Jadi Advokat/Lawyer Hanya Profesi Nak

Jadi Advokat/Lawyer Hanya Profesi Nak

 

Bacaan Lainnya

 

Dalam dunia yang riuh oleh opini, berbicara dianggap sebagai tanda kecerdasan. Padahal, tidak semua kata-katanya lahir dari pemahaman; banyak yang muncul hanya dari dorongan ingin terlihat tahu atau ada juga yang mau cari ikut menang saja.

Banyak kebodohan justru menjadi terang bukan karena seseorang kurang tahu, tetapi karena ia terlalu tergesa-gesa memamerkan apa yang ia kira sebagai pengetahuan.

Coba perhatikan: ketika orang bohong, mereka pakai kata “saya” lebih sering, bukan “kita”. Perhatikan bahasa tubuhnya?

Di dunia ini semua orang punya agenda tersembunyi, yang bisa membaca pikiranlah yang akan menang atau yang bertahan menjadi pemenang.

Orang yang bijak tidak takut terlihat bodoh sesaat, karena ia tahu kebodohan sejati adalah menutup diri dari kemungkinan untuk terus belajar, & orang yang paling bodoh lagi, adalah yang menganggap semua masalah di dunia ini bisa diselesaikan dengan uang serta kekuasaan?

Jika kamu ingin hidup bahagia di dunia nak, ikatlah hidupmu pada tujuan, bukan pada benda dan kekuasaan yang semu di dunia ini.

Di dunia ini setiap ada perang besar, ada negara yang menang tapi malah jatuh miskin?

Saat di bangku sekolah mungkin kamu sering diajari kalau perang itu cuma soal “Menang” atau “Kalah”. Tapi sejarah punya rahasia gelap: Menang di medan tempur, belum tentu bisa kuat untuk bertahan.

​Coba kamu intip apa yang terjadi di balik tirai sejarah nak. Pemenang yang “Pecah Kongsi” (Inggris & Prancis).

​Bayangkan saat ada orang yg menang di pemilihan, pasti hatinya & orang-orang yang ada di sekitarnya bermental penjilat akan ikut senang juga, atau saat ada orang menang lomba lari, dapat piala emas, tapi kakinya patah & utang kamu numpuk buat beli sepatu lari.

Itulah Inggris & Prancis setelah Perang Dunia I nak.

​Inggris yang tadinya “Bankir Dunia”, mendadak jadi “Pasien Rawat Inap”. Utangnya membengkak 10 kali lipat! Mereka menang di atas kertas, tapi nyatanya mereka tercekik utang ke Amerika.

Prancis lebih parah, wilayah industrinya rata dengan tanah. Menang? Iya. Makmur apalagi bisa bertahan? Nanti dulu.

 

​Penonton yang Jadi “Raja” (Amerika Serikat & Jepang)

​Nah, ini strategi paling cerdik. Saat Eropa sibuk saling bantai dan membakar rumah sendiri, Amerika berdiri di seberang samudra sambil megang buku catatan utang.

Amerika jualan gandum, baja, & senjata ke siapa pun yang sanggup bayar. Hasilnya? Pusat uang dunia pindah dari London ke Wall Street. Amerika nggak cuma menang perang, mereka beli dunia. Sementara Jepang? Mereka diam-diam mencaplok wilayah di Asia saat penguasa aslinya lagi sibuk berantem di Eropa.

​Sedangkan Jerman nggak cuma kalah nak, tapi dipermalukan lewat Perjanjian Versailles. Mereka disuruh bayar denda yang nggak masuk akal & dipaksa ngaku kalau mereka adalah “biang kerok” tunggal.

​Efeknya? Luka batin ini jadi pupuk buat seorang pria bernama Adolf Hitler. Dia cuma butuh 20 tahun buat ngubah rasa sakit hati rakyatnya jadi mesin perang yang lebih mengerikan.

​Perang dalam bentuk apapun juga itu kayak reset besar-besaran. Imperium tua kayak Austro-Hungaria dan Turki Utsmani langsung lenyap. Rusia yang tadinya dipimpin kaisar, mendadak berubah jadi Uni Soviet yang komunis.

Dunia lama hancur, diganti dengan ideologi baru: Kapitalisme vs Komunisme.

 

​Siapa Pemenang Sejati?

​Setelah debu Perang Dunia II mereda, cuma ada satu negara yg berdiri paling tegak: Amerika Serikat.

Mereka pegang separuh cadangan emas dunia. Dolar jadi raja mata uang. Lewat Marshall Plan, mereka kasih bantuan ke Eropa—bukan cuma karena baik hati, tapi supaya Eropa “nurut” sama mereka.

Kesimpulannya;
Perang jarang sekali menguntungkan orang yang ada di garis depan atau orang yang menjadi target dalam perang, kalau lambat berpikir dan hanya menunggu keberuntungan serta pasrah saja.

Keuntungan sejati justru didapat oleh mereka yang berani membayar mahal dengan memakai tangan orang lain, & mereka berada cukup jauh dari ledakan untuk tetap membangun kerajaan mereka kembali secara perlahan-perlahan.

​Sejarah selalu akan berulang kalau orang-orang yang menjadi tujuan dan target dalam perang lambat berpikir atau terlalu takut berkorban tenaga maupun materi, sebagaimana pengorbanannya saat ingin menang dulu.

Dan kalau kamu perhatikan konflik geopolitik dunia secara cermat hari ini nak, kamu akan melihat pola yang sama sedang dimainkan dalam setiap peperangan, ekonomi, politik, dll?

Salam sehat selalu untuk semuanya di manapun berada.

(Hengki Eral 🙏)

Pos terkait