Lucu tapi nyata.
Jika agama bubar Tuhan tidak rugi, yang rugi adalah orang yang sudah terlanjur mendapat gelar dalam agama karena kehilangan mata pencarian, tidak bisa menjadi tuhan-tuhan bertulang lagi serta main raja-rajaan lagi.
Manusia memang harus membutuhkan kepercayaan diri, tetapi ada batas tipis antara menghargai diri dan mengagungkan diri.
Ketika seseorang hanya terlalu terpukau pada kepintarannya saja tanpa mau melihat kelebihan orang lain, dan terpukau melihat klaim sepihak, manusia itu perlahan berhenti melihat kekurangannya sendiri. Ia merasa lebih tahu, lebih pantas, lebih baik, bahkan lebih layak daripada orang lain.
Yang berbahaya bukan sekadar rasa bangga itu sendiri, melainkan ketika kekaguman terhadap diri membuat seseorang kehilangan kemampuan untk bercermin.
Ia tidak lagi bertanya apakah dirinya benar, tetapi sibuk mencari alasan mengapa dirinya harus selalu dianggap benar. Di titik itulah manusia terjebak dalam ilusi tentang dirinya sendiri. Salam waras untuk yang masih waras. (*)
Oleh: Hengki (pengusaha, dan pengamat sosial budaya. Tinggal di Lampung)






