Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, WHO Catat 1.300 Kematian Sejak 21 Juni 2026
Bongkar Post | Eropa – Gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Eropa memasuki fase mengkhawatirkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 1.300 orang meninggal dunia akibat dampak cuaca panas sejak 21 Juni 2026 hingga akhir Juni.
Fenomena ini disebut sebagai salah satu gelombang panas terparah dalam sejarah modern Eropa. Hampir setengah dari sekitar 850 kota besar di benua itu dilaporkan mengalami suhu tertinggi yang memecahkan rekor.
Selain mengancam kesehatan masyarakat, suhu ekstrem juga mengganggu aktivitas sehari-hari dan perekonomian. Sejumlah sekolah terpaksa ditutup, sementara beberapa layanan transportasi, termasuk perjalanan kereta api dan penerbangan, dibatalkan akibat kondisi cuaca yang ekstrem.
Para ilmuwan menilai gelombang panas kali ini sangat berkaitan dengan krisis iklim global yang dipicu oleh emisi dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak, dan gas. Peneliti dari World Weather Attribution (WWA) menyebut kemungkinan pengaruh faktor alami seperti El Nino terhadap peristiwa ini relatif kecil dibanding dampak perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia.
Kondisi diperparah oleh infrastruktur dan desain permukiman di sejumlah negara Eropa yang selama ini lebih dirancang untuk menghadapi musim dingin. Banyak rumah tidak dilengkapi pendingin ruangan (AC), sehingga saat suhu melonjak, bangunan berubah menjadi seperti “oven” yang meningkatkan risiko kematian, terutama bagi lansia dan kelompok rentan.
Data UK Health Security Agency menunjukkan lebih dari 10 ribu orang meninggal di Inggris akibat gelombang panas sepanjang periode 2020–2024. Tren tersebut kini kembali menjadi peringatan serius bagi negara-negara Eropa yang tengah menghadapi kenaikan suhu ekstrem.
Pemerintah di berbagai negara Eropa telah mengeluarkan peringatan kesehatan dan meminta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air, serta memanfaatkan tempat-tempat berpendingin guna menghindari risiko sengatan panas yang dapat berujung fatal.
Gelombang panas ekstrem di Eropa terus berlanjut dan jumlah korban diperkirakan masih dapat bertambah seiring suhu tinggi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
(*)







