Opini
Akibat Kemiskinan & Cuci Uang Para Koruptor?
Kemiskinan bukan skenario Tuhan, tapi akibat pikiran manusia itu sendiri yg mudah silau melihat bungkus luarnya saja selama ini.
Keberanian menjadi faktor kunci dalam menciptakan perubahan, jika hanya berdoa & berharap tanpa bertindak, maka status quo akan tetap bertahan, & mereka yang berkuasa akan terus menikmati keuntungan dari sistem yg tidak adil?
Kalau dunia ini katanya bisa di atur dengan kekuasaan, jabatan, pangkat, &uang, kenapa masih ada raja2 kecil yg di ott & ada juga para aparat hukum yg dihukum?. Dunia ini bukan di atur oleh kekuasaan & uang, tapi dunia ini diatur oleh strategi & pengalaman.
Dirimu, nasibmu, & dunia tidak berubah hanya dengan menginginkannya. Kamu harus memiliki keberanian untuk menghadapi risiko, karena sukses itu tergantung niat & usahamu bukan tergantung dengan seberapa tinggi sekolahmu.
Demokrasi adalah sistim dimana orang-orang dihitung bukan ditimbang
Salah satu keangkuhan spiritual adalah saat orang berpikir bahwa mereka bisa bahagia tanpa uang. Media adalah bagian dari sistim yg dirancang untuk rakyat merasa nyaman dengan ketidaktahuannya?
Terkadang kita memang harus berani mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan yang lebih dari apa yg kebanyakan orang pikirkan. Dalam kehidupan, potongan2 dapat berubah posisi dengan setiap gerakan waktu: apakah selama Anda hanya mau terlihat penuh energi & impian2, tapi hanya jadi penonton saja dari pinggir lapangan.
Hanya ikan mati yang terbawa arus
hanya daun gugur yang terbawa angin.
Manusia harus memiliki keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Berpikirlah dalam & luas, tapi saat berbicara, gunakanlah bahasa yg mudah dipahami atau bahasa yg paling sederhana.
Banyak orang terjebak dalam dua ekstrem: ada yang berpikir dangkal tapi bicara bertele-tele, padahal kecerdasan sejati bukan soal menunjukkan betapa rumitnya pemikiran kita, tapi bagaimana membuat pemikiran itu bisa dipahami orang lain. Karena Orang yg paham soal kehidupan dunia & alam setelah dunia mau kemana, mereka tidak butuh kata2 sulit untuk terdengar pintar. Justru semakin seseorang paham suatu hal, semakin sederhana ia bisa menjelaskannya.
Orang-orang yabg terbiasa dengan pilihan terbatas, cenderung akan berpikir sempit.
Pendidikan disekolah2 atau diperguruan tinggi yg hanya mengandalkan hapalan, teori & pilihan ganda, bisa menghambat daya kritis, karena tidak melatih kemampuan berpikir untuk terjun ke hutan belantara yg penuh dengan segala bentuk binatang buas, orang2 yg terbiasa dengan pilihan terbatas, akhirnya hanya bisa berlindung dibalik makhluk yg bernama manusia juga. Padahal berlindung dibalik manusia itu, mau setinggi apapun pangkat atau jabatan tempat manusia itu berlindung, akan mudah dihancurkan dengan strategi, akal & pengalaman.
Allah Swt berfirman;
Perumpamaan orang2 yg mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba2 yg membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yg paling lemah ialah rumah laba2, sekiranya mereka mengetahui.( Al-Quran. 29:41).
Karena sarang laba2 adalah sarang yg paling, mereka terlihat gagah & kuat dimata orang2 yg tidak mengetahui hakikatnya, padahal mereka hanya meminta perlindungan kepada yg lemah juga.
Bayangkan seseorang tiba-tiba kaya mendadak. Bukan karena inovasi, bukan karena kerja keras, melainkan karena menilap uang publik. Di titik ini, masalah terbesar justru bukan bagaimana menghabiskan uang, tapi bagaimana menjelaskan asal-usulnya.
Uang dari hasil maling uang negara itu ibarat durian runtuh, wangi menggoda, tapi durinya siap menusuk kapan saja & hanya tinggal menunggu waktunya saja.
Di era sistem keuangan modern, uang tidak lagi sekedar alat tukar. Ia punya jejak, pola, & cerita. Ketika cerita itu tidak selaras dengan profil pajak, pekerjaan, dan gaya hidup, alarm negara berbunyi. Dan bunyinya tidak pernah lirih.
Secara konseptual, pencucian uang bukan soal “menghilangkan” uang kotor, melainkan mengubah narasi asal-usulnya. Dari hasil kejahatan menjadi seolah-olah hasil usaha. Dari rampokan uang rakyat menjadi “prestasi bisnis”.
Skemanya di mana-mana mirip:
uang diselipkan ke sistem → diputar2 agar jejaknya kabur → lalu kembali dengan wajah baru yg terlihat sah.
Bukan karena hukum bodoh, tapi karena pelakunya berharap kelelahan penegak hukum lebih dulu datang.
Bisnis sebagai topeng moral..
Dalam banyak kasus, bisnis digunakan bukan untuk mencipta nilai, melainkan sebagai mesin legitimasi. Usaha yang terlihat wajar, ramai, dan “masuk akal” secara sosial sering dijadikan alasan formal atas aliran uang yang sebenarnya tidak pernah lahir dari transaksi nyata.
Di sini, laporan keuangan bukan alat transparansi, tapi naskah drama. Angka2 disulap agar terlihat hidup. Keuntungan bukan tujuan utama, yang penting uang punya pintu masuk ke sistem resmi.
Uang kemudian “diajari lupa” dari mana ia berasal. Ia berpindah, berganti bentuk, menyeberang batas, menyamar sebagai aset, lalu kembali sebagai hasil jual-beli.
Bukan karena uang itu berubah hakikat, tapi karena manusia berharap hukum kehabisan napas mengejarnya.
Ironisnya, semakin rumit labirinnya, semakin jelas niat menyembunyikannya. Uang jujur tidak perlu disuruh berputar2 untuk membuktikan dirinya halal.
Di level elit, muncul apa yg disebut perusahaan cangkang, entitas legal tanpa aktivitas riil. Ia ada di atas kertas, tapi hampa di dunia nyata. Bisnis para koruptor jenis ini bukan dibangun untuk berdagang, melainkan untuk menampung kebohongan yang rapi.
Skandal global seperti Panama Papers & Pandora Papers membuktikan bahwa praktik ini bukan teori konspirasi. Ia nyata, sistemik, & melibatkan mereka yg justru sering bicara soal moral & bicara soal kemiskinan di atas panggung
Namun sejarah juga mencatat: hampir semua “skema itu” akhirnya runtuh oleh satu hal sederhana, pertukaran data & waktu. Sistem boleh dibohongi sesaat, tapi arsip tidak pernah lupa. Tahap paling ironis adalah ketika uang hasil korupsi kembali ke negeri sendiri dengan status terhormat: investasi, modal, atau prestasi bisnis.
Pelaku dipuji sebagai pengusaha, dipanggil narasumber, bahkan dijadikan teladan.
Padahal sesungguhnya, itu hanya uang rakyat yang pulang dengan topeng baru.
Sepintar apa pun skema disusun, satu hal tidak berubah:
kekayaan yang tidak sebanding dengan kontribusi pajak & kerja nyata selalu mudah di pelajari oleh orang yg paham sistim, & kapan pun bisa dibuka untuk dijadikan isu nasional.
Di era pertukaran data global, negara-negara semakin sulit dibohongi. Rekening lintas batas bukan lagi tempat aman. Waktu kini berpihak pada pembuktian, bukan pada pelarian.
Dan pada akhirnya, rompi oranye bukan sekedar simbol hukuman.
Ia adalah pengingat bahwa uang hasil korupsi mungkin bisa diputar, tapi sejarah tidak bisa dicuci.
Salam sehat selalu untuk semuanya dimanapun berada.
By: Eral Hengki 🙏






