Bongkar Post – Gas Subsidi 3 Kg Sulit didapat, Warga Resah dan Kelaparan

 

Bongkar Post

Bacaan Lainnya

Bandarlampung,

Lagi-lagi warga kota Bandarlampung dihadapkan pada masalah kelangkaan dan kesulitan membeli gas elpiji jenis subsidi 3 kg di Kota Bandarlampung.

Masalah klasik ini kembali terulang. Tim Bongkar Post temukan fakta tersebut di sekitar Jalan Karimun Jawa Sukabumi kota Bandarlampung, Selasa, 21 Mei 2014 siang.

Terlihat seorang gadis kecil terduduk lesu, lemas, nyaris menangis sambil memandangi tabung gas melon 3 kg di hadapannya dengan memegang sejumlah uang di depan sebuah toko agen gas elpiji. Dia mengaku kelaparan belum makan siang lantaran belum masak karena gas habis.

Beberapa warga mengalami nasib yang sama.

“Gas bukan habis, saya liat barusan mobil merk PT berlogo Pertamina dari warung besar itu. Tabung gas baru banyak di sana,” ujar salah seorang warga inisial RN kepada media ini. Dia adalah bapak dari anak kecil itu.

Dia mengatakan, pemilik warung meminta syarat agar yang bersangkutan bisa membeli tabung gas.

“Masa saya dimintai KTP mas, kaget. Ribet amat beli gas kecil gini aja harus pake identitas. Setelah saya serahkan KTP tetap tidak bisa membeli karena ada peraturan lainnya,” curhatnya dengan nada sedih dan kecewa kepada bongkarpost.co.id.

“Masa mas belum tahu peraturan pemerintah ya, sekarang beli tabung gas subsidi dengan menunjukkan KTP, tapi harus terdaftar dulu di aplikasi subsidi,” kata dia menirukan ucapan ibu pemilik warung tersebut.

Dikatakannya lagi, bahwa bila sudah terdaftar sebagai warga penerima gas subsidi dikasih harga paling mahal Rp 20.000. Sebaliknya, akan dikenakan tarif non subsidi Rp 45.000.

“Sedih saya mas, jauh-jauh keliling cari toko jual tabung gas, malah dipersulit oleh aturan pemerintah. Kami rakyat kecil, kenapa dibuat susah,” terangnya sambil melihat anaknya, gadis kecil itu, yang terduduk lesu menahan lapar.

Miris dan menyedihkan. Dalam euforia politik ditengah janji manis para politisi berebut, berkompetisi dalam Pilkada/Pilwakot/Pilbup/Pilgub di tanah Lampung tercinta, serta klaim pertumbuhan ekonomi meningkat dari para pejabat publik yang notabene pelayan masyarakat, masih menyisakan kesulitan ekonomi mendasar di perkotaan. (CW ER)

Pos terkait