Kecewa Berat! Kadisdik Lampung Temukan Ketimpangan Nilai Rapor dan Hasil Tes SPMB di SMAN Unggulan se-Lampung 

Kecewa Berat! Kadisdik Lampung Temukan Ketimpangan Nilai Rapor dan Hasil Tes SPMB di SMAN Unggulan se-Lampung 

 

Bacaan Lainnya

Bongkarpost.co.id, Bandar Lampung

Dunia pendidikan di Provinsi Lampung dihadapkan pada fakta mengejutkan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung, Thomas Amirico, menyampaikan keprihatinannya atas hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) dalam proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur prestasi di 35 SMA Negeri unggulan se-Lampung.

Pendaftaran online telah dibuka sejak 4–5 Juni 2025, disusul dengan proses verifikasi, validasi dokumen, dan pelaksanaan TKA pada 11–12 Juni 2025. Dari sekitar 7.000 pendaftar, hanya 3.863 siswa yang dinyatakan lolos sesuai kuota.

Hasil tes diumumkan secara transparan melalui videotron pada 14 Juni 2025, dan pendaftaran ulang dilakukan hingga 15 Juni.

Namun, angka kelulusan justru menyimpan ironi. Dari ribuan siswa yang ikut TKA, hanya 10,34 persen yang meraih nilai di atas 50. Sisanya, 89,66 persen mendapat nilai di bawah angka tersebut bahkan ada yang mendapat nilai nol, meski nilai rapor mereka sebelumnya tinggi.

“Yang membuat kami sangat terkejut, dari 3.863 siswa yang mengikuti TKA, sebanyak 89,66 persen memperoleh nilai di bawah 50. Hanya 10,34 persen yang nilainya di atas 50,” ujar Thomas Amirico di ruang kerjanya, Senin (16/6/2025).

Tak berhenti di situ, Thomas menyoroti adanya ketimpangan serius antara nilai rapor dan kemampuan aktual siswa.

Banyak siswa yang memiliki nilai rapor tinggi di kisaran 90 hingga 95 namun saat diuji secara objektif, hasilnya justru sangat rendah.

“Ada siswa yang nilai rapornya 95, tapi saat tes, hanya dapat nilai 10, bahkan ada yang nol. Ini menjadi peringatan serius bagi kita semua,” tegas Thomas sambil menunjukkan data statistik hasil TKA.

Menurutnya, kondisi ini tak lepas dari sistem penilaian di tingkat SMP yang dinilai terlalu longgar dan kurang objektif.

“Nilai tinggi seharusnya mencerminkan kemampuan. Tapi jika itu hanya diberikan karena kedekatan emosional atau pertimbangan non-akademik, maka kualitas pendidikan kita sedang dalam masalah,” katanya.

Ia menduga bahwa ada praktik manipulatif di balik pemberian nilai seperti pemberian nilai tinggi demi memuluskan jalan masuk ke sekolah unggulan.

“Jangan karena orang tuanya baik, lalu nilainya di-‘up’. Ini harus dihentikan. Pendidikan harus dijalankan secara jujur dan profesional,” imbuhnya.

Thomas menegaskan, fakta ini harus menjadi titik balik untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan di Lampung, khususnya pada jenjang SMP.

“Kami ingin menjadikan momentum ini sebagai evaluasi total sistem pendidikan dan penilaian, agar lulusan kita benar-benar siap dan berkualitas,” tandasnya.

Terkait proses SPMB, Thomas memastikan bahwa seleksi di 35 SMAN unggulan berjalan transparan dan bebas dari intervensi. Ia juga membuka ruang bagi publik untuk melaporkan jika menemukan indikasi kecurangan.

“Saya pastikan prosesnya clean and clear. Jika masih ada yang coba bermain, silakan laporkan. Kami akan tindak. Ini bagian dari gerakan bersih-bersih dunia pendidikan, sesuai arahan Gubernur Mirza,” tegas Thomas.

Ia pun mengajak semua pihak, termasuk satuan pendidikan di kota dan kabupaten, untuk bersatu melakukan pembenahan.

“Kita sama-sama berjuang agar pendidikan di Lampung menjadi lebih baik. Ini soal tanggung jawab bersama dan bisa menjadi legasi positif di masa kepemimpinan Gubernur Mirza,” tutup Thomas. (*)

Pos terkait