Lampung Selatan, BP
Proyek pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Desa Purwosari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan dengan anggaran Rp734.913.612,19 yang dikerjakan CV. Zafira terindikasi tak sesuai spek.
Pasalnya, material batu yang digunakan hanya batu putih dengan kondisi yang mudah hancur. Kemudian ukuran besi slop 8″ dan besi ring 4″. Sementara, bak penampungan air hanya berukuran 2x2x1,5 meter.
Parahnya, sumur bor dengan kedalaman 100 meter hanya dipasang paralon untuk kedalaman 40 meter.
Kegiatan akhir tahun 2023 di Dinas PSDA Provinsi Lampung ini seolah dipaksakan untuk menghabiskan sisa anggaran, apalagi dikerjakan di bulan November. Sehingga pelaksanaan kegiatan tersebut dipastikan tidak maksimal, dan dikejar waktu.
Ditambah lagi dengan tidak adanya papan informasi dan pekerja yang tidak menggunakan perlengkapan K3, bahkan tidak ada pengawasan dari Dinas PSDA Lampung.
“Kalau kata tukang sumur bor itu menggunakan 10 batang paralon untuk kedalaman 40 meter, padahal sumur bor itu kedalamannya 100 meter, jadi kedalaman 60 meter tidak menggunakan paralon,” ungkap H. Tahyono pemilik lahan lokasi proyek.
Saat ia menanyakan kepada pekerja terkait kedalaman sumur bor 100 meter yang hanya dipasang paralon 40, menurut para pekerja itu tidak menjadi masalah.
“Kata tukang bor nya tidak masalah hanya menggunakan 10 batang paralon yang penting airnya lancar. Padahal kedalaman sumur bor itu kan 100 meter,” ungkap Tahyono.
Diungkap juga, awalnya pembangunan sumur bor bukan berada di lokasi tanahnya, tapi di titik lain yang masih di Dusun Adipurwo, Desa Purwosari, Natar, Lamsel. Namun ia tidak mengetahui ada permasalahan apa sehingga lokasi lahan berpindah.
“Saya tidak tahu kalau lokasi pembangunan ini akan dilaksanakan di lokasi tanah saya. Ya, namanya bantuan, kita mau saja nerimanya,” tambahnya.
“Memang syaratnya saya harus menghibahkan tanah untuk lokasi pekerjaan, dan saya sudah buat surat hibah, hanya melalui kelompok tani dan surat hibahnya dibawa oleh kelompok tani. Setahu saya tidak melalui Kepala Desa Purwosari,” lanjut Tahyono.
Selain itu, karena pekerjaan berada di lokasi tanahnya, ia pun tahu benar hasil pekerjaannya.
“Ya, kerjanya seperti dikejar waktu, orang dinas gak pernah ada di lokasi. Awalnya saya bingung kok di akhir tahun kemarin sudah tidak ada yang kerja lagi, gak tahunya pekerjaan itu sudah selesai. Kok hanya ini hasilnya,” pungkasnya.
Sementara warga setempat, Badrun mengatakan untuk pembesian pada pekerjaan hanya menggunakan besi ukuran sekitar 8″ dan ring hanya menggunakan besi berukuran 4″.
“Ya itu untuk slop pondasi hanya menggunakan besi ukuran seperti itu dan hanya beberapa batang besi. Dikarenakan yang menggunakan besi itu hanya pada bagian slop pondasi saja,” tukasnya.
“Kalau untuk bak penampungan air hanya berukuran lebar 2 meter panjang 2 meter dan tinggi 1,5 meter. Apa kira kira bisa maksimal untuk menampung air yang mengalirkan puluhan hektar sawah,” ujar Badrun mempertanyakan.
Tak hanya itu, dia juga mempertanyakan ukuran paralon untuk mengairi air ke sawah yang dipendam dalam tanah. Pasalnya, ukuran paralon hanya 2″, dan pemasangan paralon hanya ditimbun tanah, tidak dipondasi.
“Dengan kondisi seperti ini, paralon dikhawatirkan akan mudah pecah karena tidak terlindungi pondasi yang kuat,” jelasnya. (fir)







