Yang kaya makin kaya. Yang miskin makin miskin. Yang kaya makin kaya. Yang miskin makin miskin. | Ilustrasi/Net/Muzzamil
Bongkar Post
BANDARLAMPUNG, BONGKARPOST.CO.ID — Raja Dangdut Rhoma Irama termasuk musisi yang pernah terkena represi pembungkaman berekspresi oleh rezim Orde Baru Soeharto gegara syair lagu “Indonesia” ciptaannya kelewat jujur, hingga lagu tersebut dilarang edar tahun 1980 dan dicekal tampil di TVRI.
Ingat refrainnya? “Yang kaya makin kaya. Yang miskin makin miskin.”
Lagu ini kembali faktual menilik data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), mencatat dari total 615,41 juta rekening yang ada di perbankan Indonesia per Februari 2025, porsi simpanan rekening saldo di atas Rp100 juta notabene terus meningkat kurun enam tahun terakhir.
Dari 85,46 persen pada 2019 menjadi 87,9 persen pada Februari 2024 dan 77,02 persen per Februari 2025. Ini menunjukkan, orang kaya di Indonesia tampak semakin kaya.
Jurang super lebar kaya miskin di Republik Indonesia ini terbujur dari olah data LPS itu, dimana tercatat dari total 615,41 juta rekening di perbankan Indonesia per Februari 2025, jumlah rekening dengan saldo di atas Rp100 juta cuma mencapai 7,08 juta atau 1,15 persen dari total jumlah rekening, tetapi menguasai 88,01 persen dari total uang yang ada.
LPS mencatat, dari total 615,41 juta rekening per Februari 2025, kelompok pemilik rekening saldo di atas Rp100 juta ini memiliki simpanan Rp7.921 triliun atau 88,01 persen dari total dana pihak ketiga (DPK) perbankan yang nilainya tercatat Rp9.000 triliun.
Kemudian, kelompok pemilik rekening dengan saldo di atas Rp1 miliar hanya berjumlah 0,13 persen, tetapi total simpanan kelompok kaya ini mencapai Rp 6.121 triliun atau 68,01 persen dari total uang simpanan di bank.
Lantas, kelompok pemilik rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta mencapai 608,32 juta rekening atau 98,84 persen dari total rekening. Akan tetapi, uang milik kelompok masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah ini hanya Rp1.079 triliun atau setara 11,9 persen dari total DPK bank.
LPS menganalisis, jumlah rekening di bank tercatat terus meningkat dari tahun ke tahun. Komposisi rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta cenderung stabil naik lima tahun terakhir, “tetapi kontribusinya terhadap total dana yang ada di bank terus menyusut.”
Perinci, porsi rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta pada 2019 mencapai 98,17 persen, naik jadi 98,8 persen pada Februari 2024, naik ke level 98,84 persen pada Februari 2025.
Sementara itu, jumlah simpanan rekening di kelompok mayoritas ini terus menyusut dari 14,53 persen pada 2019 menjadi 12,09 persen pada Februari 2024 dan turun lagi menjadi 11,98 persen pada Februari 2025.
Berkebalikan, sisi lain LPS mencatat, porsi simpanan rekening saldo di atas Rp100 juta terus meningkat dari 85,46 persen pada 2019 menjadi 87,9 persen pada Februari 2024, lalu terkoreksi jadi 77,02 persen per Februari 2025 dan bukti orang kaya di Indonesia makin kaya.
Telunjuk ekspertis kompak menuding resesi ekonomi seiring volatilitas ekonomi global pascapandemi sebagai biang kerok dari tren penurunan tajam daya simpanan masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah ini.
Tudingan, sebangun pula dengan data penyusutan jumlah kelas menengah di Indonesia versi Badan Pusat Statistik (BPS), dimana jumlah kelas menengah di Indonesia pada 2024 mencapai 47,85 juta orang alias turun 9,48 juta orang dari tahun 2019.
Serta, bertaut bertali-temali dengan imbas buas dari megaproyek pemiskinan massal (proletarisasi) khas sistem ekonomi kapitalis tercermin dari skala pembiakan melonjak jumlah barisan pasukan cadangan industrial alias pengangguran.
Ekonom haluan kiri turut menyoroti, fenomena ini menjadi bukti kali kesekian, kegagalan dari sistem ekonomi kapitalisme-neoliberal yang berpraktik ugal-ugalan secara mengakar di Indonesia. Atau per suprastruktur, meminjam istilah Rizal Ramli, sistem ekonomi Indonesia pascareformasi berhasil dikembalikan paksa oleh kekuatan lama hingga kembali menjadi sistem ekonomi gelas anggur.
Tak ayal, krisis periodik kapitalisme yang menjadi hukum alamiahnya, menggali liang kuburnya sendiri, ditengarai bakal kembali menemukenali pembuktian demi pembuktian kini kedepannya. Donald Trump factor cuma salah satu bagian pemantiknya. Siap tidak siap, suka tidak suka, kita patut bersiaga. (Muzzamil)







