Rupit Tenggelam 2 Meter: 17 Desa Terisolasi

Rupit Tenggelam 2 Meter: 17 Desa Terisolasi

 

Bacaan Lainnya

Bongkar Post | MURATARA, SUMSEL – Jumat petang (8/5/2026), duka menyelimuti Kabupaten Musi Rawas Utara. Luapan Sungai Rupit yang mencapai puncaknya hingga ketinggian dua meter telah merendam sedikitnya 17 desa.

 

Darurat Evakuasi:

Antara Hidup dan Mati

Informasi yang dihimpun di lapangan menunjukkan bahwa proses evakuasi hampir sepenuhnya bergantung pada inisiatif warga. Menggunakan perahu kayu (perahu ketek) seadanya—seperti yang terlihat di kawasan Karang Dapo—masyarakat bahu-membahu menyelamatkan lansia dan anak-anak dari kepungan air yang kian liar. Seorang balita dilaporkan meninggal dunia karena terseret arus saat proses evakuasi swadaya.

 

Infrastruktur Lumpuh: 17 Desa Terancam Terisolasi

Bencana ini bukan sekadar genangan air; ini adalah kelumpuhan total akses ekonomi dan mobilitas. Setidaknya 17 desa di dua kecamatan menjadi titik paling kritis:

* Kecamatan Rupit (Hilir): Desa Noman, Noman Baru, Batu Gajah, Maur, hingga Tanjung Beringin berada dalam kondisi mencekam. Khusus di Tanjung Beringin, jembatan gantung yang menjadi urat nadi warga dilaporkan putus total.

* Kecamatan Karang Jaya (Hulu): Desa Suka Menang dan Terusan mengalami dampak paling destruktif. Di Terusan, jembatan gantung juga ambruk, mengisolasi ribuan warga dari akses bantuan luar. Desa-desa lain seperti Lubuk Kumbung dan Muara Tiku kini hanya bisa dijangkau lewat jalur air yang sangat berisiko.

 

Bukan Sekadar Bencana Musiman

Banjir tahunan di Muratara seharusnya membuat birokrasi lebih sigap, bukan justru gagap. Fakta bahwa bantuan logistik dan perahu evakuasi belum menyentuh desa-desa terpencil seperti Rantau Limau Manis hingga Jumat malam adalah bukti kegagalan manajemen krisis.

BPBD seharusnya tidak hanya “memantau dari kejauhan” atau sekadar merilis data di atas kertas. Rakyat butuh kehadiran fisik otoritas, butuh perahu karet yang kokoh, dan butuh kepastian bahwa pemerintah mereka tidak sedang “tidur” saat air menyentuh atap rumah.

Melihat skalanya yang meluas hingga 17 desa dengan kerusakan infrastruktur yang masif (enam jembatan dilaporkan rusak), sudah saatnya Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengambil alih kendali. Jika Pemkab Muratara tetap lamban, maka bencana ini akan berubah dari sekadar luapan sungai menjadi tragedi kemanusiaan akibat kelalaian sistemis.

Malam ini, ribuan warga Muratara akan tidur di atas perahu atau atap rumah dalam kegelapan, menunggu fajar—dan menunggu negara hadir.

 

——————————

Data Ringkas Per 8 Mei 2026:

* Tinggi Air: Maksimum 2 meter.

* Wilayah Terdampak: 17 Desa (Kec. Rupit & Karang Jaya).

* Kerugian Fisik: 2 Jembatan Gantung putus (Tanjung Beringin & Terusan), belasan rumah hanyut.

* Korban Jiwa: 1 Balita (Kec. Rupit).

(Rusmin)

Pos terkait