Produksi Padi Lampung Tembus 3,2 Juta Ton, Awal 2026 Panen Serentak Perkuat Swasembada Nasional
Bongkar Post, Pesawaran
Provinsi Lampung menegaskan posisinya sebagai salah satu penyangga utama swasembada pangan nasional.
Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung mencatat produksi padi gabah kering giling (GKG) sepanjang 2025 mencapai sekitar 3,2 juta ton, meningkat signifikan dibandingkan 2024 yang berada di kisaran 2,79 juta ton.
Kepala Dinas KPTPH Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, mengatakan kenaikan produksi tersebut mencapai sekitar 400 ribu ton atau naik sekitar 14 persen, ditopang oleh peningkatan luas tanam dan produktivitas di sejumlah sentra padi utama.
“Produksi padi Lampung pada 2025 menunjukkan tren yang sangat positif. Kenaikannya sekitar 14 persen, ini hasil dari kerja petani, penyuluh, serta kebijakan pemerintah daerah yang konsisten mendorong produktivitas,” ujar Elvira, Rabu (7/1/2026).
Memasuki awal 2026, Elvira menyebut sebagian besar wilayah di Lampung telah memasuki masa panen. Kondisi ini memperkuat optimisme keberlanjutan pasokan beras di daerah maupun kontribusi terhadap stok nasional.
“Per Januari 2026, sebagian besar petani di Lampung sudah panen. Yang belum hanya sebagian kecil, yakni di Kabupaten Lampung Tengah dan Kota Metro,” jelasnya.
Sementara itu, di sejumlah daerah lain, petani sudah kembali memasuki masa tanam dan berada pada fase standing crop, termasuk di Kabupaten Pesawaran.
Di wilayah ini, Pemprov Lampung mulai mendorong transformasi pertanian menuju sistem yang lebih ramah lingkungan.
Elvira mencontohkan, di Desa Kutoarjo, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, terdapat sekitar 60 hektare hamparan sawah yang memanfaatkan pupuk organik cair atau pupuk hayati cair melalui program Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.
Program tersebut diarahkan untuk menghasilkan padi organik sekaligus menjaga kesuburan lahan.
“Ini bagian dari upaya kita membangun pertanian berkelanjutan. Bukan hanya mengejar produksi, tetapi juga kualitas dan kesehatan lahan,” kata Elvira.
Selain padi, Elvira mengungkapkan produksi jagung Lampung pada 2025 juga mengalami peningkatan. Kenaikan ini dipengaruhi oleh peralihan sebagian petani dari komoditas singkong ke jagung, meski alih tanam terbesar tetap terjadi pada padi.
“Jagung juga naik, meskipun peralihan komoditas paling dominan tetap ke padi. Ini menunjukkan petani merespons kebutuhan pangan nasional,” ujarnya.
Untuk 2026, Pemerintah Provinsi Lampung memastikan berbagai program strategis akan terus dilanjutkan, mulai dari peningkatan produktivitas, penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan, hingga perlindungan lahan sawah berkelanjutan.
“Komitmen kami jelas, Lampung harus tetap menjadi pilar swasembada pangan nasional, tidak hanya hari ini, tetapi juga untuk tahun-tahun ke depan,” pungkas Elvira.
Pada hari yang sama, Kementerian Pertanian dijadwalkan mengumumkan capaian swasembada pangan nasional 2025 yang dirangkai dengan pelaksanaan panen raya nasional di Karawang, Jawa Barat.
Pemerintah Provinsi Lampung turut ambil bagian dengan mengikuti kegiatan tersebut secara daring dari Desa Kutoarjo.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Wakil Gubernur Jihan Nurlela, Sekretaris Daerah Provinsi Marindo Kurniawan, Forkopimda Provinsi Lampung, Bupati Pesawaran Nanda Indira Bastian, serta petani dan penyuluh pertanian mengikuti panen raya dan pengumuman tersebut secara virtual. (Jim/*)






