Dirgahayu Kota Bandarlampung!

TUGU ADIPURA – Di area Bundaran Gajah, nama tenar zona pusat Kota Bandarlampung, yang genap berusia 343 tahun pada hari ini, Selasa 17 Juni 2025. Dirgahayu! | Muzzamil

Bongkarpost.co.id

Bacaan Lainnya

Bandar Lampung,

Dirgahayu Kota Bandarlampung ke-343! Tepat hari ini, Selasa 17 Juni 2021, Kota Bandarlampung atau Kota Tapis Berseri Bumi Ragom Gawi, genap berusia 343 tahun. Wow!

Kota sekaligus ibu kota Provinsi Lampung yang syahdan satu ketika, pernah diakui oleh konglomerat properti (kini mendiang) Ciputra, pemilik hunian elit Citra Garden dan Citraland Sumur Putri Bandarlampung: kota surga. Ulah bentang alamnya, nan nyaris sempurna.

Palugada, kata beberapa. “Apa yang lu mau” di kota 20 kecamatan 126 kelurahan ini, ada.

Dari dataran tinggi, sedang, hingga rendah, ada. Dari area rupabumi datar, landai, curam, terjal, hingga liuk meliuk bukit perbukitan asri pegunungan nan menghijau, sampai daerah aliran sungai, muara, pantai, dan tepian laut nan melambai, semua eksotis dan semua ada.

Demikian kira-kira, kesan mendalam Ciputra circa 2003 silam, saat memutuskan diri untuk berinvestasi sektor properti di kota ini, kota seluas 197,22 kilometer persegi (km²) dengan kepadatan penduduk 5.500 per km², salah satu kota terpadat di Pulau Sumatra ini.

Hari ini, dan tercatat menjadi sejarah pertama riwayat kota berpopulasi sedikitnya 1,25 juta jiwa ini —bukan hanya dalam sejarah 10 gelombang hajat nasional Pilkada Serentak Indonesia pascareformasi 1998, yang tengah berjalan untuk periode kedua kepemimpinan masa bakti 2025–2030, dipimpin walikota perempuan pertama di Kota Bandarlampung sekaligus pertama di Lampung. Ini sejarah.

“Apapun kita tuju untuk persatuan, untuk kemajuan Kota Bandarlampung,” demikian khatur Walikota Bandarlampung Eva Dwiana, sosok dimaksud, petikan pidatonya saat hadir dalam Konser Pemuda dan Pesta Rakyat di Lapangan Kalpataru Kemiling Bandarlampung pada Minggu (15/6/2025) malam lalu, seperti diunggah akun ofisial media sosialnyi, disitat.

Terutama bagi generasi zilenial dan generasi alpha bahkan generasi platinum hari ini warga kota ini agar tak melupakan sejarah kotanya, tak ahistoris, berikut sejarah singkat lahirnya.

Berdasar sumber sejarah hari jadinya, terdapat catatan masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda; berdasar laporan Residen Banten William Craft kepada Gubernur Jenderal Batavia, Cornelis, mendasari keterangan Pangeran Aria Dipati Ningrat (Duta Kesultanan) seperti disampaikan padanya pada 17 Juni 1682 silam.

Antara lain berisikan: “Lampong Telokbetong di tepi laut adalah tempat kedudukan seorang Dipati Temenggung Nata Negara yang membawahi 3.000 orang.” [Deghregistor dibuat, dipelihara pimpinan VOC hal 777 dst]

Dengan demikian, Bandarlampung masa itu: Kota Tanjungkarang sekitar 5 Km di utara Kota Telokbetong berdasarkan Staatsblat 462/1912 termasuk dalam wilayah sekaligus ibu kota Onder Afdeling Telokbetong yang wilayahnya meliputi Telokbetong sendiri dan juga daerah sekitar. (Encyclopedie Van Nedderland Indie, D.C.STIBBE Bagian IV).

Telokbetong berkedudukan sebagai ibu kota Keresidenan Lampung, namun Tanjungkarang maupun Telukbetung tak termasuk dalam Marga Verband, melainkan berdiri sendiri, dikepalai seorang Asisten Demang yang tunduk kepada Hoof Van Plaatsleyk Bestuur selaku Kepala Onder Afdeling Telokbetong.

Usai era Hindia Belanda 1912–1942, di masa Jepang, kedua kota ini dijadikan “shi” (Kota) dipimpin seorang “shichō” (bangsa Jepang) dibantu seorang “fukushichō” (Indonesia).

Indonesia merdeka, kedua kota jadi bagian dari Kabupaten Lampung Selatan hingga diterbitkannya UU Nomor 22/1948.

Siapa di antara Anda warga kota ini yang belum pernah melihat patok Kilometer Nol (Km 0) Kota Bandarlampung yang terletak tepat di trotoar Jl Wolter Monginsidi depan Rumah Makan Tuah Sakato, Kelurahan Kupangkota, Kecamatan Telukbetung Utara?

Untuk apa? Ya, lantaran secara geografis, Telukbetung berada di selatan Tanjungkarang, di situlah letak, demi untuk menjawab jika ada pertanyaan kenapa di markah jalan, Kota Telukbetung lah yang dijadikan sebagai patokan batas jarak ibu kota provinsi.

Persis sejak 1948 itu, diperkenalkanlah istilah penyebutan Kota Tanjungkarang-Telukbetung.
Hingga kelak tahun 1984, baik Telukbetung, Tanjungkarang dan Panjang (serta Kedaton) menjadi wilayah yang kemudian digabung dalam satu kesatuan Kota Bandarlampung, mengingat sudah tak ada batas pemisahan yang jelas.

Usai Keresidenan Lampung dinaikkan status jadi Provinsi Lampung berdasar UU Nomor 18/1965, Tanjungkarang-Telukbetung berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat (Dati) II Tanjungkarang-Telukbetung sekaligus menjadi ibu kota Provinsi Lampung.

Nah, laporan Residen Banten William Craft di atas tadi, diperkuat hasil Simposium Hari Jadi Kota Tanjungkarang-Telukbetung pada 18 November 1982, serta Peraturan Daerah Nomor 5/1983 tanggal 26 Februari 1983, lalu ditetapkan hari jadi Kota Bandarlampung adalah 17 Juni 1682.

Pascakemerdekaan Indonesia hingga saat ini tercatat Kota Bandarlampung telah dipimpin oleh 11 putra-putri terbaik Lampung sebagai orang nomor satu di sini.

Yakni sejak masih bernama Walikotapraja Tanjoengkarang – Teloekbetoeng 1956–1957, Sumarsono; Walikotapraja Tanjoengkarang – Teloekbetoeng 1957–1963, Zainal Abidin Pagar Alam; berubah menjadi Walikotamadya Dati II Tanjungkarang – Telukbetung 1963–1969, Alimudin Umar; Walikotamadya Dati II Tanjungkarang – Telukbetung 1969–1976, HM Thabrani Daud; dan Walikotamadya Dati II Tanjungkarang – Telukbetung 1976–1981, Fauzi Saleh.

Lanjut Walikotamadya Dati II Tanjungkarang – Telukbetung lalu per 1983 berubah menjadi Walikotamadya atau Walikodya Dati II Bandarlampung, Zulkarnain Subing (1981–1986); Walikodya Dati II Bandarlampung 1986–1995, Nurdin Muhayat; dari sini resmi disebut Walikota Bandarlampung, Suharto (1996–2005); Walikota Bandarlampung 2005–2010, Eddy Sutrisno; Walikota Bandarlampung 2010–2021, Herman HN; dan kini Walikota Bandarlampung 2021–2030, Eva Dwiana.

Genap 343 tahun, suka tidak suka, mau tidak mau, notabene Kota Bandarlampung hari ini telah mewujud menjadi kota besar yang ajek, “ajib”, aman, “amazing”, asah asih asuh, asri, “baldatun Thoyibatun warobbun Ghofur”, barometer, beradab, bersatu, “brékélé”, busyet, damai, “duilé”, eksotis, “helau”, hijau, “incredible”, indah, jenaka, maju, makmur, “mati bangik”, metropolis, “ngangenin”, nyaman, pluralis, ramah, rukun, Siger, sulam usus, Tapis, tenteram, tertib, dan seterusnya.

Sekaligus pula, telah mewujud menjadi kota macet sewaktu di jam tertentu di titik tertentu, masih jorok ulah masih banyak yang buang sampah sembarangan, dan masih terus membangun menata diri demi untuk menjadi kota maju barometer Lampung, kota hijau kota cerdas kota metropolis ujung Sumatra.

Pembaca Budiman, Bongkar Post ajak Anda, yuk sejenak berseru, mari kita sama pekikkan: DIRGAHAYU KOTA BANDARLAMPUNG! (Muzzamil)

Pos terkait