14 Orang Meninggal Dunia, 84 Luka-Luka dalam Tabrakan Maut KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur

14 Orang Meninggal Dunia, 84 Luka-Luka dalam Tabrakan Maut KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur

 

Bacaan Lainnya

Bongkar Post | Bekasi – Tragedi kecelakaan kereta api maut terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026) malam sekitar pukul 20.52-20.53 WIB. Tabrakan antara Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line dengan Kereta Api jarak jauh Argo Bromo Anggrek menyebabkan 14 orang meninggal dunia dan 84 orang luka-luka.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, menyampaikan data terbaru per Selasa (28/4/2026) pukul 08.45 WIB. Seluruh korban meninggal dunia merupakan penumpang KRL, sementara 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat. Korban luka telah mendapatkan perawatan di berbagai rumah sakit di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Lima jenazah telah teridentifikasi, sementara sisanya masih dalam proses identifikasi di RS Polri Kramat Jati.

 

Kronologi Kejadian

Kecelakaan berawal dari insiden di perlintasan sebidang JPL 85 (dekat Bulak Kapal/Sholeh Iskandar/Ampera). Sebuah taksi listrik Green SM diduga mogok atau berhenti di tengah rel, sehingga tertemper oleh KRL jurusan Bekasi-Cikarang. Akibatnya, KRL mengalami pengereman mendadak dan berhenti di jalur aktif dekat Stasiun Bekasi Timur (KM 28+920).

Dari arah belakang, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju tidak sempat berhenti dan menabrak keras bagian belakang rangkaian KRL. Benturan sangat kuat hingga lokomotif Argo Bromo tembus ke dalam gerbong KRL, menyebabkan kerusakan parah pada gerbong belakang.

Proses evakuasi korban yang terjepit berlangsung dramatis hingga Selasa pagi. Semua jenazah telah dievakuasi, dan operasional kereta di wilayah tersebut sedang dipulihkan secara bertahap.

 

Respons KAI dan Pihak Terkait

KAI menyatakan turut berduka cita mendalam atas peristiwa ini. Perusahaan menanggung seluruh biaya pengobatan korban luka serta pemakaman korban meninggal dunia. Posko darurat didirikan di Stasiun Gambir dan Stasiun Bekasi Timur selama 14 hari ke depan.

Green SM Indonesia, operator taksi listrik yang terlibat, menyatakan memberikan perhatian serius terhadap insiden tersebut dan mendukung penuh proses investigasi yang dilakukan pihak berwenang.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan pihak kepolisian akan melakukan penyelidikan menyeluruh untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan, termasuk peran perlintasan sebidang dan faktor keselamatan operasional.

Peristiwa ini kembali menyoroti kerawanan perlintasan sebidang di jalur kereta api yang masih banyak ditemui di Indonesia.

KAI meminta maaf atas ketidaknyamanan dan gangguan yang ditimbulkan akibat insiden ini.(*)

Pos terkait