P r e m a n ????? Siapa Dia…

Pojokan Bongkar

 

Bacaan Lainnya

Preman?? Siapa Dia….

 

Kalau oknum-oknum yang berseragam, memakai fasilitas negara, yang duduk menjadi raja-raja kecil, atau  duduk sebagai wakil partai di DPR RI, atau yang menjual agama, mungkin bukan itu yang dimaksud dengan preman ya ?

Aksi premanisme membuat masyarakat khawatir, banyak pelaku usaha katanya cemas untuk berbisnis. Mereka khawatir dipalak oleh tindakan premanisme, preman yang manakah itu?

Sebenarnya keberadaan premanisme telah hadir sejak zaman Kerajaan Kediri ribuan tahun silam, meskipun dgn sebutan berbeda. Dahulu, masyarakat lazim menyebut mereka sebagai jago.

Istilah preman sendiri baru muncul pada abad ke-17. Ini berasal dari bahasa Belanda: yang berarti “orang bebas”. Sepanjang sejarah Jawa, banyak sosok yang dikenal sebagai preman. Salah satunya adalah Ken Arok (juga dikenal sebagai Ken Angrok).

Dalam kitab Pararaton dari abad ke-16, Ken Arok diceritakan lahir dari rahim seorang petani. Ken Arok dibuang oleh ibunya, Ken Ndok, bayi Ken Arok kemudian ditemukan oleh seorang pencuri bernama Lembong, kemudian mengasuhnya.

Namun, ketika Ken Arok tumbuh menjadi pencuri dan penjudi, Lembong merasa terbebani dengan hutang-hutang Ken Arok dan akhirnya mengusirnya.

Setelah diusir Lembong, Ken Arok kemudian diasuh oleh Bango Samparan, seorang penjudi dari Desa Karuman (sekarang Garum, Blitar).

Bango Samparan menganggap Ken Arok sebagai pembawa keberuntungan. Penjudi inilah yang kemudian membesarkan Ken Arok. Hanya saja, sang penjudi tak membesarkan Ken Arok seperti orang tua lazimnya yang memberi pelajaran positif.

Ia malah mengajarkan Ken Arok untuk mengikuti jejaknya di dunia hitam. Sebagai anak kecil, Ken Arok manut saja menyikapi perintah orang tua angkatnya.

Dari sini, Ken Arok banyak melakukan tindakan premanisme seperti berjudi, mencuri, merampok, hingga membunuh.

Semua itu membuatnya berulangkali menjadi target penangkapan oleh Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung, karena resah atas perbuatannya.

Semua tindakan Ken Arok sebagai jagoan membuatnya sangat diperhitungkan. Sehingga dengan terpaksa Tunggul Ametung menjadikannya sebagai tangan kanannya (tukang pukul).

Dari sini, nama Ken Arok mulai dikenal di seantero Tumapel. Citranya sebagai sosok preman menakutkan yang mendukung jalannya kekuasaan.

Seperti diceritakan dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid II (1993), popularitas besar lantas membuat Ken Arok berambisi untuk berkuasa.

Caranya dengan merebut istri Tunggal Ametung, Ken Dedes. Sebab Ken Arok mendapat bisikan gaib kalau menikahi Ken Dedes maka ia akan menjadi penguasa Jawa. Ken Arok kemudian meminta Mpu Gandring membuat sebilah keris.

Keris Mpu Gandring akan dipakai untuk membunuh Tunggul Ametung. Namun, akibat tak sabar, sikap preman Ken Arok muncul. Keris yang belum jadi diambil paksa, justru dipakai membunuh Mpu Gandring.

Setelah membunuhnya, Ken Arok menyerahkan keris itu kepada bangsawan Tumapel, yakni Kebo Ijo.

Kebo Ijo yg punya hobi sering pamer. Maka, ketika mendapat keris pemberian dari Ken Arok, Kebo Ijo langsung menentengnya tanpa tahu kalau keris itu bekas membunuh orang.

Dengan demikian, semua orang mengira pembunuh Tunggul Ametung dan Mpu Gandring adalah Kebo Ijo. Alhasil, berakhirlah hidup Kebo Ijo yang dijadikan kambing hitam Ken Arok.

Sementara Ken Arok, sukses jadi penguasa Tumapel sejak tahun 1222. Tumapel disebut juga sebagai Kerajaan Singhasari yang menjadikan Ken Arok sebagai raja pertamanya.

Setelahnya, ambisi pria kelahiran 1182 itu tak selesai. Dia bernafsu menguasai seluruh wilayah Jawa Timur. Maka, dia melakukan pemberontakan kepada Kerajaan Kediri (1042-1222).

Singkat cerita, pemberontakan berhasil dimenangkan. Kerajaan Kediri runtuh dan wilayah kekuasaan Ken Arok meluas.

Ini menjadikannya sebagai penguasa wilayah Jawa Timur pada awal abad ke-13. Kitab Pararaton menyatakan pemerintahan Ken Arok yang dahulu seorang jagoan Tumapel berlangsung selama 20 tahun lebih, yakni sejak tahun 1222 hingga 1247 Masehi.

 

Kehidupan Ken Arok Sendiri Baru Berakhir Pada 1247 M

Jika kamu tidak berani mengambil resiko dan lebih banyak memilih zona nyaman, kamu sulit untuk berkembang. Resiko terbesar adalah tidak mengambil resiko sama sekali, takut mengambil resiko membuat banyak orang melewati kesempatan emas dan keberuntungan.

Sahabat sejati adalah yang menerima kita apa adanya, bukan yang menuntut kita untuk berubah sesuai dengan keinginannya.

Salam sehat, salam bahagia, dan salam semangat selalu, untuk semua saudara-saudaraku dan orang-orang yang telah menjadi seperti saudara sama sendiri.

(Eral Hengki 🙏)

Pos terkait