Pipa Tua PHE OSES Diduga Bocor, Pesisir Lampung Timur Dicemari Butiran Hitam Mirip Minyak
Lampung Timur, Bongkarpost.co.id
Pesisir Lampung Timur tercemar. Butiran hitam pekat diduga ceceran minyak ditemukan berserakan di Pantai Cemara Indah, Desa Bandar Negeri, Labuhan Maringgai, sejak awal Oktober 2026.
Bukan sedikit. Nelayan menyebut material hitam itu menempel di jaring, perahu, dan pasir pantai. Bau menyengat seperti oli terbakar.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Lampung sudah sidak ke lokasi pada 13 Oktober 2026, Hasilnya? Belum ada kepastian. Sumbernya masih misterius.
Kini giliran Dinas ESDM Provinsi Lampung yang buka suara. Dan sorotan mereka mengarah ke satu infrastruktur tua: pipa bawah laut milik PT Pertamina Hulu Energi OSES (PHE OSES) sepanjang 700 kilometer yang dibangun sejak 1968.
58 Tahun Dibawah Laut, Layak Pakai ?
Kepala Bidang Energi ESDM Lampung, Sopian Atiek, mengaku pihaknya belum menerima laporan resmi, namun ia tak menampik pipa tua itu harus diperiksa.
“Selain kemungkinan kebocoran pipa bawah laut, aktivitas kapal juga perlu diperiksa untuk memastikan dari mana material tersebut berasal,” ujar Sopian, Kamis (15/10).
Menurutnya, keluhan serupa tidak hanya dari Cemara Indah. Nelayan di Muara Gading Mas dan Bandar Negeri, juga melapor jaring mereka rusak karena butiran hitam.
Jika terbukti berasal dari PHE OSES, kata Sopian, pembersihan pesisir wajib dilakukan dan pipa harus dievaluasi total.
Ia mengklaim peremajaan pipa sudah dilakukan bertahap. Namun ia tak menjawab: berapa kilometer dari 700 KM itu yang sudah diganti? Berapa yang masih pipa 1968?
“Pembahasan Amdal terkait pengembangan sumur dan penataan pipa juga masih berjalan,” dalihnya.
Nelayan Butuh Kepastian, Bukan Amdal
Bagi warga pesisir, Amdal tidak bisa dimakan. Yang mereka butuhkan adalah kepastian: apakah laut mereka masih aman untuk mencari ikan?
PHE OSES selama ini memang menyumbang DBH Migas, PI lewat BUMD, plus CSR beasiswa dan rehab sekolah di Labuhan Maringgai. Tapi kontribusi ekonomi tak bisa jadi tameng jika terbukti ada pencemaran.
Laut tercemar, ikan minggat, nelayan tidak melaut. Beasiswa tidak bisa mengganti jaring yang rusak karena minyak.
Hingga hari ini, belum ada sampel butiran hitam yang diuji laboratorium. DLH belum buka hasil sidak, ESDM belum terima laporan, PHE OSES belum beri klarifikasi resmi.
Masyarakat pesisir menunggu: ini ceceran minyak dari pipa tua 58 tahun, tumpahan kapal, atau ada yang sengaja buang limbah di laut Lampung Timur?
Jika negara membiarkan pipa 1968 terus beroperasi tanpa audit independen, maka butiran hitam di Cemara Indah hari ini bisa jadi tumpahan besar besok. (WB)






