Bongkar Post, TULANG BAWANG – Langkah nyata kemandirian ekonomi pesantren diwujudkan di Kabupaten Tulang Bawang. Bupati Drs. Qudratul Ikhwan, M.M, meresmikan Pabrik Tempe yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Fattah, Kampung Penawar Jaya, Kecamatan Banjar Margo, Rabu (19/08/2026).

Peresmian ditandai dengan pemotongan pita dan peninjauan langsung fasilitas produksi oleh Bupati bersama jajaran Forkopimcam, tokoh agama, dan pengurus pesantren. Pabrik ini diharapkan menjadi pusat produksi sekaligus pusat pembelajaran kewirausahaan bagi santri.
Ketua Yayasan Ponpes Nurul Fattah, Kyai Zaenul Mustofa, M.Pd, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang. Menurutnya, kehadiran pabrik tempe merupakan wujud komitmen membangun kemandirian ekonomi pesantren dan memberdayakan masyarakat sekitar.
“Langkah konkret yang dilakukan Bupati Tulang Bawang sangat kreatif dan inovatif. Ini untuk kemandirian Ponpes ke depan agar lebih maju dan mandiri,” jelas Kyai Zaenul Mustofa kepada wartawan.
Kyai Zaen sapaan akrabnya menambahkan, pabrik ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan. Santri akan dilibatkan langsung dalam proses produksi, manajemen, hingga pemasaran. Dengan begitu, mereka tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga memiliki bekal keterampilan usaha setelah lulus.
Di tempat yang sama, Bupati Qudratul Ikhwan menyampaikan rasa syukur atas berdirinya unit usaha tersebut. Ia menyebut pesantren memiliki peran strategis tidak hanya di bidang pendidikan agama, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.
“Semoga hadirnya unit usaha ini menjadi awal dari berkembangnya ekonomi pesantren, membuka peluang usaha, serta memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” kata Bupati Qudratul Ikhwan.
Orang nomor satu di Sai Bumi Nengah Nyappur itu juga mendorong agar produk tempe dari Ponpes Nurul Fattah bisa masuk ke pasar lokal, sekolah, hingga instansi pemerintah. Pemkab Tulang Bawang siap memfasilitasi dari sisi perizinan, pelatihan, hingga akses pemasaran.
Pemilihan produk tempe dinilai tepat karena merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia yang permintaannya stabil sepanjang tahun. Selain itu, bahan baku kedelai juga mudah diakses dan harga jualnya terjangkau.
“Dengan adanya pabrik ini, diharapkan rantai ekonomi di Kampung Penawar Jaya dan sekitarnya ikut bergerak. Mulai dari petani pemasok, tenaga kerja produksi, hingga pedagang yang menjual hasil produksi pabrik,” harap Bupati.
Pemerintah Kecamatan Banjar Margo menyambut baik inisiatif tersebut. Camat Handriansyah, menyebut pabrik tempe ini bisa menjadi percontohan bagi pesantren lain di Tulang Bawang untuk mengembangkan unit usaha produktif.
Sementara, Taswin Ketua DPW Paguyuban Petani Koro Pedang Lampung mengapresiasi kegiatan ini.
“Iya.. ada harapan sedikit ketika ada gerakan Bupati Tuba bersama pengasuh pondok pesantren melaunching beroperasinya pabrik tempe pertama berbasis Ponpes. Bahan baku mereka berasal dari budidaya kacang kedelai di lahan kosong yg dimiliki Ponpes-ponpes,” terangnya.
Tapi sebagai mana yang kita semua tahu, lanjutnya, bahwa budidaya kacang kedelai di Indonesia tidak akan menghasilkan panen maksimal.
Sementara kita selama ini terus mengkampanyekan utk membudidayakan tanaman kacang-kacang dari Nusantara seperti kacangkoro pedang, kacangkoro Benguk dan lain-lain yang mana memiliki keunggulan beberapa sisi dibandingkan dengan budidaya kacang kedelai.
“Tapi sayangnya saat ini kita masih lebih suka mengimpor kedelai dari luar. Yang setiap tahunnya import kita tidak kurang dari 2.7 juta ton per-tahun,” pungkas Taswin. (*)







