokasi dapur agar tidak tumpang tindih.

“Kami sudah sampaikan, jangan sampai ada dua dapur yang beroperasi di area yang sama. Itu bisa menimbulkan ketidakefisienan logistik dan risiko duplikasi distribusi,” imbuhnya.

Di ketahui bahwa program mbg adalah sebuah bagian dari strategi pemerintah pusat untuk mengatasi stunting dan peningkatan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia.(**)

Pos terkait