Jalan Rusak Menuju Wisata Telaga Sewu Purbolinggo Dikeluhkan Warga, Akses Berlumpur Diduga Dibiarkan Berlarut

Jalan Rusak Menuju Wisata Telaga Sewu Purbolinggo Dikeluhkan Warga, Akses Berlumpur Diduga Dibiarkan Berlarut

 

Bacaan Lainnya

Bongkar Post, Lampung Timur

Akses jalan di wilayah Purbolinggo, Lampung Timur, khususnya jalur menuju kawasan wisata Telaga Sewu, menuai keluhan masyarakat. Kondisi badan jalan tampak rusak, berlubang, serta dipenuhi genangan air berlumpur yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.

Pantauan di lokasi menunjukkan sebagian ruas jalan berubah menjadi kubangan panjang berwarna kecoklatan. Genangan air menutupi permukaan jalan hingga menyulitkan pengendara untuk memastikan kedalaman lubang. Pada beberapa titik, permukaan jalan hanya tersisa lapisan batu kerikil yang tampak tidak merata.

Situasi ini membuat kendaraan roda dua harus melambat ekstrem bahkan berisiko tergelincir. Sementara kendaraan roda empat terlihat harus bermanuver untuk menghindari lubang dan genangan yang tersebar di sepanjang ruas jalan.

Ironisnya, kondisi jalan tersebut berada di jalur menuju salah satu destinasi wisata yang sedang dikembangkan, yakni Telaga Sewu. Keberadaan papan promosi wisata di sekitar lokasi justru berbanding terbalik dengan kondisi infrastruktur pendukung yang dinilai belum layak.

Warga sekitar menyebut kerusakan jalan bukan terjadi dalam waktu singkat. Genangan air yang kerap muncul diduga akibat sistem drainase yang tidak optimal serta perawatan jalan yang minim. Saat hujan turun, badan jalan berubah menjadi lumpur licin, sedangkan saat kemarau, permukaan jalan dipenuhi debu dan batu lepas.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga berpotensi menekan aktivitas ekonomi warga. Akses transportasi yang terganggu dapat menghambat mobilitas masyarakat, distribusi hasil pertanian, hingga menurunkan minat pengunjung menuju lokasi wisata.

Secara kebijakan, pembangunan sektor pariwisata semestinya berjalan selaras dengan kesiapan infrastruktur dasar. Jalan yang layak bukan sekadar fasilitas pelengkap, melainkan kebutuhan utama agar pengembangan wisata tidak berhenti pada promosi semata.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, upaya mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis wisata berisiko menjadi program seremonial tanpa dampak nyata bagi masyarakat sekitar.

Publik kini menunggu langkah konkret pemerintah daerah untuk memastikan perbaikan jalan dilakukan secara menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam yang berulang setiap musim hujan.

Dalam konteks pelayanan publik, kualitas infrastruktur jalan mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menjamin keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Jalan rusak bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut tanggung jawab tata kelola pembangunan.

Bongkar Post menilai, pembangunan tanpa perawatan hanya akan melahirkan proyek berulang. Sementara rakyat dipaksa terus beradaptasi dengan risiko yang seharusnya bisa dicegah.

(*)

Pos terkait