Lampung Utara, BP
Pasca Pergantian Kandis Bina Marga dan Bina Kontruksi (BMBK) Provinsi Lampung, Febrizal Levi Sukmana, ST, MT menggantikan Ir. Mulyadi Irsan, MT . Dengan membawa misi Gubernur supaya Provinsi Lampung menjadi Provinsi modern di Indonesia. Hal ini mempunyai tantangan baru dalam mengevaluasi kerja pada tahun 2020 dan mematangkan rencana kerja tahun 2021.
Dalam rangka membangun Provinsi Lampung, Kepala Dinas BMBK akan menguras tenaga dan pikiran supaya Provinsi Lampung menjadi lebih modern di Indonesia, ini membutuhkan perencanaan yang matang khususnya di bidang infastruktur untuk tahun 2021.
Namun yang paling terpenting adalah Kepala Dinas BMBK juga Perlu mengevaluasi kinerja tahun 2020, bahkan memberikan terguran atau terpahitnya memberikan sanksi kepada oknum-oknum Kontraktor yang mengerjakan proyek asal jadi berpotensi kepada kerugian negara (Korupsi).
Satu di antaranya yang perlu mendapat perhatian khusus adalah dugaan Proyek jalan senilai 3,8 M program Peningkatan jalan kotabumi-ketapang di kabupaten Lampung Utara yang terkesan Aburadul,dugaan adanya pengurangan bestek yang berpotensi untuk memperkaya diri pribadi (Korupsi).
Menurut data yang di milikinya, proyek tersebut nama tender peningkatan jalan Kota Bumi- Ketepang dengan katagori pekerjaan konstruksi, instansi Pemerintah Daerah Provinsi Lampung, salter Dinas Bina Marga dan Bina Kontruksi dengan pagu anggaran Rp. 3,8 Milyar yang di kerjakan oleh PT. Cempaka Mas Sejati yang beralamat Bandar Lampung.
Hasil pantauan di lapangan, pekerjaan tersebut di kerjakan dengan penggalian ekskavator dengan memberikan timbunan batu yang tercampur abu batu, tidak di dasari pasir, pemadatan menggunakan Wales perkiraan bobot 3-5 ton, tidak ada cutting tidak ada patching,
sebelumnya, Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Kontruksi Provinsi Lampung Mulyadi Irsan (yang saat ini telah menjadi Kadis Bappeda) saat di konfirmasi melalui Pasan WhatsApp dirinya mengatakan, mungkin perencanaan Konsultan Kurang Sempurna, galian pelebaran lebar 1,2 meter tidak ada alat pemedat yang cocok selain tandem 4-6 ton yang lebar rodanya lebih besar yang 1,2 m tidak muat dengan lobang galian, tapi untuk finishing di pemadatan di permukaan kami sudah memakai vibro roller 8-12 ton
“Pekerjaan utama adalah pelebaran jalan di vibro sudah di tes kepadatan,yang rusak bahu jalan tergerus air karena di dalam perencanaan tidak ada siring,kita buatkan Siring pakai greder dan exavator tapi air tidak tertampung, solusinya harus di buatkan siring yang layak untuk menampung air, karena kapanpun perbaikan tetap saja akan merusak bahu jalan karena aliran air tidak tertampung” jelasnya.
Namun keterangan Kadis BMBK terkesan kontradiktif dengan di lapangan, hasil pantauan di lokasi pekerjaan tersebut di kerjakan dengan penggalian ekskavator dengan memberikan timbunan batu yang tercampur abu batu,tidak di dasari pasir, pemadatan menggunakan Wales perkiraan bobot 3-5 ton, tidak ada cutting tidak ada patching, sehingga saat ini kondisi jalan tersebut sudah mulai rusak, retak-retak ,bergelombang,dan bangunan timbunan batu sudah tabur.
Parahnya saat ini di lakukan perbaikan di bahu jalan menggunakan alat seadanya seperti cangkul,skop dengan pekerja (Tukang) dua orang saja. Hingga saat ini pihak kontraktor belum memberikan Klarifikasinya. (Minim/Red)







