Bongkar Post – ASEAN-JICA Gelar Seminar Bahas Pengembangan Rantai Nilai Pangan

  • Whatsapp

Jakarta, BP

Kerjasama ASEAN-JICA “Pengembangan Rantai Nilai Pangan (AJFVC)” menyelenggarakan seminar
pertama tentang promosi dan pemasaran praktik pertanian yang baik untuk kawasan ASEAN (ASEAN
Good Agricultural Practices/GAP) di Jakarta pada tanggal 19-21 Juni. Seminar ini dihadiri oleh Kanchana
Wanichkorn, Direktur Direktorat Pengembangan Sektoral untuk Sekretariat ASEAN (ASEC), dan Kenji
Okamura, Senior Representative Kantor Perwakilan JICA Indonesia. Okamura, mewakili Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) menyampaikan pidato pembukaan.

Bacaan Lainnya

Dalam pidatonya, Okamura menyoroti bahwa kerjasama ini sejalan dengan “Rencana Kerjasama Midori” dari pemerintah Jepang yang bertujuan untuk membangun sistem pertanian dan pangan yang tangguh dan berkelanjutan di kawasan ASEAN dan, pada akhirnya, untuk berkontribusi pada ketahanan pangan di kawasan ini.

AJFVC merupakan kerja sama teknis selama tiga tahun yang dimulai pada Januari 2024, yang dilaksanakan oleh JICA bekerja sama dengan ASEAN. Kerja sama ini bertujuan untuk mendukung
inisiatif pengembangan rantai nilai pangan (food value chain/FVC) di ASEAN. Kerja sama ini terdiri dari empat pilar utama: (i) Praktik Pertanian yang Baik (GAP), (ii) Tindakan Sanitasi dan Fitosanitasi (SPS), (iii) Praktik Akuakultur yang Baik (GAqP), dan (iv) Kemitraan Pemerintah-Swasta (KPS). Seminar kali ini berfokus pada (i) GAP.
ASEAN GAP adalah standar untuk praktik produksi pertanian yang diperkenalkan di wilayah ASEAN
pada tahun 2006. ASEAN GAP mencakup pedoman produksi, panen, dan penanganan pascapanen
buah-buahan dan sayuran segar dengan tujuan untuk mencegah atau meminimalkan risiko bahaya yang
terjadi. Penerapan ASEAN GAP diharapkan dapat secara efektif mengelola (i) keamanan bahan pangan,
(ii) lingkungan pertanian, (iii) kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan pekerja, dan (iv) kualitas produk pertanian.

Selain itu, kerja sama ini juga diharapkan dapat meningkatkan perdagangan baik antar negara ASEAN maupun di luarnya. Sementara beberapa negara anggota telah menetapkan praktik pertanian baik nasional mereka sendiri yang sesuai dengan ASEAN GAP dan mengakui keunggulannya serta memulai berbagai upaya promosi,
namun beberapa negara belum dapat mencapai harmonisasi dengan GAP ASEAN. Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk mempromosikan ASEAN GAP dan praktik pertanian nasional yang disesuaikan dengan kondisi di masing-masing negara.

Pada seminar pertama ini, perwakilan dari 10 negara anggota dan ASEC yang bertanggung jawab atas GAP berpartisipasi dan secara aktif mendiskusikan perumusan strategi untuk memasarkan dan mempromosikan GAP ASEAN dan GAP Nasional.

Pada hari terakhir, mereka akan melakukan kunjungan lapangan ke Bogor, ke lokasi kerja sama teknis pertanian kolaborasi JICA dengan Kementerian Pertanian, yaitu “Public Private Partnership Project for the Improvement of Agricultural Marketing and Distribution System Phase 2” (IJHOP Tahap 2). Kelompok ini akan mempelajari praktik GAP dari salah satu petani yang didukung oleh kerja sama teknis ini. (rls)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *