Mahasiswa FHIS UMKO Demo, Tolak Keputusan Sepihak soal Field Trip dan KKN
Bongkar Post, Lampung Utara– Puluhan mahasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Muhammadiyah Kotabumi (FHIS UMKO) menggelar aksi demonstrasi, Kamis (3/9/2026). Mereka menolak keputusan kampus terkait pengembalian uang field trip dan pelaksanaan KKN Tematik.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 09.30 WIB itu berlangsung di Gedung FHIS UMKO. Mahasiswa membawa poster dan pengeras suara serta bergantian menyampaikan orasi.
Massa aksi menilai pihak kampus telah mengingkari sejumlah janji yang disampaikan dalam pertemuan pada 8 Juli 2026.
Ada tiga tuntutan utama yang disuarakan mahasiswa. Pertama, mereka meminta uang pembayaran field trip dikembalikan 100 persen. Kedua, mahasiswa meminta KKN ditiadakan atau setidaknya biaya KKN dihapus. Ketiga, mereka menuntut transparansi penggunaan dana field trip yang disebut telah disetorkan kepada pihak ketiga, TAMPIA GRUP.
“Kami bukan peminta-minta. Kami mahasiswa yang membayar. Kami hanya minta kampus menepati omongannya sendiri,” kata Koordinator Lapangan M. Affan Raditthia saat berorasi.
Mahasiswa menyebut tuntutan pengembalian dana field trip mengacu pada pernyataan Wakil Dekan dan Kaprodi dalam pertemuan dengan orang tua mahasiswa di UMKO pada 8 Juli 2026. Saat itu, mahasiswa mengklaim dijanjikan uang field trip dikembalikan 100 persen.
Pada hari yang sama, mahasiswa juga mengklaim terdapat pertemuan di Palembang yang dihadiri Wakil Rektor II, Wakil Dekan, dan Kaprodi. Dalam pertemuan tersebut, menurut mahasiswa, kampus menyampaikan komitmen untuk meniadakan KKN atau setidaknya menghapus biaya KKN sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada mahasiswa.
Namun, dalam aksi tersebut pihak kampus menyampaikan keputusan berbeda.
Dekan FHIS UMKO, Dr. Didiek Mawardi, M.H., menyatakan pihak kampus tidak dapat mengembalikan uang mahasiswa dengan sejumlah pertimbangan. Kampus juga tetap meminta mahasiswa mengikuti KKN Tematik dengan alasan akademis.
Pernyataan tersebut kemudian ditolak mahasiswa.
Mahasiswa menilai keputusan tersebut merupakan keputusan sepihak dan tidak sesuai dengan komitmen yang sebelumnya mereka terima. Para wali mahasiswa juga disebut turut menolak keputusan kampus tersebut.
Selain persoalan pengembalian dana, mahasiswa mempertanyakan transparansi uang field trip. Mereka meminta kampus menjelaskan secara terbuka mengenai dana yang disebut telah disetorkan kepada TAMPIA GRUP, termasuk aliran dan penggunaan dana tersebut.
“Kami menuntut transparansi. Jangan sampai mahasiswa hanya diminta membayar, tetapi ketika mempertanyakan penggunaan dananya tidak mendapat penjelasan yang terang,” ujar Affan.
Hingga aksi berlangsung, belum tercapai kesepakatan antara mahasiswa dan pihak UMKO. Mahasiswa pun masih melanjutkan aksi untuk mendesak kampus memenuhi tuntutan mereka. (*)







