Foto. Istimewa
Bongkarpost.co.id, Lampung
Proyek pembangunan gapura utama Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung yang mangkrak memantik kritik tajam dari kalangan alumni dan mahasiswa.
Di tengah fasilitas kampus yang memprihatinkan, pemborosan anggaran dinilai tak bisa dibenarkan.
“Gapura itu tidak penting, yang penting ruang kuliah layak. Ini pintu banyak yang kropos, kursi pun ada yang rusak,” kata seorang mahasiswa Fakultas Tarbiyah yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui tim media di lokasi, Senin (5/5/2025).
Sorotan tajam juga datang dari Persatuan Alumni dan Mahasiswa UIN RIL (PAMAN UIN RIL).
Ade Sumaryanto, Koordinator PAMAN RIL, menyayangkan kebijakan kampus yang terkesan tidak berpihak pada kebutuhan mendesak mahasiswa.

“Bayangkan, bangunan gapura mangkrak, pintu ruang kuliah lapuk, dan kursi belajar rusak. Ini potret nyata pengelolaan anggaran yang buruk,” tegas Ade saat mendampingi tim investigasi turun ke lapangan.
Menurutnya, proyek gapura itu seolah dipaksakan meski kebutuhan riil kampus jauh lebih mendesak.
Ia juga mempertanyakan transparansi proyek tersebut.
“Hingga saat ini, kami belum menemukan papan informasi proyek di lokasi. Ini menyalahi prinsip akuntabilitas publik,” tambahnya.
Tak hanya soal infrastruktur, PAMAN UIN RIL juga menyoroti dugaan pungutan liar (pungli) di kalangan fakultas.
Dalam rilis sebelumnya, organisasi alumni ini menyebut adanya praktik pungli dalam proses ujian skripsi, yang mewajibkan mahasiswa membayar uang jutaan rupiah untuk ‘oleh-oleh’ dan ‘amplop’ bagi tim penguji.
“Ini jelas melanggar aturan. Mahasiswa sudah membayar UKT, tapi masih dibebani biaya tambahan yang tidak masuk akal,” kata Ade Sumaryanto tegas.
Pihak kampus hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait gapura yang mangkrak maupun dugaan pungli tersebut. Humas UIN RIL belum berhasil dikonfirmasi saat berita ini diturunkan.
Sementara itu, tim masih menelusuri siapa pelaksana proyek pembangunan gapura, nilai pagu anggaran, serta sumber dana yang digunakan. Sejumlah mahasiswa mengaku tidak pernah melihat plang proyek, sehingga mempertanyakan transparansi kegiatan tersebut. (Red)







