Bongkar Post – Kembali ke Titik Nol, Ingat 3 Titik KM 0 Ini

Tokoh Lampung kelahiran Aceh, Dr Andi Surya dan keluarga di titik KM Nol NKRI, Kota Sabang, Pulau Weh, Provinsi Aceh, Minggu (14/4/2024). | dokpri/Muzzamil

Bongkar Post

Bacaan Lainnya

BANDARLAMPUNG – Banyak yang bilang, selain jadi simbolisasi hari kemenangan usai sebulan penuh menunaikan kewajiban Rukun Islam ketiga yakni puasa Ramadan, momen Idul Fitri bagi umat muslim juga identik dengan kembali bersih sucinya diri seorang muslim dari segala dosa. Bak kembali ke titik nol.

Bicara titik nol, warga Bumi Ruwa Jurai Lampung masih banyak yang belum “ngeh” bahwa patok sederhana berbahan semen cor meletak sisi pohon di bibir luar trotoar jalan persis depan RM Ampera Tuah Sakato, Jl Wolter Monginsidi Kelurahan Kupangkota, Telukbetung Utara, Bandarlampung, ialah patok resmi titik Kilometer Nol (KM 0) Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Lampung.

Kurang diketahui persis sejak kapan patok jalan tersebut dibangun dijadikan patokan, apakah bersamaan sejak selesainya proses pembangunan atau mulai beroperasinya gedung kantor pemerintah daerah (Pemda) Provinsi Lampung usai pindah dari kantor lama, kantor Gubernur Lampung yang pernah menempati bangunan yang kini menjadi gedung kantor Telkom di Jalan Hasanudin sebelum area Pasar Kangkung, Telukbetung Selatan, Bandarlampung.

Bicara titik nol, kita ingat bangunan estetik berbentuk 9 kerucut kuning keemasan berderet memanjang mengadopsi bentuk mahkota pengantin wanita (Siger) dalam adat Lampung, dengan kerucut sisi tengah lebih besar lebih tinggi jadi puncak menara, serta 9 pucuk simbolisasi 9 bahasa dalam masyarakat Lampung, mahakarya arsitek kebanggaan Lampung Anshori Djausal, inventor teknologi terapan teknik ferosemen (teknik pembangunan infrastruktur fisik memakai jaring kawat semirip jaring laba-laba, dikonstruksikan tahan terpaan angin kencang tahan gempa), dibangun per 2005 bea Rp15 miliar, legasi pembangunan dua periode Gubernur Lampung 2003-2014 Sjachroedin ZP yang meresmikannya pada 30 April 2008: Menara Siger.

Menara penanda “ayo bangun, bentar lagi sampai Bakau, itu dah keliatan menaranya” bagi penumpang moda transportasi laut jalur penyeberangan Selat Sunda, setinggi 110 meter di atas permukaan laut (mdpl), tepat hadap gerbang masuk Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Lampung Selatan, ikon pariwisata, keagamaan, seni budaya, pendidikan, dilengkapi informasi peta wisata 15 kabupaten/kota di Lampung, landmark Provinsi Lampung sekaligus titik KM 0 selatan Sumatera.

Secara filosofis, Gubernur Sjachroedin sang penggagas saat itu bilang, Menara Siger bukan monumen masa lalu nun bangunan masa depan yang akan jadi kebanggaan dan identitas lokal dari Lampung itu sendiri.

Sejarah pembangunannya didasarkan pada ikon yang menonjol dari kebudayaan khas masyarakat Lampung, direpresentasikan dengan bangunan tugu sekitar, di dalamnya dibuat ruangan penyapu pemandangan Pelabuhan Bakauheni dengan panorama pelengkap. Bangunan, berisi data astra gatra: trigatra (letak geografis, demografis, kekayaan sumberdaya alam), serta panca gatra (ideologi dan pertahanan keamanan).

Di situ ada pula payung putih kuning merah penanda puncak menara. Payung ini simbol tatanan sosial. Menara Siger, diabdikan pula sebagai cerminan budaya masyarakat serta identitas masyarakat Lampung yang punya filosofi berpikir bertindak dengan visi misi mewujudkan Provinsi Lampung yang unggul dan berdaya saing.

Jika dua lokasi KM 0 ujung Sumatera ini di Lampung, dimana pangkalnya? Diketahui, titik KM 0 Negara Kesatuan RI ada di Kota Sabang, Pulau Weh, Provinsi Aceh.

Mudikers asal Lampung kelahiran Tanah Rencong tersebut, mantan wartawan dan legislator, kini politisi, tokoh pendidikan dan traveler Dr Andi Surya berbagi foto terbaru suasana lokasi KM 0 Republik Indonesia ini, Minggu (14/4/2024).

“Sabang Kilometer 0, perkuat NKRI, Pulau Weh penjaga integrasi bangsa,” tulis Andi Surya, eks Ketua Partai Hanura Lampung dan anggota DPRD Lampung 2009-2014, anggota DPD/MPR RI 2014-2019 dapil Lampung dan Wakil Ketua Partai Golkar Lampung 2019-2024 Bidang Pendidikan ini, selain Ketua Yayasan Umitra Indonesia, berpose bareng sang istri, Rektor Umitra Indonesia Reny Andi Surya, dan keluarga.

Terpantau dari Bandarlampung, Andi Surya dan keluarga melanjutkan agenda mudiknya dengan berlibur menikmati suasana bahari pulau tersebut sekitarnya sembari mancing. (Muzzamil)

Pos terkait