Sang Jenderal Pengawal Kedaulatan: Jejak Abadi Perang Semesta Ryamizard Ryacudu
Bongkar Post | JAKARTA – Riuh rendah hiruk-pikuk politik nasional sejenak melandai, digantikan oleh rasa hormat yang mendalam menyusul kabar duka dari koridor militer tanah air. Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, salah satu putra terbaik bangsa yang dikenal sebagai prajurit pemikir sekaligus benteng kedaulatan NKRI, mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 14.03 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta.
Kepergian tokoh pertahanan legendaris pada usia 76 tahun ini tidak sekadar meninggalkan kesedihan, melainkan sebuah warisan doktrin pertahanan kokoh yang akan terus menyala dalam sanubari generasi penerus bangsa.
Almarhum bukan sekadar pejabat publik biasa. Posisi strategis yang pernah diembannya—mulai dari Pangdam Jaya, Pangkostrad, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) periode 2002–2005, hingga Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-25 (periode 2014–2019)—merupakan manifestasi dari pengabdian konstitusional yang tegak lurus pada Pasal 30 Ayat (2) UUD 1945 mengenai Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata).
Sumpah Prajurit dan Benteng Kedaulatan
Mengenang Ryamizard adalah mengingat kembali ketegasan prinsip militer yang humanis namun tanpa kompromi jika menyangkut keutuhan wilayah negara. Lahir pada 21 April 1950, darah prajurit mengalir deras dari sang ayah, Mayjen TNI (Purn) Musannif Ryacudu, seorang tokoh pergerakan kemerdekaan. Rekam jejak karier Ryamizard di lapangan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah militer Indonesia, terutama perannya saat memimpin operasi pemulihan keamanan di berbagai wilayah konflik demi menjaga keutuhan hukum teritorial Indonesia.
Ketika dipercaya menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) di era Presiden Megawati Soekarnoputri, Ryamizard menanamkan fondasi kepemimpinan yang berakar kuat pada kedekatan dengan rakyat. Di mata para prajurit, ia adalah figur “bapak” yang tegas namun sederhana, yang selalu menekankan bahwa kekuatan terbesar TNI bukan terletak pada modernisasi alutsista semata, melainkan pada kemanunggalan bersama rakyat.
Doktrin Bela Negara dan Warisan Perang Semesta
Transisi rekam jejak Ryamizard dari ranah taktis militer ke ranah kebijakan strategis legal formal memuncak saat ia ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Pertahanan pada 27 Oktober 2014. Di bawah kepemimpinannya di Kementerian Pertahanan RI, lahir program monumental Gerakan Nasional Bela Negara.
Program ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan kerangka regulasi jangka panjang yang dirancang untuk membangun sistem pertahanan berlapis. Melalui kacamata hukum, bela negara merupakan implementasi hak dan kewajiban warga negara yang dilindungi oleh undang-undang. Ryamizard berhasil mentransformasikan konsep militeristik yang kaku menjadi gerakan sipil yang inklusif, menargetkan jutaan kader bela negara dari berbagai latar belakang profesi di seluruh penjuru nusantara.
Atas dedikasi pemikirannya tersebut, pada tahun 2021, Universitas Pertahanan RI menganugerahinya gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) Ilmu Pertahanan bidang Perang Semesta. Sebuah pengakuan akademik kedinasan tertinggi yang menegaskan bahwa pemikiran sang jenderal mengenai taktik pertahanan non-linear dan ketahanan mental bangsa diakui secara ilmiah dan diwujudkan secara sah dalam sistem pendidikan pertahanan nasional.
Kehormatan Tertinggi untuk Sang Old Soldier
Berdasarkan keterangan resmi dari Karo Infohan Setjen Kemhan, Brigjen Rico Ricardo Sirait, Kementerian Pertahanan menggelar upacara penghormatan dan persemayaman resmi bagi almarhum. Sesuai protokol kenegaraan dan tradisi militer, jenazah disemayamkan terlebih dahulu di Aula Bhinneka Tunggal Ika (BTI) Kemhan sebelum upacara pelepasan menuju tempat peristirahatan terakhir di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata pada Senin, 1 Juni 2026.
Langkah tegak sang jenderal mungkin kini telah terhenti, namun cetak biru pertahanan, keteguhan sikap dalam menjaga kedaulatan, serta kecintaannya yang mutlak pada NKRI telah melembaga dalam institusi pertahanan modern Indonesia. Menatap masa depan, kepergian Jenderal Ryamizard justru memantik optimisme baru: bahwa fondasi kesadaran bela negara yang telah ia tancapkan akan terus dilanjutkan oleh jutaan kader dan prajurit muda demi menjaga bendera Merah Putih tetap berkibar perkasa.
Selamat jalan, Jenderal. Tugas mulia mengawal bumi pertiwi telah tunai diselesaikan dengan kehormatan tertinggi.
(Rusmin)


