Bongkar Post
Bandarlampung,
Isu, berita, gosip, wacana, opini politik, pilkada, dan sebagainya mewarnai pemberitaan setiap hari di ruang digital publik. Maklum, ini tahun politik.
Terkait pendapat dari Budiono, salah satu pengamat politik Universitas Lampung (Unila) yang dimuat dalam media online hari ini, Rabu, 17 April 2024, tentang analisa kekuatan finansial dan dukungan partai politik terhadap Arinal Junaidi (petahana) yang diprediksi bakal menang tanpa lawan alias versus kotak kosong, kontan mengundang reaksi dari banyak pihak. Salah satu akademisi dari kampus yang sama ikut mengomentari pandangan itu, Dedy Hermawan, pengamat politik dari Fisip Unila.
“Siapa pun bebas mengemukakan pendapat, itu diskursus. Perlu disikapi secara positif dan obyektif. Positifnya, pandangan Budiono itu dapat merangsang sikap kritis dari masyarakat, ini bagus dalam konteks edukatif,” ujarnya kepada bongkarpost.co.id ketika dimintai pendapatnya pada Rabu (17/4) siang.
Dia katakan, pandangan itu obyektifitasnya dipertanyakan karena memastikan potensi kemenangan Arinal sebagai petahana (incumbent) hanya berpatokan pada dua hal saja, yakni memiliki kekuataan finansial ratusan miliar dan dia ketua salah satu partai besar di Lampung. Ini pragmatis, sehingga dibutuhkan sikap lain yang berimbang agar dapat mengedukasi masyarakat dengan lebih baik.
“Menurut saya, ukuran kemenangan lebih dominan kepada history atau track record kepemimpinan dia sebagai Gubernur Lampung. Ini jauh lebih ilmiah dan obyektif. Saya nilai, 4 indikator keberhasilan sebuah kepemimpinan tidak terpenuhi alias gagal dijalankan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) rendah, infrastruktur bermasalah, tingkat kemiskinan bertambah, dan ukuran perekonomian rakyat turun,” bebernya kepada media ini ketika diwawancarai via ponsel.
Menurut Dedy, dengan gagalnya pelaksanaan 4 hal tersebut menjadi tolak ukur penurunan elektabilitas seorang incumben, endingnya bakal tidak dipilih lagi oleh rakyat. Selain itu, 2 calon gubernur dari partai yang sama semakin mengecilkan peluang lolos untuk diusung sebagai calon tunggal. Bahkan sudah terjadi perpecahan internal.
“Terlepas pilgub nanti lebih demokratis atau bahkan menghasilkan oligarki baru, siapa pun incumben yang gagal pasti elektabilitasnya di mata publik akan menurun, sulit menang, bertumbangan. Tentu diiringi dengan kinerja lembaga survey pastinya. Posisi ini akan membuka ruang besar bagi balongub lain sebagai pesaing dalam kontestasi politik pilgub ke depan, ini kesempatan bagus bagi balongub lainnya,” tutupnya. (Nop)







