Dinamika Parlemen Jalanan: Terbelahnya Massa Aksi BEM Jadi Momentum Kedewasaan Demokrasi Kampus
Bongkar Post | JAKARTA – Gelombang unjuk rasa mahasiswa di ibu kota pasca-Aksi “Indonesia Bangkrut” pada Jumat (12/6) memunculkan peta baru dalam pergerakan mahasiswa. Konsolidasi jalanan kini tidak lagi berjalan dalam satu komando.
Sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi terbelah ke dalam dua faksi besar dengan orientasi gerakan yang berbeda. Kendati demikian, sejumlah pengamat menilai fenomena “BEM versus BEM” ini justru menjadi sinyal positif bagi perkembangan demokrasi yang semakin plural dan objektif di tingkat akar rumput.
Dua Kutub Gerakan Mahasiswa
Keterbelahan mulai terlihat ketika kelompok pertama, aliansi BEM yang dimotori oleh BEM Universitas Indonesia (BEM UI), menggelar aksi demonstrasi besar-besaran dengan tuntutan pembatalan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta peninjauan ulang kebijakan efisiensi APBN.
Kelompok ini mengambil posisi kritis terhadap pemerintah dan berupaya menjaga jarak dari seluruh instrumen kekuasaan publik yang dinilai berpotensi memengaruhi independensi gerakan mahasiswa.
Sebaliknya, pada Selasa (16/6), aliansi tandingan yang menamakan diri BEM Bersatu mendeklarasikan sikap berbeda. Dalam pernyataan pers di Jakarta, mereka menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis dengan catatan adanya perbaikan tata kelola dan pengawasan pelaksanaan program.
Selain itu, BEM Bersatu juga mendesak agar gerakan mahasiswa disterilkan dari pendanaan, fasilitas, maupun intervensi elite politik eksternal yang berpotensi mengaburkan tujuan perjuangan mahasiswa.
Data Latar Belakang
Berdasarkan data internal konsolidasi mahasiswa yang dihimpun, perpecahan tersebut dipicu oleh perbedaan cara pandang dalam membaca situasi nasional dan menentukan prioritas isu perjuangan.
Kelompok pertama, yang dapat disebut sebagai Kubu Aksi Kritis, berfokus pada persoalan sosial-ekonomi, terutama kenaikan harga kebutuhan pokok dan efektivitas pengelolaan anggaran negara. Mereka mendorong evaluasi menyeluruh terhadap berbagai program pemerintah yang dianggap membebani fiskal negara.
Sementara itu, Kubu BEM Bersatu lebih menyoroti pentingnya independensi gerakan mahasiswa. Mereka menolak narasi krisis yang dinilai tidak didasarkan pada data yang utuh serta menyuarakan kekhawatiran terhadap kemungkinan adanya penunggangan gerakan oleh tokoh-tokoh politik tertentu.
Perbedaan pandangan tersebut sempat berkembang menjadi perebutan ruang opini publik, baik melalui orasi lapangan di kawasan Semanggi–Thamrin maupun melalui pertarungan narasi di media sosial selama beberapa hari terakhir.
Menurut pengamat komunikasi politik dan gerakan sosial, fenomena “BEM versus BEM” menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa Indonesia mulai memasuki fase yang lebih dewasa. Tidak lagi terjebak dalam pola pikir tunggal, mahasiswa kini berani mempertahankan posisi politiknya masing-masing dengan argumentasi yang dapat diuji di ruang publik.
“Perbedaan sikap adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Yang perlu dijaga adalah independensi, integritas data, dan komitmen bahwa perdebatan dilakukan untuk kepentingan publik, bukan untuk kepentingan elite tertentu,” kata sejumlah pengamat.
Pendewasaan Dialektika
Meski sekilas menunjukkan adanya friksi internal, fenomena terbelahnya massa mahasiswa ini justru menghadirkan dinamika baru dalam tradisi intelektual kampus.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, oposisi jalanan tidak lagi tampil sebagai kelompok yang monolitik atau bergerak dalam satu narasi tunggal. Perbedaan pandangan kini muncul secara terbuka dan menjadi bagian dari proses dialektika yang sehat.
Kedua kubu dituntut untuk mengedepankan argumentasi yang berbasis data dan substansi. Kelompok yang mengkritik pemerintah harus mampu menawarkan alternatif kebijakan yang realistis, sementara kelompok yang mendukung keberlanjutan program pemerintah harus membuktikan komitmennya dalam mengawal transparansi dan akuntabilitas.
Terpisahnya jalur mobilisasi massa juga dinilai dapat meminimalkan risiko mahasiswa menjadi sekadar alat kepentingan politik tertentu tanpa memahami substansi perjuangan yang mereka bawa.
Melalui kompetisi gagasan yang berlangsung secara terbuka, mahasiswa Indonesia sedang menunjukkan bentuk demokrasi yang lebih dewasa: berbeda orientasi, berbeda strategi, namun tetap bergerak dalam koridor akademik yang damai, kritis, dan bertanggung jawab.
(*)







