Dinas Pariwisata Lamsel Perkuat Pelestarian Budaya Lewat Pelatihan Tari Kiamat
Bongkar Post, Penengahan
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menggelar kegiatan pelestarian seni budaya berupa Pelatihan Tari Kiamat yang berlangsung di Aula Hall SMP Negeri 1 Penengahan,
Selasa,(9/12/2025).
Kegiatan ini digagas sebagai langkah strategis untuk melestarikan kesenian tradisional daerah sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.

Acara tersebut dihadiri oleh Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Selatan Dra. Intji Indriati, M.H, Kabid Kebudayaan dan Pariwisata Rohina,S.E.,M.M narasumber Keratuan Darah Putih Aden Yogha,S.H Raden Mas Kesuma Ratu, narasumber musik Syamsul Nasri, narasumber gerak Mustika Wulandari, S.Pd. juga Sanggar Intan Kuripan dan sejumlah guru pendamping dari berbagai sekolah. Peserta pelatihan terdiri dari siswa-siswi SMPN 1 Penengahan, SMPN 2 Kalianda, SMPN 1 Rajabasa, SMA Kebangsaan, dan MAN 1 Kalianda.
Dalam sambutannya, Dra. Intji Indriati menyampaikan bahwa pelatihan ini bukan hanya tentang mempelajari gerakan tari, tetapi juga memahami filosofi yang terkandung di dalamnya.
“Kami berharap para peserta dapat meresapi dan menjiwai setiap gerakan Tari Kiamat. Harapan kami, ke depan tarian ini dapat ditampilkan dalam event-event tertentu dengan tetap mendapatkan izin keluarga Keratuan. Dinas Pariwisata tentu akan mendukung agar kesenian tradisional ini semakin dikenal luas oleh wisatawan sebagai identitas budaya Lampung Selatan,” ujarnya.
Selaku narasumber utama, Aden Yogha Raden Mas Kesuma Ratu menjelaskan bahwa Tari Kiamat merupakan tarian sakral Keratuan Darah Putih yang memiliki nilai sejarah panjang. Tarian ini secara turun-temurun menjadi penanda berakhirnya upacara Nyambai selama tujuh hari serta prosesi Bujenong Jakhu Marga atau penobatan Ratu Keratuan Darah Putih.
Yogha menegaskan bahwa keluarga Keratuan hanya memberikan izin untuk pelatihan dan pengenalan dalam konteks edukasi budaya.
“Tarian ini boleh dipentaskan untuk tujuan pelestarian dan pengenalan sejarah. Namun tidak boleh digunakan oleh keluarga, kelompok, atau pihak mana pun sebagai identitas kelompok atau simbol tertentu,” tegasnya.
Terkait rencana menghadirkan Tari Kiamat dalam event pariwisata, Yogha menyatakan hal tersebut dapat dilakukan asalkan tetap sesuai koridor adat.
“Kami mendukung pelestarian budaya ini sepanjang berada dalam pengawasan keluarga Keratuan dan menjaga nilai sakralnya. Warisan ini harus tetap lestari tanpa menghilangkan makna adatnya,” pungkas Aden Yogha.
Pelatihan Tari Kiamat ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam upaya memperkuat warisan budaya Lampung Selatan, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni tradisional daerah. Cek it dot (Hb)







