Ustad Abdul Rosyid, saat khutbah Jum’at di Masjid Istiqomah, Jl Pangeran Mangkubumi, Gunung Agung, Kecamatan Langkapura, Bandarlampung, pada Jum’at 5 Juli 2024. | Muzzamil
Bongkar Post
BANDARLAMPUNG – Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1446 Hijriyah, bagi Sidang Pembaca terutama umat muslim di mana pun anda menyempatkan menyimak Bongkar Post.
Demi turut menyemarakkannya, berikut tersaji kutipan tausyiah singkat bagaimana kita dapat mencirikan seseorang mukmin dapat disebut semakin tinggi derajat keimanannya, dari dai muda asal Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung, Ustad Abdul Rosyid, yang diwawancarai usai salat jamaah Jum’at di Masjid Istiqomah, Jl Pangeran Mangkubumi, Gunung Agung, Kecamatan Langkapura, Bandarlampung, pada Jum’at 5 Juli 2024.
Ustad Abdul Rosyid saat khutbah Jum’at mengutip Firman Allah SWT dalam Qur’an Surat (QS) Al-An’am ayat 48, yang berbunyi:
وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّا مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَۚ فَمَنْ اٰمَنَ وَاَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ٤٨
Arab-Latin: “Wa mâ nursilul-mursalîna illâ mubasysyirîna wa mundzirîn, fa man âmana wa ashlaḫa fa lâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yaḫzanûn.”
Terjemahannya: “Tidaklah Kami utus para Rasul melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Siapa beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
Inilah yang sesuai dengan iman, terang Ustad. “Iman itu dalam bahasa Arab ada dua minimal. Pertama, percaya, yakin. Dan kedua, damai, tenteram. Maka orang yang beriman kepada Allah, ada dua tanda,” terang dia.
“Yang pertama, tanda batiniah. Inilah yang sesuai ayat ini, yaitu hatinya akan damai tenteram merasakan kebahagiaan. Semakin tinggi grafik imannya, hatinya akan semakin damai, semakin tenteram,” imbuh Ustad.
“Yang kedua, iman itu ada tanda zahiriah. dalam Hadits yang diriwayatkan dari Abbas radhiyallahu ‘anhuma (R.A.), ada seorang sahabat yang bertanya, “Siapakah orang mukmin yang paling sempurna imannya, ya Rasul, yang paling utama imannya. Rasulullah menjawab, ‘Orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian’, Inilah tanda zahiriahnya,” imbuh dia.
Tanda lahiriah orang yang imannya semakin tinggi, ujar dia, akan semakin baik akhlaknya.
“Lalu ada pertanyaan, kenapa orang yang ngaku iman, bagaimana caranya menaikkan level iman, ada dua tanda tadi. Hati semakin tenang, akhlaknya semakin baik. Memperbaiki iman, meningkatkan keimanan. Sebagaimana Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) bersabda dalam Hadits Riwayat Imam Thobroni Imam Ahmad:
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Artinya: Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbaharuilah iman kalian,” maka bertanyalah kepada beliau; “Bagaimana kami memperbaharui iman kami wahai Rasulullah?” beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Banyaklah mengucapkan, Laa Ilaaha Illaallah.”
Bedah Abdul Rosyid, “Tapi betapa banyak orang yang mendzikirkan ‘Laa Ilaaha Illaallah’ tapi hatinya tetep galau risau akhlaknya tetep buruk, tidak terbukti semakin baik?”
“Inilah yang disitir oleh Syekh Abdul Qodir Jaelani, kalimat ‘Laa Ilaaha Illaallah’ harus ada syaratnya. Yaitu kalimat ‘Laa Ilaaha Illaallah bisyaratin ahidihi min qalbin taqqiyin wanaqqiyin masirradha’. Yaitu, kalimat ‘Laa Ilaaha Illaallah’ yang didzikirkan itu harus punya syarat diambil dari orang yang hatinya bersih, orang yang hatinya takwa, dari apa pun selain Allah,” bedah dia.
Maka kalau kita mendapatkan ‘Laa Ilaaha Illaallah’ dari yang hatinya bersih dan takwa, maka ibarat mendapatkan benih yang baik, yang akan tumbuh berkembang.
Tapi kalau kita tak mendapatkan benih ‘Laa Ilaaha Illaallah’ dari orang yang hatinya bersih dan takwa, itu ibarat kita mendapatkan benih yang busuk. Maka kecil kemungkinan bahkan mustahil akan tumbuh dan berkembang maka kedua tanda tadi, hatinya damai, akhlaknya semakin baik, tidak akan bisa didapatkan. Mungkin itu saja. Terima kasih,” pungkas Ustad Abdul Rosyid, diawali diakhiri salam.
Siapakah Mukmin yang Ditakjubi Rasulullah
Keimanan adalah nikmat luar biasa yang merupakan karunia besar Allah bagi manusia. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka sejatinya dia telah mendapat kenikmatan besar dari pemilik alam semesta, Allah Azza wa Jalla.
Rukun Iman, ada enam. Iman, dalam Islam merujuk pada keyakinan seseorang terhadap keberadaan dan keesaan Allah SWT, kepercayaan terhadap para malaikat-Nya, kitab kitab suci-Nya (termasuk Al-Quran), para nabi dan rasul-Nya, hari akhir, dan takdir yang ditentukan oleh Allah SWT.
Selain itu, iman dalam Islam mencakup praktik ibadah seperti salat, zakat, puasa, haji. Iman juga mencakup prinsip-prinsip moral seperti kejujuran, kesetiaan, keadilan, kasih sayang.
Iman dalam Islam amat penting sebab ialah dasar dari hubungan manusia dengan Allah. Keyakinan dan praktik iman yang kuat dapat membantu seseorang meraih kebahagiaan dunia akhirat. Ketiadaan iman atau kelemahan dalam iman dapat membawa kehidupan yang tidak bahagia di dunia, siksa di akhirat.
Terkait ini, suatu hari Nabi Muhammad SAW pernah berdialog membahas seputar iman, bertanya ke para sahabat soal siapa yang paling mengagumkan imannya, dan jawaban Rasulullah mengejutkan para sahabat, siapa mukmin yang paling menakjubkan imannya.
Sebagaimana diriwayatkan dari Hadist Riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Apakah kalian mengetahui, siapa yang paling mengagumkan imannya?”
Para sahabat menjawab, “Imannya para malaikat ya Rasulullah”. Mendengarnya Rasul menjawab, “Bagaimana para malaikat tidak beriman, sedangkan mereka menyaksikan perkaranya (senantiasa di sisi Allah),”.
Mendengar ini para sahabat pun menjawab “Para Nabi, ya Rasulullah.” Rasulullah pun bersabda “Bagaimana para Nabi tidak beriman, sedang malaikat datang dari langit membawa wahyu (untuk mereka),”.
Terjemahan bebas lainnya, Rasulullah berkata: “Para Nabi sudah tentu hebat imannya, karena mereka menerima wahyu dari Allah.”
Kemudian, para sahabat berkata, “Sahabat-sahabatmu, ya Rasulullah.” Rasulullah pun kembali tidak membenarkan jawaban para sahabat dengan alasan bagaimana sahabat tidak beriman sedang mereka menyaksikan mukjizat Rasul serta memberitahu wahyu yang diturunkan.
Rasulullah berkata: “Aku berada di tengah tengah kalian, sudah tentulah kalian orang yang paling beriman.”
Lalu, seorang sahabat berkata: “Kalau begitu, Allah dan Rasul-Nya sajalah yang mengetahui.”
Dengan nada perlahan, Rasulullah bersabda:
ولَكِنَّ أَعْجَبَ الناسِ إيمانًا: قومٌ يَجِيئُونَ من بَعْدِكُمْ فَيَجِدُونَ كتابًا مِنَ الوَحْيِ؛ فَيُؤْمِنُونَ بهِ ويَتَّبِعُونَهُ، فَهُمْ أَعْجَبُ الناسِ إيمانًا – أوْ الخَلْقِ إيمانًا
Artinya: “Orang yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang mereka datang setelah kalian, lalu mereka menjumpai sebuah kitab yang berasal dari wahyu (Al-Qur’an), kemudian mereka mengimaninya dan mengikutinya. Mereka inilah orang yang paling menakjubkan imannya.”
Akhirnya, jawaban Rasulullah tentang orang yang memiliki iman yang menakjubkan ialah, orang-orang yang datang sesudah wafat Nabi, dan beriman kepadanya padahal mereka tidak pernah melihat Nabi, tapi membenarkannya dan percaya atas mukjizat yang diberikan kepadanya.
Berdasarkan hadits Nabi sebagaimana tersebut di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa orang-orang yang datang dan lahir setelah Nabi dan generasi sahabat, jika mereka beriman dikatakan oleh Nabi sebagai orang-orang yang imannya menakjubkan.
Merujuk penjelasan Ustad Abdul Rosyid di muka, iman yang makna harfiahnya berarti yakin dan percaya didefinisikan oleh ahli ilmu aqaid dengan kepercayaan yang dibenarkan di dalam hati (tasdiqu bil-qalbi), diikrarkan dengan lisan (iqraru bil-lisan) dan dibuktikan dengan amal perbuatan (’amalu bil arkan).
Tiga kesatuan dari iman ini jika dimiliki oleh seseorang, maka orang itu disanjung Nabi sedemikian sebagai orang yang menakjubkan.
Hadist ini menunjukkan iman kepada Nabi Muhammad SAW, bagian sangat penting dari iman umat Islam. Bahkan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, iman kepada beliau tetap harus dipegang teguh oleh umat Islam.
Dengan mengikuti ajaran-ajaran Nabi SAW, umat Islam dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Namun, kepercayaan umat Islam pada Nabi Muhammad bukan cuma sebatas iman kosong, juga harus tercermin dalam tindakan dan perilaku keseharian.
Umat Islam harus mengikuti ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW dan meneladani akhlaknya, sehingga dapat menjadi umat yang mulia dan diberkahi oleh Allah SWT.
Betapa beruntungnya umat yang disebut Rasulullah: yang hidup setelah dirinya, yang membaca Al-Qur’an, membenarkannya dan kemudian beriman dengan isinya.
Sebut keterangan lain, orang yang beriman kepada Rasulullah dan pernah bertemu dengan beliau adalah orang yang bahagia. Namun lebih bahagia mereka yang tak pernah bertemu Rasul tapi beriman, mencintai beliau.
Umat akhir zaman, yang sangat dia rindukan.
Dari situ selayaknya dan sepatutnya umat Islam bersyukur karena dipilih menjadi umat Muhammad. Wujud syukur kepada Allah atas nikmat ini mesti terus ditingkatkan antara lain dengan terus meneladani akhlak Nabi SAW.
Akhlak, memiliki akar kata sama dengan khalik (pencipta) dan makhluk (yang diciptakan). Karenanya, akhlak tidak hanya mempunyai dimensi horisontal dengan sesama makhluk (termasuk diri sendiri dan alam), tetapi juga dimensi vertikal dengan Allah. Karena inilah, konsep akhlak menjadi menyeluruh.
Akhlak mulia menjadi penciri kesempurnaan iman. Hadis lain menegaskan jika misi utama Rasulullah diutus adalah menyempurnakan akhlak yang mulia.
Menurut Al-Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang tercermin dalam tindakan tanpa pemikiran dan pertimbangan. Tindakan yang muncul bersifat otomatis karena sudah terbiasakan, baik akhlak mulia atau tercela (al-akhlaq al-madzmumah). Pembiasaan inilah yang perlu konsistensi.
Tindakan koruptif jelas masuk ke dalam akhlak tercela. Agak sulit membayangkan muncul “keberanian” melakukan korupsi besar, jika belum terbiasa dengan yang tindakan koruptif kecil atau yang berulang.
Atau, paling tidak, nilai-nilai yang dianut pun longgar dan cenderung permisif terhadap tindakan koruptif. Nurani pelaku sudah tidak sensitif menangkap sinyal kebaikan.
Momentum Tahun Baru Hijriyah kali ini, semoga dapat semakin mempertebal, dan mengasah sensitivitas nurani umat muslim di seluruh penjuru dunia untuk terus menerus memperbaiki akhlaknya, membaguskan kesalehan spiritual sekaligus kesalehan sosial.
Demi tujuan ultima, semakin tinggi grafik imannya, hatinya akan semakin damai, semakin tenteram, dapat merasakan kebahagiaan di dunia yang fana ini, dan di akhirat yang kekal abadi kelak nanti.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram! (Muzzamil)







