Pihak Rektorat Bungkam, Pekan Depan Mahasiswa UIN RIL Demo Besar Besaran

Bandar Lampung, BP

Miris dunia pendidikan di Lampung. Marak persoalan yang membelit, mulai dari kasus korupsi, pungutan liar, budaya gratifikasi yang sengaja diciptakan, ijasah sekolah yang tertahan lantaran tak bisa membayar uang komite, dan oknum tenaga pengajar yang berbuat asusila.

Bacaan Lainnya

Miris pula dengan yang terjadi di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL). Kampus berbasis Islam seperti ini, malah diwarnai dengan tindakan dan sikap yang tidak mendidik dari para pegawai dan dosennya.

Malah ketika mahasiswa yang berstudi disana bersuara terkait kebobrokan kampusnya, harus dihadapi dengan tindakan anarkis dari satuan pengamanan (satpam) di kampus tersebut.

Meski sampai menimbulkan korban dari pihak mahasiswa hingga harus dilarikan ke rumah sakit karena tonjokan di bagian perut, tak satupun dari pihak Rektorat, Fakultas, atau Dosen yang menanggapinya. Terkesan, kampus Islam ini cuek dengan semua kebobrokan yang terjadi di kampus itu, yang sudah lama membudaya.

Dikonfirmasi melalui Humas UIN RIL, Anis Handayani tidak membalas konfirmasi wartawan. Meskipun pesan WhatsApp yang dikirim pada Jumat (26/5/2023) diterima, namun tak ada balasan.

Sementara beredar informasi, pekan depan mahasiswa akan demo dengan massa yang lebih banyak, dari berbagai Fakultas di UIN RIL.

Diketahui sebelumya, puluhan mahasiswa UIN RIL dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan demo di depan kampus, pada Kamis (25/5/2023). Mereka menuntut pihak kampus mengusut adanya dugaan praktek pungutan liar (pungli) dan gratifikasi yang mengatasnamakan akademik.

Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa FTK ini meminta Rektor, Kementerian Agama, hingga KPK untuk mengusut tuntas praktek pungli dan gratifikasi di kampus yang berbasis Islam tersebut.

Diungkap oleh Koordinator Lapangan aksi, Afiful Hakim, bahwa ada oknum pejabat dan pegawai di FTK dengan mengatasnamakan kegiatan akademik, kerap melakukan pungli kepada sejumlah mahasiswa.

“Semestinya praktik ini diawasi oleh pimpinan fakultas karena sebelumnya telah dikeluarkan fakta integritas terkait permasalahan pungli ini,” ujarnya.

Persoalan lain, adanya indikasi sindikat penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang bekerjasama dengan pihak ICT dengan metode berbayar.

Kemudian, dugaan adanya tindakan gratifikasi, dimana dosen pembimbing skripsi meminta barang tertentu kepada mahasiswa yang dibimbingnya, dan harus dipenuhi oleh mahasiswa tersebut. Jika tidak dipenuhi, maka dosen pembimbing enggan melayani bimbingan mahasiswa.

Terkait sejumlah persoalan ini, pihak FTK terkesan tutup mata, dan bungkam. Sehingganya, pungli dan praktek ilegal lainnya yang mengatasnamakan akademik, akan terus jadi budaya di Kampus Hijau tersebut.

Sementara saat demo berlangsung, tidak ada satupun pihak kampus yang menemui pendemo.

“Kami sebagai mahasiswa sangat keberatan terhadap adanya persoalan ini, dan ini harus segera diusut agar tidak jadi budaya,” tandasnya.

Namun saat demo berlangsung di depan gedung Rektorat, puluhan mahasiswa ini disambut dengan Satuan Pengamanan (satpam) kampus, yang berdiri memagari gedung rektorat.

Aksi pun berlangsung ricuh, lantaran suasana yang memanas. Hingga berujung pada bentrokan fisik.

Sejumlah mahasiswa terpaksa dilarikan ke rumah sakit lantaran terkena tonjokan di bagian perut. (tk)

Pos terkait